Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya
BAB 46 : MAA, LAA, LAATA & IN YANG BERAMAL SEPERTI LAISA
(ما ولا ولات وإن المشبهات بليس)
46.1. HURUF MAA NAFIYAH (ما النافية)
A. Pengamalan Maa Nafi (ما النافية)
1. Pendapat Bani Tamim.Huruf Maa Nafiyah tidak bisa beramal karena Maa Nafiyah merupakan huruf yang bisa masuk pada isim dan fi’il. Contoh: (مَا زَيْدٌ قَائِمٌ) (مَا يَقُوْمُ زَيْدٌ). Sedang huruf yang bisa masuk pada isim dan fi’il tidak bisa beramal.
2. Pendapat Ahli Hijaz.Huruf Maa Nafiyah bisa beramal seperti Laisa yaitu me-rafa’-kan isim dan me-nashab-kan khabar, karena Maa Nafiyah ada kesamaan dengan Laisa di dalam me-nafi-kan hal ketika dimutlakkan. Contoh: (مَا زَيْدٌ قَائِمًا) (مَا هذَا بَشَرًا).[1]
B. Syarat-syarat Maa Nafiyah Beramal
1. Setelahnya Maa Nafiyah (ما) tidak diberi huruf In Ziyadah (إن).Contoh: (مَا إِنْ زَيْدٌ قَائِمٌ).[2] Jika setelah Maa Nafiyah terdapat huruf In Ziyadah, maka tidak bisa beramal seperti Laisa (ليس) karena kesamaannya dengan Laisa (ليس) menjadi jauh. Seperti contoh di atas dengan membaca rafa’ (قائم), dengan tidak boleh membacanya nashab. Jika In (إن) tidak ada Ziyadah, tetapi In untuk taukid, maka Maa Nafiyah tetap beramal.
2. Nafi’-nya tetap, tidak dirusak dengan huruf Illa (إلا).Jika dirusak dengan Illa (إلا) maka tidak bisa beramal. Contoh: (مَا زَيْدٌ إِلَّا قَائِمٌ) (مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا) (وَمَا أَنَا إَلَّا نَذِيْرٌ).[3]
3. Tartib-nya ma’mul, khabar-nya tidak mendahului isim-nya.Jika khabar-nya mendahului isim-nya, maka Maa Nafiyah tidak bisa beramal. Contoh: (مَا قَائِمٌ زَيْدٌ) tidak boleh diucapkan (مَا قَائِمًا زَيْدٌ). Jika khabar-nya berupa zharaf atau jar majrur, maka terdapat dua pendapat, pertama Maa Nafiyah beramal, jar majrur dan zharaf-nya mahal nashab. Contoh: (مَا عِنْدَكَ عَمْرُو مَا فِي الدَارِ زَيْدٌ). Kedua, Maa Nafiyah tidak beramal, sedang jar majrur dan zharaf keduanya menjadi khabar dari mubtada’ yang berada setelahnya.
4. Ma’mul-nya khabar selain zharaf dan jar majrur yang mendahului isim-nya.Jika mendahului isim-nya, maka tidak beramal. Contoh: (طَعَامَكَ زَيْدٌ آكِلٌ) tidak boleh diucapkan (مَا طَعَامَكَ زَيْدٌ آكِلًا). Jika ma’mul-nya khabar berupa zharaf atau jar majrur dan didahulukan dari isim-nya Maa Nafiyah, maka Maa Nafiyah tetap bisa beramal karena keduanya diberi kelonggaran yang tidak diberikan kepada lainnya. Contoh: (مَا عِنْدَكَ زَيْدٌ مُقِيْمًا).
5. Maa Nafiyah tidak diulang. Jika diulang, maka tidak bisa beramal, karena Maa Nafiyah yang kedua me-nafi-kan yang pertama, maka hukumnya menjadi itsbat, sehingga tidak ada kesamaan dengan Laisa (ليس) yang me-nafi-kan hal. Contoh: (مَا مَا زَيْدٌ قَائِمٌ) tidak boleh (مَا مَا زَيْدٌ قَائِمًا). Jika Maa Nafiyah yang kedua dilakukan ziyadah, maka perkataannya nafi’ dan Maa Nafiyah tidak bisa beramal seperti jika setelahnya terdapat In Ziyadah. Apabila Maa Nafiyah yang kedua untuk men-taukid-kan Maa Nafiyah yang pertama, maka tetap bisa beramal. Contoh: (لَا يُنْسِكَ الأَسَى تَأَسِيًافَمَا # مَا مِنْ حِمَامٍ أَحَدٌ مُسْتَعْصِيًا).[4]
6. Apabila khabar-nya tidak diberi badal suatu yang tidak nafi’. Jika di-bada’-i dengan lafaz yang nafi’, maka Maa Nafiyah tidak beramal. Contoh: (مَا زَيْدٌ بِشَيْءٍ إِلَّا بِشَيْءٍ لَا يُعْبَأْ بِهِ). Lafaz (بشيء) pada tempatnya lafaz yang dibaca rafa’ menjadi khabar dari mubtada’ (زيد), tidak boleh pada tempatnya lafaz yang dibaca nashab menjadi khabar dari Maa Nafiyah.
C. Jika setelah khabar Maa Nafiyah terdapat huruf athaf, maka hukum ma’thuf-nya adalah:
1. Jika huruf athaf-nya menetapkan perkataannya setelah perkataan tidak nafi’ seperti huruf (لكن) dan (بل), maka lafaz yang di-athaf-kan (ma’thuf) wajib dibaca rafa’, menjadi khabar dari mubtada’ yang dibuang, karena Maa Nafiyah tidak beramal kecuali dalam perkataan yang di-nafi-kan. Contoh: (مَا زَيْدٌ قَائِمًا لَكِنْ قَاعِدٌ) taqdir-nya (لَكِنْ هُوَ قَاعِدٌ), (مَا زَيْدٌ قَائِمًا بَلْ قَاعِدٌ) taqdir-nya (بَلْ هُوَ قَاعِدٌ).[5]
2. Jika huruf athaf-nya tidak menetapkan perkataannya menjadi perkataan tidak nafi’,maka ma’thuf-nya diperbolehkan dua bentuk, yaitu dibaca nashab dan dibaca rafa’, sedangkan pendapat yang dipilih adalah dibaca nashab. Contoh: (مَا زَيْدٌ قَائِمًا وَلَا قَاعِدًا) boleh diucapkan (مَا زَيْدٌ قَائِمًا وَلَا قَاعِدٌ) yang taqdir-nya (وَلَا هُوَ قَاعِدٌ).
D. Penambahan huruf Ba’ dalam khabar. Huruf Jar Ba’ hukumnya banyak dilakukan sebagai huruf Ziyadah yang diletakkan pada khabar, yaitu:
E. Penambahan huruf Ba’ dalam khabar terdapat hukum lainnya, yaitu:
1. Jika terletak setelah Laa (لا). Contoh: (لَا رَجُلٌ بِقَائِمٍ).
2. Jika terletak setelah fi’il mudhari’-nya lafaz (يكون) yang di-nafi-kan dengan Lam.Contoh: (وَإِنْ مُدَّتْ الأَيْدِي إِلَى الزَادِ لَمْ أَكُنْ # بِأَعْجَلِهِمْ إِذْ أَشْجَعُ القَوْمِ أَعْجَلُ).[8]
46.2. HURUF LAA NAFIYAH (لا النافية)
A. Pendapat Ahli Tamim,huruf Laa Nafiyah tidak beramal. Contoh: (لَا رَجُلٌ أَفْضَلُ مِنْكَ).
B. Pendapat Ahli Hijaz,huruf Laa Nafiyah beramal seperti Laisa (ليس) yaitu me-rafa’-kan isim-nya dan me-nashab-kan khabar-nya dengan syarat:
1. Isim dan khabar-nya berupa isim nakirah.Karena Laa Nafiyah ketika dimutlakkan yang utama untuk me-nafi-kan jenis dan yang tidak utama untuk me-nafi-kan satu perkara dan keduanya itu lebih sesuai dengan isim nakirah. Contoh: (تَعَزَّ فَلَا شَيْءٌ عَلَى الأَرْضِ بَاقِيًا # وَلَا وَزَرٌ مِمَّا قَضَى اللهُ وَاقِيًا).[9]
2. Khabar-nya tidak mendahului isim-nya. Contoh: (لَا رَجُلٌ قَائِمًا) tidak boleh diucapkan (لَا قَائِمًا رَجُلٌ).
3. Nafi-nya tidak dirusak dengan huruf Illa (إلا).Maka tidak boleh mengucapkan (لَا رَجُلٌ إَلَّا أَفْضَلَ مِنْ زَيْدٍ) dengan membaca nashab (أفضل), tetapi wajib membaca rafa’.
46.3. HURUF IN NAFIYAH (إن النافية)
A. Pendapat Ahli Basrah dan Imam Farra’, huruf In Nafiyah tidak bisa beramal. Contoh: (إِنْ زَيْدٌ قَائِمٌ).
B. Pendapat Ahli Kufah, Imam Mubarrad, Abu Ali Alfirisi dan Imam Malikmenyatakan bahwa In Nafiyah bisa beramal seperti (ليس) yaitu me-rafa’-kan isim dan me-nashab-kan khabar-nya dan tidak disyaratkan pada isim dan khabar-nya berupa isim nakirah, tetapi bisa beramal pada isim nakirah dan isim ma’rifah. Contoh: (إِنْ رَجُلٌ قَائِمًا) (إِنْ زَيْدٌ القَائِمَ).
46.4. HURUF LAATA (حرف لات)
A. Huruf Laata bisa beramal seperti Laisa (ليس) hanya terjadi pada lafaz (حين) dan lafaz-lafaz yang sama dengan lafaz (حين),yaitu lafaz yang menunjukkan arti zaman, seperti lafaz (ساعة) dan (أوان). Contoh: (لَاتَ حِيْنَ مَنَاصٍ) taqdir-nya (لَاتَ الِحْينُ حِيْنَ مَنَاصٍ).[10]
B. Isim-nya Laata yang dibaca rafa’ paling banyak dibuang dan menetapkan khabar-nya sajaseperti contoh di atas.
C. Apabila yang dibuang khabar-nya dan menetapkan isim-nya maka taqdir-nya menjadi (وَلَا حِيْنُ مَنَاصٍ مَوْجُوْدًا لَهُمْ).
D. Lafaz Laata asalnya Laa Nafiyah, kemudian ditambahkan dengan Ta’ Ta’nits.
[3] Tidak ada Zaid kecuali orang yang berdiri/Tidak ada kalian (para Rasul) kecuali manusia/Bukanlah saya kecuali orang yang menakut-nakuti.
[5] Zaid bukan orang yang berdiri, tetapi orang yang duduk/Zaid bukan orang yang berdiri, bahkan orang yang duduk.
[8] Apabila tangan-tangan manusia telah diulurkan untuk memberi bekal, maka saya bukan orang yang paling tergesa-gesa, karena paling rakusnya kaum adalah yang paling tergesa-gesa.
[9] Bersabarlah! Tidak ada sesuatupun di muka bumi ini yang abadi dan tidak ada tempat berlindung yang bisa menjaga dari sesuatu yang telah ditakdirkan Allah.
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########

