Pusat Belajar Bahasa Arab - Ilmu Alat : Nahwu (Bab Al-Asma' Al-Khamsah & As-Sittah)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya


Materi & Soal - Nahwu, Sharaf, I'rab & TOAFL Tes Seleksi Timur Tengah



BAB 22 : AL-ASMA’ AL-KHAMSAH & AS-SITTAH (الأسماء الخمسة والستة)

22.1. PENGERTIAN (تعريف الأسماء الخمسة)
                Al-Asma’ Al-Khamsah adalah setiap isim mu’rab yang diakhiri huruf ilat yang menyesuaikan dengan harakat sebelumnya. Yang dimaksud dengan huruf ilat yang menyesuaikan harakat sebelumnya adalah wawu bila sebelumnya dhammah, alif bila sebelumnya fathah, dan ya’ bila sebelumnya kasrah. Adapun kelima isim tersebut adalah (اَبٌ – اَخٌ – حَمٌ – فُوْ - ذُوْ). Kata (اَبٌ) artinya ayah, (اَخٌ) artinya saudara, (حَمٌ) artinya paman, (فُوْ) artinya mulut, dan (ذُوْ) artinya yang mempunyai.

22.2. SYARAT-SYARAT AL-ASMA’ AL-KHAMSAH (الشروط للأسماء الخمسة)
A.     Wajib Idhafah/Mudhaf, yaitu isim lima ini harus ada dalam sebuah kata yang di-idhafah-kan dengan kata yang lain, karena jika tidak demikian maka di-i’rab dengan harakat zahirnya. Contoh: (هَذَا أَبٌ وَرَأَيْتُ أَبًا وَمَرَرْتُ بِأَبٍ) (إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا) (وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ) (قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ)
B.    Tidak boleh ada Ya’ Mutakallim. Apabila di-idhafah-kan dengan Ya’ Mutakallim maka tidak termasuk isim lima. Contoh: (هَذَا أَبِيْ وَرَأَيْتُ أَبِيْ وَمَرَرْتُ بِأَبِيْ) (وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا) (إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ) (فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا)
C.     Wajib Mufrad,bila di-tatsniyah-kan atau di-jamak-kan, maka tidak termasuk isim lima ini, karena jika tidak demikian maka di-i’rab dengan harakat zahirnya. Contoh: (هَذَا آبَاءُهُمْ وَرَأَيْتُ آبَاءَهُمْوَمَرَرْتُ بِآبَائِهِمْ) (آبَاؤُكُمْوَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا) (هَذَانِ أَبَوَازَيْدٍ وَرَأَيْتُ أَبَوَيْهِ وَمَرَرْتُ بِأَبَوَيْهِ) (وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ)
D.    Wajib Mukabbar,yaitu tidak dalam bentuk Tashghir, karena jika tidak demikian maka di-i’rab dengan harakat zahirnya. Contoh: (هَذَا أُبَيُّ زَيْدٍ وَذُوَيُّ مَالٍ) (وَرَأَيْتُ أُبَيَّ زَيْدٍ وَذُوَيَّ مَالٍ) (ومررت بِأُبَيِّزَيْدٍ وَذُوَيِّ مَالٍ)
E.     Khusus lafaz (ذُوْ) harus bermakna (صَاحِبٌ)artinya mempunyai atau memiliki dan tidak di-idhafah-kan ke dhamir.
1.     Ketika lafaz (ذُوْ) tidak bermakna pemilik maka keluar dari persyaratan ini. Lafaz (ذُوْ) di sini adalah isim maushul yang memiliki makna seperti (الذي). I’rab lafaz (ذُوْ) disini tetap/mabni baik dalam keadaan rafa’, nashab dan jar-nya. Contoh: (جَاءَنِيْ ذُوْ قَامَ , رَأيْتُ ذُو قَامَ , مَرَرْتُ بِذُو قَامَ)
2.     Ketika lafaz (ذُوْ) disandarkan kepada sifat juga akan keluar dari persyaratan ini. Contoh: (جَاءَ ذُوْ قَائِمٍ)
F.     Lafaz (فَمٌ) harus dibuang mim-nya dan apabila mim-nya masih tetap maka hukum i’rab-nya kembali ke asal yaitu isim mufrad. Contoh: (هَذَا فَمٌ, رَأيْتُ فَمًا, نَظَرْتُ إلىَ فَمٍ)

22.3. AL-ASMA’ AS-SITTAH (الأسماء الستة)
A.     Isim keenam adalah lafaz (هَنُ) yang bermakna kiasan untuk anggota badan yang kadang berkonotasi buruk, atau juga kadang dapat diterjemahkan sebagai kemaluan atau tergantung konteks kalimatnya.
B.    Lafaz (هَنُ) lebih baik di-i’rab Naqsh,yaitu kurang atau tanpa menyertakan huruf illah (و - ا - ي) sebagai tanda i’rab-nya. Contoh: (هَذَا هَنُ زَيْدٍ وَرَأَيْتُ هَنَزَيْدٍ وَمَرَرْتُ بِهَنِ زَيْدٍ) dalam hadis disebutkan (مَنْ تَعَزَّى بِعَزَاءِ الْجَاهِليَّةِ فَأَعِضُّوهُ بِهَنِ أَبِيْهِ وَلاَ تَكْنُوْا)
C.     Contoh i’rab itmam yang jarang dipakai untuk lafaz (هَنُ)yaitu (هَذَا هَنُوْهُ وَرَأَيْتُ هَنَاهُ وَنَظَرْتُ إلَى هَنِيْهِ). Pendapat Imam Abu Zakariya Al-Farra’ yang mana beliau mengingkari terhadap kebolehan i’rab itmam untuk lafaz (هَنُ), namun ini ditentang oleh Imam Syibawaeh dengan hikayah orang-orang Arab yang meng-itmam-kan lafaz (هَنُ). Demikian juga hujah para Ulama nahwu lain yang memelihara terhadap aksen Bahasa Arab tentang (هَنُ) dengan di-itmam.

22.4. I’RAB AL-ASMA’ AL-KHAMSAH (إعراب الأسماء الخمسة)
A.     Ketika dalam keadaan marfu’/rafa’, di-rafa’ dengan wawu (و).Contoh: (هذَا أَبُوْكَ وَأَخُوْكَ وَحَمُوْكَ وَفُوْكَ وَذُوْ مَالِ)
B.    Ketika dalam keadaan manshub/nashab, di-nashab dengan alif (ا).Contoh: (رَأَيْتُ أَبَاكَ وَأَخَاكَ وَحَمَاكَ وَفَاكَ وَذَا مَالِ)
C.     Ketika dalam keadaan majrur/jar, di-jar dengan ya’ (ي).Contoh: (مِنْ أَبِيْكَ وَأَخِيْكَ وَحَمِيْكَ وَفِيْكَ وَذِيْ مَالِ)

22.5. I’RAB ITMAM, QASHR DAN NAQSH DALAM AL-ASMA’ AS-SITTAH (إعراب الإتمام والقصر والنقص للأسماء الستة)
A.     Itmam (sempurna) adalah i’rab dengan menyertakan huruf illah (و - ا - ي).Contoh: (هَذَا أَبُوْهُ وَأَخُوْهُ وَحَمُوْهَا) (رَأَيْتُ أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا) (مَرَرْتُ بِأَبِيْهِ وَأَخِيْهِ وَحَمِيْهَا)
B.    Qashr (ringkas) adalah tetap dengan tanda Alif baik pada Rafa’, Nashab dan Jar-nya.Atau semua i’rab-nya dikira-kira atas Alif dan disebut I’rab Qashr. Sebagaimana i’rab untuk isim-isim Maqshur. Aksen seperti ini, dikalangan orang Arab (tepatnya oleh Bani Harits, Bani Khats’am dan Bani Zubaid) lebih masyhur dipakai daripada I’rab Naqsh. Contoh: (هَذَا أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا) (رَأَيْتُ أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا) (مَرَرْتُ بِأَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا)
C.     Naqsh (cacat/kurang) adalah dengan membuang wawu, alif dan ya’ atau dengan di-irab harakah zhahir. Contoh: (هَذَا أَبُهُ وَأَخُهُ وَحَمُهَا) (رَأَيْتُ أَبَهُ وَأَخَهُ وَحَمَهَا) (مَرَرْتُ بِأَبِهِ وَأَخِهِ وَحَمِهَا)
D.    Ketiga tanda i’rab, yaitu marfu’ dengan wawu, manshub dengan alif, dan majrur dengan ya’, biasa disebut dengan tanda i’rab itmam untuk al-asma’ as-sittah. I’rab ini adalah tanda i’rab yang paling masyhur untuk al-asma’ as-sittah dalam dialek Bahasa Arab, kecuali untuk lafaz (هَنُ). Lafaz (هَنُ) lebih masyhur di-i’rab dengan harakat, yaitu marfu’ dengan dhammah, manshub dengan fathah, dan majrur dengan kasrah, disebut juga dengan i’rab naqsh. Karena itu, sebagian ahli nahwu hanya menyebutkan lima isim selain (هَنُ) dan menyebutnya sebagai al-asma’ al-Khamsah (isim-isim yang lima).
E.     Dalam dialek lain, al-asma’ as-sittah di-i’rab dengan i’rab qashr. Dalam i’rab ini, al-asma’ as-sittah di-i’rab dengan alif untuk semua keadaan (marfu’, manshub, maupun majrur). Contoh: (حَضَرَ أَخَاكَ - Lafaz yang ada di kalimat ini marfu’ karena kedudukannya sebagai Fa’il dengan tanda rafa’ dhammah muqoddarah di atas alif). Contoh lain: (صَافَحْتُ أَخَاكَ - Lafaz yang ada di kalimat ini manshub karena kedudukannya sebagai maf’ul bih dengan tanda nashab fathah muqoddarah di atas alif). Contoh lain: (مَرَرْتُ بِأَخَاكَ - Lafaz yang ada di kalimat ini majrur karena kedudukannya sebagai jar dengan tanda jar kasrah muqoddarah di atas alif).
F.     Dialek ketiga untuk i’rab al-asma’ as-sittah yaitu di-i’rab dengan i’rab naqsh. Dalam i’rab ini, al-asma’ as-sittah di-i’rab dengan harakat zahir karena huruf ‘illah dihapus. Contoh: (هَذَا أَبُكَ - Lafaz yang ada di kalimat ini marfu’ karena kedudukannya sebagai khabar dengan tanda rafa’ dhammah). Contoh lain: (رَأَيْتُ أَبَكَ - Lafaz yang ada di kalimat ini manshub karena kedudukannya sebagai maf’ul bih dengan tanda nashab fathah). Contoh lain: (مَرَرْتُ بِأَبِكَ - Lafaz yang ada di kalimat ini majrur karena kedudukannya sebagai jar dengan tanda jar kasrah)
G.    I’rab naqsh ini adalah i’rab yang lebih fasih untuk lafaz (هَنٌ).Sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: (مَنْ تَعَزَّى بِعَزَاءِ الْجَاهِليَّةِ فَأَعِضُّوهُ بِهَنِ أَبِيْهِ وَلاَ تَكْنُوْا)
H.    Lafaz (فَمٌ) dapat di-i’rab itmam ketika dihilangkan huruf mim-nya. Contoh: (يَنْطِقُ فُوْكَ بِالْحِكْمَةِ). Lafaz (فَمٌ) ada dalam kedudukan marfu’ sebagai Fa’il dengan tanda rafa’ wawu. Namun ketika huruf mim dimunculkan, maka isim tersebut di-i’rab dengan harakat. Contoh lain: (فَمُكَنَظِيْفٌ). Lafaz (فَمٌ) ada dalam kedudukan marfu’ sebagai mubtada’ dengan tanda rafa’ dhammah.
I.      Dilihat dari ketiga dialek ini, maka al-asma’ as-sittah dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.     Berlaku padanya satu dialek saja, yaitu isim (ذُوْ) dan (فُوْ).Kedua isim ini hanya dapat di-i’rab dengan itmam.
2.     Berlaku padanya dua dialek, yaitu isim (هَنٌ).Isim ini dapat di-i’rab dengan itmam ataupun naqsh. I’rab naqsh adalah yang lebih fasih untuk isim ini.
3.     Berlaku padanya tiga dialek, yaitu isim (أَخٌ) (أَبٌ) dan (حَمٌ).Ketiga isim ini dapat di-i’rab dengan itmam, qashr, maupun naqsh. Namun i’rab qashr dan naqsh jarang ditemui pada isim-isim ini.



PEMBAHASAN ILMU NAHWU TERLENGKAP : klik disini


Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab


The Indonesiana Center - Markaz BSI (Bait Syariah Indonesia)


##########
 
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi  Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########