Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya
BAB 36 : AL-IKHTISHASH (الاختصاص)
36.1. PENGERTIAN (تعريف الاختصاص)
Ikhtishash adalah kata yang disebutkan padanya isim zahir, biasanya setelah dhamir mutakallim (mufrad atau jamak) atau dhamir mukhatab tapi jarang dipakai serta menerangkan maksud dari dhamir tersebut. Atau mengkhususkan/meringkaskan hukum pada dhamir selain ghaib dan sesudahnya ada isim zhahir ma’rifat yang menjadi makna dari isim dhamir tersebut. Dengan pengertian lain yaitu me-nashab-kan isim dengan fi’il yang wajib dibuang dengan penakdiran (أَخُصُّ) atau (أَعْنِي), dan isim itu haruslah jatuh setelah dhamir yang digunakan untuk menjelaskan yang diinginkan darinya dan meringkas hukum yang dimiliki oleh dhamir.
Contoh: (نَحْنُ الْعَرَبَ نُكْرِمُ الضَّيْفَ).[1]Isim itu dinamakan dengan Mukhtash. (نَحْنُ) adalah mubtada’, jumlah (نُكْرِمُ الضَّيْفَ) adalah khabar-nya, sedangkan (الْعَرَبَ) adalah isim yang dibaca nashab menjadi ikhtishash dengan fi’il yang dibuang penakdirannya adalah (أَخُصُّ). Dan jumlah dari fi’il yang dibuang menjadi penengah diantara mubtada’ dan khabar. Yang diinginkan dengan pengabaran (نَحْنُ) adalah bukanlah orang Arab tetapi bahwa pemuliaan terhadap tamu hanya terkhusus pada orang Arab. Ketika isim disebutkan setelah dhamir untuk mengabarkannya dan tidak untuk menjelaskannya, maka isim itu dibaca rafa’ karena ketika itu isim tersebut menjadi khabar-nya mubtada’, seperti diucapkan (نَحْنُ الْمُجْتَهِدُونَ). Kebanyakan isim yang masuk dalam bab ini adalah (بَنُو فُلاَنٍ), (مَعْشَرَ) dengan di-idhafah-kan, (اَهْلُ الْبَيْتِ) dan (آلُ فُلاَنٍ).
36.2. SYARAT-SYARAT ISIM YANG DIBACA NASHAB SEBAGAI IKHTISHASH (شروط الاسم المنصوب بالاختصاص)
A. Isim yang di-ma’rifah-kan dengan (ال).Contoh: (نَحْنُ الْعَرَبَ اَوفَى الناَّسِ بِالْعُهُودِ)
B. Isim yang di-idhafah-kan kepada isim ma’rifah.Contoh: (نَحْنُ مَعاَشِرَ الْأَنْبِياَءِ لاَ نُورَثُ ماَ تَرَكْناَهُ صَدَقَةً)
C. Isim alam, namun qalil hukumnya. Contoh: (بِناَ تَمِيْماً يُكْشَفُ الضَّبَابُ). Adapun isim yang di-idhafah-kan kepada isim alam, maka hukumnya adalah tidak qalil, seperti (نَحْنُ بَنِي ضَبَّةَ اَصْحاَبَ الْجَمَلِ). Isim itu tidak boleh berupa isim nakirah atau isim dhamir atau isim isyarah atau isim maushul.
36.3. CONTOH (الأمثلة)
(1) Kalimat (أنا طالب العلم لا تفتر رغبتي);[2] (2) Kalimat (نحن الموقعين على هذا نشهد بكذا وكذا);[3] (3) Kalimat (نحن المسلمين خير أمة أخرجت للناس);[4] (4) Kalimat (أَنَا – الطَّالِبَ – أَتَلَقِّي العِلْمَ);[5] (5) Kalimat (نَحْنُ – الجُنُوْدَ – نُدَافِعُ عَنِ الْوَطَنِ);[6] (6) Kalimat (لَنَا – مَعْشَرَ الْعَرَبِ – مُجِدٌّ قَدِيمٌ);[7] (7) Kalimat (إِنَّنَا – أَيُّهَا الْأَطِبَّاءُ –نُعَالِجُ الْمَرْضَى);[8](8) Kalimat (إني – أيها المسلم – نظيف اليد واللسان);[9](9) Kalimat (إنني – أيتها المسلمة – أُحسنُ الححاب);[10](10) Kalimat (أنا أيها العبد محتاج إلى عفو الله);[11]
Isim yang menjelaskan maksud dhamir (الطَّالِبَ -الجُنُودَ dan مَعْشَرَ العَرَبِ pada contoh di atas) dinamakan makhshush dan selalu manshub sebagai maf’ul bih bagi fi’il yang wajib dihapus tersiratnya (أَخُصُّ). Terkadang isim yang dikhushuskan adalah lafaz (أَيُّهَا - أَيَّتُهَا) setelahnya isim zhahir marfu’. Lafaz (أَيُّ atau أَيَّتُ) di-i’rab sebagai makhshush mabni atas dhammah pada posisi nashab dan isim setelahnya sebagai na’at marfu’. (أَيُّ : Makhshush mabni atas dhammah pada posisi nashab, هَا : Tambahan – الأَطِبَّاءُ : Na’at marfu’ dengan dhammah). Sebagaimana contoh G, H dan I di atas. Sebagaimana disebutkan bahwa tujuan asal ikhtishash adalah sebagai takhshish (penghususan) atau qashr (ringkasan) yang terkadang berfungsi fakhr (kebanggaan) sebagaimana contoh J di atas. Dan terkadang berfungsi tawadhu’ (kerandahan diri).
36.3. KETENTUAN-KETENTUAN LAINNYA (الضوابط الأخرى)
A. Ikhtishash serupa dengan Nida’ dalam keumuman penampakannya, yakni sama-sama menyertakan isim yang kadang di-mabni-kan dhammah dan kadang di-nashab-kan, juga sama berfaidah ikhtishash, dan masing-masing digunakan untuk orang kedua (hadir) tidak untuk orang ketiga (ghaib). Perbedaannya adalah ikhtishash untuk Mutakallim juga Mukhatab, sedangkan Nida’ khusus Mukhatab saja. Ikhtishash tidak menggunakan huruf Nida’ baik secara lafaz dan taqdir. Ikhtishash tidak bisa dijadikan shadr kalam (awalan kalimat) sedangkan Nida’ bisa. Ikhtishash banyak menggunakan (ال) pada isim mukhtash-nya sedangkan Nida’ tidak boleh menggunakan (ال) pada Munada-nya kecuali dalam pengecualian sebagaimana telah disebut pada bab Nida’.
B. Sebab-sebab yang membuat Ikhtishash:
C. Perbedaan Ikhtishash dengan Nida’:
1. Ikhtishash tanpa menggunakan huruf Nida’, baik berupa Ya atau lainnya, baik dalam lafaz atau taqdirnya.
2. Tidak bisa terletak di awal kalam, tetapi berada di tengah kalam, yang paling sering banyak didahului dhamir mutakallim atau terkadang dhamir mukhatab.
3. Harus terdiri dari isim ma’rifah dan yang paling sering berupa lafaz (أيها) dan (أيتها) yang disifati dengan isim yang bersamaan Alif Lam. Contoh: (أَرْجُوْنِي أَيُّهَا الفَتَى). Dan terkadang juga berupa isim yang bersamaan Alif Lam tanpa disertai (أيها) dan (أيتها). Contoh: (نَحْنُ العُرْبَ أَسْخَى مَنْ بَدَلَ). Atau berupa isim yang di-mudhaf-kan pada isim yang bersamaan dengan Alif Lam. Contoh: (نَحْنُ مَعَاشِرَ المُسْلِمِيْنَ مُطَالِبُوْنَ بِطَلَبِ العِلْمِ).
4. Ikhtishash sedikit yang berupa Isim Alam. Contoh: (بِنَا تَمِيْمًا يُكْشَفُ الضَبَابُ).
5. Bila berupa alam dan mufrad dibaca nashab, sedang dalam munada di-mabni-kan dhammah.
6. Ikhtishash lafaznya bersamaan dengan Alif Lam.
7. Lafaz (أي) yang dijadikan ikhtishash tidak disifati, sedang di dalam Nida’ disifati dengan isim isyarah.
[2] Saya -penuntut ilmu- takkan reda semangatku.
[3] Kami -yang bertandatangan dibawah ini- bersaksi demikian dan seterusnya…
[4] Kami -orang-orang Muslim- adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.
[5] Aku -pelajar- menuntut ilmu.
[6] Kami -para tentara- membela tanah air.
[7] Kami –orang arab- mempunyai keseriusan sejak dulu.
[8] Kami –para dokter- mengobati para pasien.
[9]Sesungguhnya saya -sebagai seorang muslim- harus bersih tangan dan ucapan.
[10]Sesungguhnya saya -sebagai seorang muslimah- harus memperbagus hijab (penutupan aurat).
[11]Saya-sebagai seorang hamba- sangat butuh akan Pengampunan Allah.
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########

