Syarah Hadis Sahih Al-Bukhariy Nomor 7 (Kitab Fathu Al-Bariy) : Penjelasan Beriman Tidaknya Raja Rowawi (Heraklius) dan Raja Persia

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ هِرَقْلَ أَرْسَلَ إِلَيْهِ فِي رَكْبٍ مِنْ قُرَيْشٍ وَكَانُوا تِجَارًا بِالشَّأْمِ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَادَّ فِيهَا أَبَا سُفْيَانَ وَكُفَّارَ قُرَيْشٍ فَأَتَوْهُ وَهُمْ بِإِيلِيَاءَ فَدَعَاهُمْ فِي مَجْلِسِهِ وَحَوْلَهُ عُظَمَاءُ الرُّومِ ثُمَّ دَعَاهُمْ وَدَعَا بِتَرْجُمَانِهِ فَقَالَ أَيُّكُمْ أَقْرَبُ نَسَبًا بِهَذَا الرَّجُلِ الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَقُلْتُ أَنَا أَقْرَبُهُمْ نَسَبًا فَقَالَ أَدْنُوهُ مِنِّي وَقَرِّبُوا أَصْحَابَهُ فَاجْعَلُوهُمْ عِنْدَ ظَهْرِهِ ثُمَّ قَالَ لِتَرْجُمَانِهِ قُلْ لَهُمْ إِنِّي سَائِلٌ هَذَا عَنْ هَذَا الرَّجُلِ فَإِنْ كَذَبَنِي فَكَذِّبُوهُ فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ ثُمَّ كَانَ أَوَّلَ مَا سَأَلَنِي عَنْهُ أَنْ قَالَ كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ قُلْتُ هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ قَالَ فَهَلْ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ مِنْكُمْ أَحَدٌ قَطُّ قَبْلَهُ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ لَا قَالَ فَأَشْرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَقُلْتُ بَلْ ضُعَفَاؤُهُمْ قَالَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ قُلْتُ بَلْ يَزِيدُونَ قَالَ فَهَلْ يَرْتَدُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ يَغْدِرُ قُلْتُ لَا وَنَحْنُ مِنْهُ فِي مُدَّةٍ لَا نَدْرِي مَا هُوَ فَاعِلٌ فِيهَا قَالَ وَلَمْ تُمْكِنِّي كَلِمَةٌ أُدْخِلُ فِيهَا شَيْئًا غَيْرُ هَذِهِ الْكَلِمَةِ قَالَ فَهَلْ قَاتَلْتُمُوهُ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ كَانَ قِتَالُكُمْ إِيَّاهُ قُلْتُ الْحَرْبُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ سِجَالٌ يَنَالُ مِنَّا وَنَنَالُ مِنْهُ قَالَ مَاذَا يَأْمُرُكُمْ قُلْتُ يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ فَقَالَ لِلتَّرْجُمَانِ قُلْ لَهُ سَأَلْتُكَ عَنْ نَسَبِهِ فَذَكَرْتَ أَنَّهُ فِيكُمْ ذُو نَسَبٍ فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا وَسَأَلْتُكَ هَلْ قَالَ أَحَدٌ مِنْكُمْ هَذَا الْقَوْلَ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا فَقُلْتُ لَوْ كَانَ أَحَدٌ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ قَبْلَهُ لَقُلْتُ رَجُلٌ يَأْتَسِي بِقَوْلٍ قِيلَ قَبْلَهُ وَسَأَلْتُكَ هَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا قُلْتُ فَلَوْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ رَجُلٌ يَطْلُبُ مُلْكَ أَبِيهِ وَسَأَلْتُكَ هَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا فَقَدْ أَعْرِفُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ لِيَذَرَ الْكَذِبَ عَلَى النَّاسِ وَيَكْذِبَ عَلَى اللَّهِ وَسَأَلْتُكَ أَشْرَافُ النَّاسِ اتَّبَعُوهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمْ اتَّبَعُوهُ وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ وَسَأَلْتُكَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ فَذَكَرْتَ أَنَّهُمْ يَزِيدُونَ وَكَذَلِكَ أَمْرُ الْإِيمَانِ حَتَّى يَتِمَّ وَسَأَلْتُكَ أَيَرْتَدُّ أَحَدٌ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا وَكَذَلِكَ الْإِيمَانُ حِينَ تُخَالِطُ بَشَاشَتُهُ الْقُلُوبَ وَسَأَلْتُكَ هَلْ يَغْدِرُ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ لَا تَغْدِرُ وَسَأَلْتُكَ بِمَا يَأْمُرُكُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّهُ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَيَنْهَاكُمْ عَنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَيَأْمُرُكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ فَإِنْ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا فَسَيَمْلِكُ مَوْضِعَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ وَقَدْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ لَمْ أَكُنْ أَظُنُّ أَنَّهُ مِنْكُمْ فَلَوْ أَنِّي أَعْلَمُ أَنِّي أَخْلُصُ إِلَيْهِ لَتَجَشَّمْتُ لِقَاءَهُ وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمِهِ ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي بَعَثَ بِهِ دِحْيَةُ إِلَى عَظِيمِ بُصْرَى فَدَفَعَهُ إِلَى هِرَقْلَ فَقَرَأَهُ فَإِذَا فِيهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ وَ { يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ }

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi’ dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abdullah bin ‘Abbas telah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya; bahwa Heraklius menerima rombongan dagang Quraisy, yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah di Iliya’ mereka menemui Heraklius atas undangan Heraklius untuk di diajak dialog di majelisnya, yang saat itu Heraklius bersama dengan para pembesar-pembesar Negeri Romawi. Heraklius berbicara dengan mereka melalui penerjemah. Heraklius berkata; Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?. Abu Sufyan berkata; maka aku menjawab; Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia. Heraklius berkata; Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya. Maka mereka meletakkan orang-orang Quraisy berada di belakang Abu Sufyan. Lalu Heraklius berkata melalui penerjemahnya: Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang lelaki yang mengaku sebagai Nabi. Jika ia berdusta kepadaku maka kalian harus mendustakannya. Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta kepadanya. Abu Sufyan berkata; Maka yang pertama ditanyakannya kepadaku tentangnya (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah: bagaimana kedudukan nasabnya ditengah-tengah kalian? Aku jawab: Dia adalah dari keturunan baik-baik (bangsawan) . Tanyanya lagi: Apakah ada orang lain yang pernah mengatakannya sebelum dia? Aku jawab: Tidak ada. Tanyanya lagi: Apakah bapaknya seorang raja? Jawabku: Bukan. Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah? Jawabku: Bahkan yang mengikutinya adalah orang-orang yang rendah. Dia bertanya lagi: Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang? Aku jawab: Bertambah. Dia bertanya lagi: Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol terhadap agamanya? Aku jawab: Tidak ada. Dia bertanya lagi: Apakah kalian pernah mendapatkannya dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya itu? Aku jawab: Tidak pernah. Dia bertanya lagi: Apakah dia pernah berlaku curang? Aku jawab: Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan itu. Berkata Abu Sufyan: Aku tidak mungkin menyampaikan selain ucapan seperti ini. Dia bertanya lagi: Apakah kalian memeranginya? Aku jawab: Iya. Dia bertanya lagi: Bagaimana kesudahan perang tersebut? Aku jawab: Perang antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia mengalahkan kami terkadang kami yang mengalahkan dia. Dia bertanya lagi: Apa yang diperintahkannya kepada kalian? Aku jawab: Dia menyuruh kami; ‘Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. ‘ Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim. Maka Heraklius berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan bangsawan. Begitu juga laki-laki itu dibangkitkan di tengah keturunan kaumnya. Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang mengatakan seperti yang dikatakannya, kamu jawab tidak. Seandainya dikatakan ada orang sebelumnya yang mengatakannya tentu kuanggap orang ini meniru orang sebelumnya yang pernah mengatakan hal serupa. Aku tanyakan juga kepadamu apakah bapaknya ada yang dari keturunan raja, maka kamu jawab tidak. Aku katakan seandainya bapaknya dari keturunan raja, tentu orang ini sedang menuntut kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya, kamu menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Dan aku juga telah bertanya kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah? Kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi pengikut para Rasul. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawabnya bertambah. Dan memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah ada yang murtad disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada. Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang, kamu jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul tidak mungkin curang. Dan aku juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim. Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada diantara kalian sekarang ini, seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya hingga bila aku sudah berada di sisinya pasti aku akan basuh kedua kakinya. Kemudian Heraklius meminta surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dibawa oleh Dihyah untuk para Penguasa Negeri Bashrah, Maka diberikannya surat itu kepada Heraklius, maka dibacanya dan isinya berbunyi: Bismillahir rahmanir rahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya untuk Heraklius. Penguasa Romawi, Salam bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan Islam; masuk Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberi pahala kepadamu dua kali. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyat kamu, dan: Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Rabb selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Abu Sufyan menuturkan: Setelah Heraklius menyampaikan apa yang dikatakannya dan selesai membaca surat tersebut, terjadilah hiruk pikuk dan suara-suara ribut, sehingga mengusir kami. Aku berkata kepada teman-temanku setelah kami diusir keluar; sungguh dia telah diajak kepada urusan Anak Abu Kabsyah. Heraklius mengkhawatirkan kerajaan Romawi.Pada masa itupun aku juga khawatir bahwa Muhammad akan berjaya, sampai akhirnya (perasaan itu hilang setelah) Allah memasukkan aku ke dalam Islam. Dan adalah Ibnu An Nazhur, seorang Pembesar Iliya’ dan Heraklius, adalah seorang uskup agama Nashrani, dia menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Heraklius mengunjungi Iliya’ dia sangat gelisah, berkata sebagian komandan perangnya: Sungguh kami mengingkari keadaanmu. Selanjutnya kata Ibnu Nazhhur, Heraklius adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya; Pada suatu malam ketika saya mengamati perjalanan bintang-bintang, saya melihat raja yang berkhitan telah lahir, siapakah di antara ummat ini yang di khitan? Jawab para pendeta; Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda risau karena orang-orang Yahudi itu. Perintahkan saja keseluruh negeri dalam kerajaan anda, supaya orang-orang Yahudi di negeri tersebut di bunuh. Ketika itu di hadapakan kepada Heraklius seorang utusan raja Bani Ghasssan untuk menceritakan perihal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraklius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhitan ataukah tidak. Seusai di periksa, ternyata memang dia berkhitan. Lalu di beritahukan orang kepada Heraklius. Heraklius bertanya kepada orang tersebut tentang orang-orang Arab yang lainnya, di khitankah mereka ataukah tidak? Dia menjawab; Orang Arab itu di khitan semuanya. Heraklius berkata; ‘inilah raja ummat ini, sesungguhnya dia telah terlahir. Kemudian Heraklius berkirim surat kepada seorang sahabatnya di Roma yang ilmunya setaraf dengan Heraklius (untuk menceritakan perihal kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam). Sementara itu, ia meneruskan perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba di Himsha, balasan surat dari sahabatnya itu telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraklius bahwa Muhammad telah lahir dan bahwa beliau memang seorang Nabi. Heraklius lalu mengundang para pembesar Roma supaya datang ke tempatnya di Himsha, setelah semuanya hadir dalam majlisnya, Heraklius memerintahkan supaya mengunci semua pintu. Kemudian dia berkata; ‘Wahai bangsa rum, maukah anda semua beroleh kemenangan dan kemajuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau, akuilah Muhammad sebagai Nabi!. Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai liar, padahal semua pintu telah terkunci. Melihat keadaan yang demikian, Heraklius jadi putus harapan yang mereka akan beriman (percaya kepada kenabian Muhammad). Lalu di perintahkannya semuanya untuk kembali ke tempatnya masing-masing seraya berkata; Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan saya tadi hanyalah sekedar menguji keteguhan hati anda semua. Kini saya telah melihat keteguhan itu. Lalu mereka sujud di hadapan Heraklius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah Heraklius. Telah di riwayatkan oleh Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma’mar dari Az Zuhri.”

PENJELASAN DALAM KITAB FATHU AL-BARIY

Abu Sufyan bernama Shakhr bin Harb bin Umayah bin Abd Asy-Syams bin Abdi Manaf.

Heraklius adalah raja Romawi, yang bergelar Kaisar, seperti gelar Kisra bagi raja Persia.

Lafaz kalimat (في ركب) (beberapa pasukan). Kata (الركب) adalah bentuk jamak dari (الراكب) yaitu penunggang kuda yang jumlahnya 10 orang atau lebih. Maksud mengutus kepada Abu Sufyan di sini adalah mengutus kepadanya ketika dia bersama rombongannya. Abu Sufyan adalah pimpinan rombongan yang berjumlah sekitar 30 orang, sebagaimana diriwayatkan oleh Hakim dalam Kitab Iklil, sedangkan menurut Ibnu Sakan, jumlahnya sekitar 20 orang termasuk di dalamnya Mughirah bin Syu’bah. Akan tetapi ada perselisihan, karena ada yang mengatakan Mughirah sudah masuk Islam, atau mungkin saja ketika kembali dari raja Heraklius, Mughirah baru masuk Islam.

Dalam riwayat Ibnu Ishaq pada Bab Al-Amwal dari riwayat Abu Ubaidah dari Sa’id bin Musayyab, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim surat kepada Kisra dan Kaisar… ketika Kaisar membaca surat Nabi, dia berkata, “Tulisan seperti ini tidak pernah aku baca.” Kemudian dia memanggil Abu Sufyan bin Harb dan Mughirah bin Syu’bah untuk menanyakan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lafaz kalimat (في المدة) (pada masa) artinya pada masa Hudaibiyah. Kejadian ini terjadi pada tahun ke-6 H, yang berlangsung selama 10 tahun sebagaimana dalam buku-buku sejarah. Sedangkan Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Umar selama 4 tahun, begitu juga Hakim dalam Kitab Al-Mustadrak, tetapi pendapat pertama (10 tahun) lebih masyhur.

Lafaz kalimat (بإيلياء) (di Iliya) ada yang mengatakan artinya adalah Baitullah. Dalam Kitab Jihad karangan Imam Al-Bukhari dikatakan, ketika Herculer mendapat kemenangan dari Raja Kisra, beliau berjalan dari Kota Hamas (Syiria) ke Kota Iliya (Palestina) sebagai tanda syukur kepada Allah Ta’ala. Ibnu Ishak menambahkan bahwa ketika beliau berjalan dihamparkan karpet sepanjang perjalanan yang diberi hiasan dan wangi-wangian. Dalam riwayat Imam Ath-Thabari dikatakan, “Raja Kisra mengirim pasukannya untuk memerangi Rowawi, maka hancurlah seluruh negeri Romawi. Kemudian Raja Kisra menginginkan panglima perangnya yang bernama Syahrabrazi diganti oleh Faruhan serta memerintahkan untuk membunuh Syahrabrazi, maka Syahrabrazi bergabung dengan Herculer yang akhirnya Herculer kembali dapat menaklukan pasukan Persia, maka Hescules berjalan kaki ke Masjidil Aqsha sebagai tanda syukur kepada Allah Ta’ala.

Lafaz kalimat (فدعاهم في مجلسه) (Raja Herculer memanggil mereka ke masjilnya) artinya mereka dipanggil ke hadapan Raja Herculer. Dalam Kitab Al-Jihad dikatakan, “Kami masuk ke tempat Heraklius, ketika itu dia sedang duduk di singgasananya dengan memakai mahkota raja.”

Lafaz kalimat (غظماء) (pembesar-pembesar) Dalam riwayat Ibnu Sakan dikatakan, “Kami masuk ke hadapan Raja Heraklius, dan disampingnya berdiri pembesar Konstantinopel, pendeta-pendeta dan Romawi dari keturunan ‘Aish bin Ishaq bin Ibrahim. Di samping itu ada juga pembesar bangsa Arab dari Tanukh, Bahra’, Salih dan Ghassan, mereka semua penduduk Syam.

Lafaz kalimat (فقلت أنا أقربهم نسبا) (Aku berkata –Abu Sufyan-, aku adalah orang yang paling dekat dengan nasabnya) ini merupakan jawaban Abu Sufyan saat Heraklius memanggil rombongan Abu Sufyan dan para penerjemah kerajaan untuk berkumpul di tempatnya. Heraklius berkata, “Siapa di antara kalian yang lebih dekat nasabnya dengan laki-laki berkebangsaan Arab yang mengaku sebagai Nabi.” Dalam riwayat Ibnu Sakan, mereka mengatakan, “Dia adalah orang yang paling dekat nasabnya, karena dia adalah sepupunya.” Abu Sufyah memang memiliki garis keturunan yang dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ia berasal dari Bani Abdul Manaf. Imam Al-Bukhari menerangkan dalam Kitab Al-Jihad, Heraklius berkata, “Apa hubungan kamu dengannya?” Abu Sufyan berkata, “Dia anak pamanku, dan tidak ada dalam rombongan ini yang berasa dari Bani Abdil Manaf kecuali aku.” Abdi Manaf adalah kakek ke-4 dari Nabi dan Abu Sufyan, dia mengatakan Muhammad sebagai anak pamannya (sepupu) karena keduanya sama-sama cuku bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Ammi Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf. Heraklius menanyakan orang yang lebih dekat nasabnya, karena orang itu pasti lebih mengetahui tentang kepribadian Rasul.

Lafaz kalimat (فاجعلوهم عند ظهره) (Mereka diperintahkan untuk berdiri di belakang Abu Sufyan), dengan tujuan agar Abu Sufyan merasa malu apabila berkata bohong.

Lafaz kalimat (فوالله لولا الحياء أن يؤثروا علي) (Demi Tuhan kalau bukan karena malu yang mencegahku untuk berbohong, maka aku akan berbohong kepadanya). Dari ucapan ini terlihat bagaimana mereka sangat tidak senang dengan kebohongan baik itu menurut ajaran atau kebiasaan mereka. Lafaz (يؤثروا) yang digunakan bukan lafaz (يكذبو) menunjukkan bahwa mereka benar-benar tidak berbohong walaupun mereka bermusuhan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketidakbohongan mereka disebabkan rasa malu, karena apabila Abu Sufyan berbohong, maka orang-orang yang hadis akan menamakannya pembohong. Dalam riwayat Ibnu Ishaq, Abu Sufyan berkata, “Demi Tuhan sekiranya aku berbohong, jangan biarkan aku. Aku adalah orang terhormat yang tidak senang dengan kebohongan, karena aku tahu apabila aku berbohong, mereka akan meyakini dan membicarakan bahwa aku adalah pembohong.”

Lafaz kalimat (كيف نسبه فيكم) (Bagaimana nasabnya di antara kalian), Apakah nasabnya termasuk nasab yang terhormat di antara kalian? Mereka berkata, “Dia memiliki nasab yang terhormat.”

Lafaz kalimat (فهل قال هذا القول منكم أحد قط قبله) (Apakah di antara kalian ada yang mengatakan perkataan ini sebelum dia). Lafaz (منكم) maksudnya bangsa Quraisy dan Arab. Pertanyaan ini ditujukan secara umum, bukan hanya kepada orang-orang yang diajak bicara atau yang hadir.

Lafaz kalimat (فأشراف الناس يتبعونه) (Apakah ada pemuka-pemuka yang mengikuti ajarannya?). Maksud dari pemuka di sini adalah orang-orang yang sombong dan eksklusif, bukan orang yang mendapat kehormatan atau terpandang. Sehingga Abu Bakar, Umar atau lainnya yang masuk Islam tidak termasuk dari perkataan ‘Asyrafuhum’ di sini. Dalam riwayat Ibnu Ishaq dikatakan, “Yang mengikutinya dari kalangan kami adalah orang-orang yang lemah dan miskin, sedangkan orang-orang yang terhormat tidak ada yang mengikutinya.”

Lafaz kata (سخطة) (kebencian). Dalam hal ini tidak termasuk orang yang keluar dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena terpaksa, atau benci kepada agama Islam, akan tetapi karena sebab lain seperti melindungi diri, sebagaimana dilakukan oleh Ubaidullah bin Jahsy.

Lafaz kalimat (فهل كنتم تتهونه بالكذب) (Apakah kalian menuduhnya sebagai pembohong?). Kalimat ini menggunakan kata menuduh (at-tuhmah) dalam menanyakan kebohongan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hal itu untuk menyatakan kejujurannya, karena suatu tuduhan apabila hilang akan hilang pula sebabnya.

Lafaz kata (سجال) (bergantian menang dan kalah) Abu Sufyan menggambarkan seperti yang terjadi pada perang Badar dan Uhud. Ketika perang Uhud beliau meneriakkan, “Perang ini sebagai pembalasan perang Badar, dan kemenangan dan kekalahan dalam peperangan itu selalu silih berganti,” Abu Sufyan berkata, “Kami kalah ketika perang Badar dan aku tidak ikut dalam peperangan itu, sedang pada perang Uhud ini kami memerangi mereka.”

Lafaz kalimat (ماذا يأمركم) (Apa yang diperintahkannya kepada kalian) karena setiap Nabi pasti memerintahkan kepada kaumnya.

Lafaz kalimat (واتركوا مايقول آباؤكم) (Dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh bapak kalian). Kalimat ini memerintahkan kepada mereka untuk meninggalkan apa yang dilakukan oleh nenek monyang mereka pada zaman Jahiliyah, Abu Sufyan sengaja menyebutkan “nenek moyang”, karena mereka sangat tidak senang untuk menentang nenek moyang mereka hanya untuk mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan nenek moyang merupakan contoh agama penyembah berhala dan Nasrani.

Lafaz kalimat (ويأمرنا الصلاة والزكاة والصدق) (Dan memerintahkan kepada kami untuk melakukan salat dan berlaku jujur) Dalam riwayat lain dituliskan (الصدقة) (sedekah) bukan (الصدق) (jujur), pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Zakariya Al-Anshari. Begitu juga Imam Al-Bukhari dalam menafsirkan masalah “Zakat”, bahwa disebutkan salat dengan zakat, adalah merupakan kebiasaan syariat, ditambah lagi sebelum kalimat ini telah diterangkan bahwa mereka sangat tidak senang dengan kebohongan. Saya katakan, bahwa hal itu tidak menjadi masalah sebagaimana perintah kepada mereka untuk menepati janji dan menjaga amanah. Dalam Kitab Jihad, Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Dengan salat, jujur dan sedekah.” Adapun perkataan “dia memerintahkan kepada kami” setelah perkataan, “Sembahlah Allah,” menunjukkan bahwa menyalahi atau melanggar kedua hal tersebut berdampak buruk pada pelakunya, karena orang yang melanggar salat akan menjadi kafir, dan orang yang tidak jujur berarti telah berbuat dosa dan maksuat.

Lafaz kalimat (فكذلك الرسل تبعث في نسب قومها) (Para Rasul pun diutus dari nasab yang mulia di antara kaumnya). Apa yang dikatakan oleh Heraklius menunjukkan bahwa dia mengetahui berita tentang Muhammad dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.

Lafaz kalimat (فذكرت أن ضعفاءهم اتبعوه) (Kamu katakan bahwa pengikutnya adalah orang-orang yang lemah). Heraklius mengatakan, bahwa para pengikut Muhammad mayoritas sederhana, tidak besar hati atau sombong yang diliputi dengan kebencian dan kedengkian seperti Abu Jahal dan pengikutnya, sehingga Allah Ta’ala menghancurkan mereka dan menyelamatkan orang yang taat dan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lafaz kalimat (وكذلك أمر الإيمان) (Begitu juga dengan keimanan). Artinya masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan, karena dari keimanan akan tampak cahaya yang akan terus bertambah dengan melakukan ibadah seperti salat, zakat, puasa dan lain-lain, oleh karena itu Allah Ta’ala menurunkan ayat Al-Quran di akhir kehidupan Nabi, “Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan Aku sempurnakan kepadamu nikmat-nikmat-Ku,” atau dalam ayat yang lain, “Allah menolaknya kecuali telah sempurna cahaya-Nya,” begitu juga pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan terus bertambah sehingga apa yang dikehendaki Allah Ta’ala benar-benar sempurna.

Lafaz kalimat (حين تخالط بشاشته القلوب) (Ketika tercampur dengan cahaya hati), dalam arti bahwa keimanan telah menimbulkan kesenangan hati. Ibnu Sakan mengatakan, “Keimanan akan menambah kekaguman dan kebahagiaan.”

Lafaz kalimat (وكذلك الرسل لا تغدر) (begitu juga Rasul tidak menipu), karena mereka tidak menginginkan dari dakwahnya kenikmatan dunia melainkan apa yang mereka harapkan hanyalah kenikmatan akhirat, sehingga tidak mungkin mereka melakukan penipuan.

Al-Mazini berkata, bahwa pertanyaan yang diajukan oleh Heraklius bukanlah pertanyaan yang berkenaan dengan kenabian, ia hanya menanyakan tentang tanda-tanda kenabian sesuai dengan apa yang diketahuinya, seperti perkataannya, “Aku menyangka Nabi yang akan datang bukan dari golongan kalian.”

Lafaz kalimat (لتجشمت لقاءه) (Aku berusaha agar dapat bertemu dengannya). Aku berusaha agar dapat bertemu dengannya, ini menunjukkan bahwa dia tidak selamat dari pembunuhan apabila mengikuti agama Islam, seperti cerita “dhaqatir” yang dibunuh kaumnya karena masuk Islam. Dalam riwayat Ath-Thabari dari Abdullah bin Syadad dari Dihyah tentang cerita secara singkat, Kaisar berkata, “Aku mengetahui dia itu benar, tapi aku tidak dapat melakukan apa-apa karena apabila ku melakukannya, maka kerajaanku akan lenyap dan orang-orang Romawi akan membunuhku.” Dalam riwayat Ibnu Ishaq dikatakan, Heraklius berkata, “Celaka kamu! Demi Tuhan aku tahu bahwa dia memang seorang Nabi yang diutus, tapi aku takut kepada orang-orang Romawi. Seandainya mereka tidak mencelakai diriku, aku pasti akan mengikutinya.”

Akan tetapi Heraklius benar-benar memahami isi surat yang ditulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi, “Masuklah ke dalam agama Islam maka kamu akan selamat,” maka dia tidak akan khawatir akan keselamatan dirinya, bahkan dia akan mendapatkan balasan pahala di dunia dan di akhirat.

Adapun perkataan Heraklius, “Aku akan mencuci kakinya.” Menunjukkan kesungguhan beribadah dan pengabdian kepada ajaran Islam. Abdullah menambahkan, “Sekiranya benar dia seorang nabi, aku pasti akan pergi kepadanya, akan aku cium kepalanya dan aku cuci kakinya.” Dari perkataan Heraklius ini menunjukkan adanya keraguan dalam dirinya, apakah Muhammad benar-benar seorang Nabi yang diutus atau bukan. Ditambah juga dengan perkataan Abu Sufyan, “Aku melihat jidatnya mengeluarkan keringat ketika membaca surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Dari perkataan, “Aku cuci kakinya” menunjukkan juga bahwa jika Heraklius masuk Islam, maka ia tidak menginginkan kekuasaan dan kedudukan, tetapi hanya mengharapkan keberkahan semata.

Dalam riwayat lain dikatakan beliau berkata (وليبلغن ملكه تحت قدمي) (Pasti kerajaannya atau kekuasaan Muhammad ada dalam kekuasaanku). Yang dimaksud adalah Masjidil Aqsha, karena Heraklius ingin menguasai negeri Syam seluruhnya. Pendapat ini dikuatkan oleh sebagian ulama yang menyatakan, bahwa pertama kali Heraklius memimpin kerajaannya dengan keimanan akan tetapi lama kelamaan dia memerangi kaum muslimin pada peperangan Mu’tah tahun ke-8 H yang berlangsung kurang dari 2 tahun.

Dalam Kitab Al-Maghazi, Ibnu Ishaq meriwayatkan, “Ketika kaum Muslimin sampai di kota Ma’an, salah satu kota di Syam, Raja Heraklius mengirim pasukan sebanyak 100.000 orang musyrikin. Begitu juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Anas, dia mengatakan bahwa Nabi menuliskan surat kepadanya di Tabuk, tapi dia tidak menjawabnya walaupun tempatnya dekat. Hal ini menunjukkah bahwa Heraklius tetap hidup dalam kekafiran, tapi dimungkinkan dia menyembunyikan keimanannya untuk menjaga kekuasaan dan kerajaannya, serta takut ada upaya pembunuhan terhadap dirinya yang dilakukan oleh orang-orang Romawi.

Dalam Musnad Imam Ahmad dikatakan, “Heraklius menulis surat dari Tabuk kepada Nabi yang berbunyi, “Saya seorang Muslim,” Nabi berkata, “Dia bohong, dia tetap dalam agama Nasrani.” Dalam Kitab Al-Amwal karangan Abu Ubaid dari Mursal Bakar bin Abdullah Al-Mazini dengan sanad yang sahih, Nabi berkata, “Musuh Allah telah berbohong, dia bukan seorang Muslim.”

Dihyah adalah orang yang sangat menguasai Bahasa Yaman, dia anak khalifah Kalbi, salah seorang sahabat Nabi yang mulia, memiliki wajah tampan, dan termasuk golongan sahabat yang masuk Islam pada periode pertama. Dialah sahabat yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan surat kepada Raja Heraklius setelah pulang dari Hudaibiyah.

Dihyah sampai kepada Heraklius pada tahun ke-7 H sebagaimana dikatakan oleh Al-Waqidi. Akan tetapi dalam Kitab Tarikh Khalifah dikatakan, bahwa Dihyah sampai kepada Heraklius pada tahun ke-5 H, namun pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama. Dihyah meninggal dunia pada masa Mu’awiyah. Bashra adalah kota antara Damaskus dan Madinah. Gubernurnya pada waktu itu adalah Harits bin Abu Syamr Al-Ghassani. Dalam Kitab Ash-Shahabah karangan Ibnu Sakan dikatakan, bahwa Dihyah menyampaikan surat kepada Heraklius bersama ‘Adi bin Hatim, di mana Adi bin Hatim pada waktu itu masih beragama Nasrani dan meninggal pada Fathu Makkah.

Lafaz kalimat (عظيم الروم) (Pembesar Bangsa Romawi). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyebutkan raja atau pemimpin bangsa Romawi, karena dia tidak mengikuti ajaran agama Islam, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulisnya dengan kalimat “Adzim” (pembesar) untuk tidak menghilangkan penghormatan kepadanya. Dalam cerita Dihyah, bahwa sepupu Raja Heraklius menolak surat itu karena tidak dicantumkan “Raja Bangsa Romawi”.

Lafaz kalimat (سلام على من اتبع الهدى) (Salam sejahtera bagi orang yang ikut jalan petunjuk). Jika ditanyakan, bagaimana hukumnya mengucapkan salam kepada orang kafir? Maka para ahli tafsir mengatakan bahwa maksud dari salam ini bukan salam penghormatan, akan tetapi maksud salam di sini adalah salam atau keselamatan dari azab Allah Ta’ala bagi orang yang masuk agama Islam. Hal itu dapat dilihat dalam konteks selanjutnya yang menjelaskan, bahwa azab Allah Ta’ala akan ditimpakan kepada orang yang menentang ajaran Islam. Begitu juga kita dapat melihat pada isi surat berikutnya, “Apabila kamu menentang ajaran Islam maka kamu akan mendapat dosa yang berlipat ganda.” Intinya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bermaksud mengucapkan salam kepada orang kafir selama orang itu tidak mengikuti ajaran Islam walaupun konteks kalimatnya menunjukkan hal itu.

Lafaz kalimat (بدعاية الإسلام) (Dengan kalimat ajaran Islam) atau dengan kalimat yang menyeru kepada agama Islam yaitu kalimat syahadat.

Lafaz kalimat (يؤتك) (Kamu akan mendapat) Dalam Kitab Al-Jihad dituliskan (اسلم اسلم يؤتك) dengan mengulang kata (اسلم) sebagai penguat (ta’kid), karena kata (اسلم) yang pertama adalah perintah untuk masuk agama Islam, sedangkan yang kedua dimaksudkan untuk selalu melaksanakan ajaran Islam, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman, beriman-lah kamu kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya,” juga sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “Mereka akan memperoleh pahala dua kali lipat.”

Heraklius akan memperoleh pahala dua kali lipat, karena beriman kepada Nabi Isa dan Nabi Muhammad, atau jika masuk agama Islam, maka rakyatnya juga akan ikut masuk agama Islam.

Lafaz kalimat (فإن توليت) (Apabila kamu berpaling), atau tidak mau mengikuti ajaran Islam. Memang pada hakikatnya kata berpaling dipakai untuk muka, kemudian kata itu dipakai dengan pengertian menentang sesuatu.

Lafaz kalimat (الأرسيين) menurut Ibnu Sayyidah ‘iriis’ artinya pembajak, sedangkan menurut Tsa’lab artinya petani, sementara menurut Kura’ berarti pemimpin. Al-Jauhari mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Syamiah, akan tetapi pendapat ini ditentang oleh Ibnu Faris yang mengatakan, bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Arab. Dalam riwayat Ibnu Ishaq dikatakan, “Maka kamu menanggung dosa para pembajak,” dalam riwayat Al-Madaini, “Kamu menanggung dosa para petani, (fallaahiin),” atau dalam Kitab Al-Amwal, Ubaid meriwayatkan dari Abdullah bin Syadad, “Apabila kamu tidak masuk ke dalam agama Islam, maka kamu tidak akan dibiarkan oleh para petani dan kaum Muslimin” Abu Ubaid berkata, maksud dari “para petani” adalah rakyat, karena setiap yang bercocok tanam disebut dengan petani dalam bahasa Arab, baik bekerja untuk sendiri atau untuk orang lain. Menurut Al-Khaththabi maksudnya adalah kamu akan menanggung dosa orang-orang yang lemah dan pengikut-pengikutmu apabila mereka tidak masuk agama Islam sebab orang-orang kecil (rakyat) selalu mengikuti orang-orang yang besar (pemimpin).

Lafaz kalimat (( يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لاَ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ) (Wahai ahli kitab …) Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat ini sebelum turunnya ayat tersebut, akan tetapi lafaznya cocok dengan ayat yang diturunkan oleh Allah Ta’ala, karena sebab turunnya ayat ini mengenai utusan Nazaret (Najran) yang terjadi pada tahun ke-9, sedang cerita Abu Sufyan pada tahun ke-6. Pembahasan ini diulas secara panjang lebar dalam pembahasan tentang Al-Maghazi. Ada yang mengatakan ayat ini turun diawal hijrah sesuai dengan perkataan Ibnu Ishaq, dan ada pula yang mengatakan bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan orang-orang Yahudi, sedangkan pendapat terakhir mengatakan bahwa ayat ini turun dua kali, tapi pendapat ini tidak benar.

PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL

Hadis ini mengindikasikan bahwa orang yang sedang junub boleh membaca satu atau dua ayat Al-Quran atau mengirim sebagian ayat-ayat Al-Quran kepada musuh dan membawanya ketika bepergian. Berbeda dengan pendapat Ibnu Baththal yang mengatakan bahwa hukum ayat ini telah dihapus dan tidak diperbolehkan membawa Al-Quran ketika pergi ke daerah musuh. Dimungkinkan dari larangan tersebut adalah membawa mushaf Al-Quran ke daerah musuh. Adapun bagi orang yang junub diperbolehkan apabila tidak diniatkan untuk membaca Al-Quran, tetapi diniatkan untuk berzikir.

Lafaz kalimat (فلما قال ما قال) (Ketika dia mengatakan apa yang dikatakannya). Maksudnya adalah pertanyaan dan jawaban yang dikatakan oleh Heraklius.

Lafaz kata (الصخب) (teriakan keras) yaitu suara yang bercampur dengan emosi. Dalam Kitab Jihad ditambahkan perkataan Abu Sufyan, “Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan.”

Lafaz kalimat (فقلت لأصحابه) (Aku mengatakan kepada rekan-rekanku). Dalam Kitab Jihad ditambahkan, “Ketika aku keluar dari tempat Heraklius.”

Lafaz kalimat (ابن أبي كبشة) (Anaknya Abu Kabsyah). Maksud Ibnu Abi Kabsyah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena Abu Kabsyah adalah salah satu kakek Nabi, dan sebagaimana kebiasaan bangsa Arab apabila ingin merendahkan seseorang, mereka menasabkan dengan kakek yang kedudukannya rendah.

Abu Hasan mengatakan bahwa, Abu Kabsyah adalah kakeknya Wahab, yaitu kakeknya Nabi dari jalur Ibu. Tetapi terjadi perselisihan dalam masalah ini, karena Wahab mempunyai ibu yang bernama Atikah binti Auqash bin Murah bin Hilal, dan tidak ada orang yang ahli dalam ilmu nasab yang mengatakan bahwa Auqash mempunyai gelar Abu Kabsyah. Ada pula yang mengatakan Abu Kabsyah adalah kakeknya Abdul Muththalib dari jalur ibu, dan ini juga masih diperselisihkan, karena ibunya Abdul Muththalib bernama Salma binti Amru bin Zaid Al-Khazraji, dan tidak ada orang yang mengatakan bahwa Amru bin Zaid mempunyai gelar Abu Kabsyah. Akan Tetapi Ibnu Hubaib mengatakan dalam Kita Al-Mujtaba, bahwa kakek-kakek Nabi dari jalur bapak dan ibu seluruhnya dijuluki Abu Kabsyah.

Abu Fatah Al-Azadi dan Ibnu Makula mengatakan bahwa Abu Kabsyah adalah bapak susuan Nabi yang bernama Harits bin Abdul Izzi, suami dari Halimatus Sa’diyah. Yunus bin Bakir mengatakan bahwa Abu Kabsyah masuk agama Islam dan memiliki anak perempuan yang bernama Kabsyah. Ibnu Qutaibah, Al-Khaththabi dan Daruquthni mengatakan bahwa Abu Kabsyah berasal dari Khuza’ah yang tidak mengikuti orang-orang Quraisy dalam menyembah berhala. Zubair mengatakan nama aslinya adalah Wajaz bin Amir bin Ghalib.

Lafaz kalimat (ملك بني الأصفر) (Raja Bani Ashfar), maksudnya adalah bangsa Romawi. Diceritakan bahwa kakek mereka, yaitu Rum bin ‘Aish menikah dengan anak perempuan Raja Habasyah (Ethiopia), maka anaknya memiliki kulit antara hitamd an putih, yaitu kekuning-kuningan. Ibnu Hisyam dalam Kitab At-Tijani mengatakan bahwa gelar “Ashfar” tersebut dikarenakan istri Nabi Ibrahim yang bernama Sarah mengusap badan Rum dengan emas.

Lafaz kalimat (حتى أدخل الله على الإسلام) (Sampai Allah memasukkan ke dalam hatiku cahaya keislaman) atau menumbuhkan keyakinan pada diriku.

Lafaz kata (السقف) berasal dari bahasa asing (‘ajam) yang berarti pimpinan agama Nasrani.

Lafaz kalimat (حين قدم إيلياء) (Ketika Heraklius datang ke kota Iliya), yaitu ketika pasukan Romawi mengalahkan pasukan Persia dan mengusir mereka. Peristiwa itu terjadi bertepatan dengan keberangkatan Nabi dan para sahabat untuk mengerjakan umrah setelah perjanjian Hudaibiyah. Kaum Muslimin bergembira ketika mendengar berita kemenangan bangsa Romawi, sebagaimana disebutkan oleh At-Tirmidzi dalam menafsirkan ayat, “Pada hari itu kaum mukminin mendapat kemenangan dari Allah.”

Lafaz kalimat (خبيث النفس) (Keadaannya sangat jelek) artinya keadaan Heraklius pada waktu itu sangat menyedihkan. Kalimat ini sering digunakan untuk menunjukkan rasa malas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadisnya, “Janganlah mengatakan di antara kamu keadaanku sangat jelek (Khabatstu Nafsi),” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat membenci perkataan itu. Sedangkan apa yang dialami oleh Heraklius menggambarkan perubahan dalam dirinya dari keadaan yang selalu senang kepada keadaan yang sangat menyedihkan.

Lafaz kata (حزاء) (Peramal atau dukun) keadaan Heraklius seperti seorang peramal. Kalimat “dia melihat bintang-bintang” merupakan penjelasan dari kata peramal, karena para peramal mengandalkan dua kemampuan, pertama dengan bantuan setan dan kedua dengan melihat bintang-bintang. Perkara ini merupakan salah satu kebiasaan pada zaman Jahiliyah.

Heraklius meramal kedatangan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bintang-bintang, yaitu bintang komet, bintang ini muncul setiap 20 tahun sekali. Bintang ini muncul pertama kali (20 tahun pertama) ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir, dan yang kedua (di akhir 20 tahun kedua) ketika Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta muncul yang ketiga (20 tahun ketiga) waktu kemenangan Kota Khaibar, Fathul Makkah dan tersebarnya agama Islam ke setiap penjuru, inilah yang diramalkan oleh Raja Heraklius. Di samping itu bintang komet telah menunjukkan akan munculnya seorang pemimpin bagi orang-orang yang sudah dikhitan. Hal itu menunjukkan bahwa kekuasaan atau kerajaan akan pindah ke tangan bangsa Arab.

Apabila dikatakan mengapa Al-Bukhari mengangkat permasalahan ahli Nujum (peramal) dan mempercayai apa yang dikatakannya? Jawabnya, Imam Al-Bukhari tidak bermaksud seperti itu, akan tetapi beliau bermaksud untuk menunjukkan kepada kita bahwa banyak sumber yang membenarkan akan datangnya kenabian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dari seorang dukun, perama, orang yang benar, orang yang bathil, manusia atau jin.

Ada yang mengatakan bahwa lafaz (حزاء) mengandung arti seorang peramal yang dapat menerangkan tentang nasib seseorang hanya dengan melihat anggota tubuh dan wajahnya.

Lafaz kalimat (قد ظهر) (telah nampak). Artinya mendapat kemenangan, hal itu menurut pandangan Ahli Nujum bahwa raja yang disunat akan mendapat kemenangan, sebagaimana dikatakan bahwa pada hari itu adalah permulaan munculnya kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika orang-orang kafir melakukan perjanjian dengan kaum Muslimin dalam perjanjian Hudaibiyah, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat Al-Quran, “Sesungguhnya kami telah memberikan kemenangan kepada kalian dengan kemenangan yang nyata,” di mana Fathu Makkah terjadi karena orang-orang kafir mengingkari perjanjian Hudaibiyah.

Lafaz kalimat (من هذه الأمة) (Dari umat ini). Ada yang mengatakan seluruh manusia yang hidup pada masa itu, ada juga yang mengatakan khusus bangsa Arab. Adapun dikatakan “kecuali orang-orang Yahudi” dalam hadis di atas adalah sesuai dengan pengetahuan mereka, karena orang-orang Yahudi banyak yang tinggal di Iliya (Baitul Maqdis) di bawah kekuasaan bangsa Romawi, berbeda dengan bangsa Arab. Walaupun sebagian mereka ada di bawah kekuasaan bangsa Romawi seperti kaum Ghassan, tetapi mereka tetap memiliki kekuasaan.

Lafaz kalimat (فبينما هم على أمرهم) (Setelah mereka melakukan musyawarah).

Lafaz kalimat (أتي هرقل برجل) (Datang Heraklius dengan membawa seorang laki-laki) dan tidak disebutkan siapa yang dibawanya. Raja Ghassan adalah pemimpin daerah Bashra yang telah kami jelaskan sebelumnya. Ibnu Sakan meriwayatkan bahwa orang yang dibawa oleh Heraklius adalah Adi bin Hatim.

Ladaz kalimat (عن خبر رسول الله صلى الله عليه وسلم) (Tentang kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa orang tersebut menerangkan, ada seorang dari kaumnya yang mengaku dirinya sebagai Nabi, banyak orang yang mengikutinya dan banyak pula yang menentangnya, di antara mereka ada ikatan yang sangat kuat. Dalam suatu riwayat Raja Ghassan berkata, “Telanjangi dia apakah dia sudah disunat!,” utusan itu berkata, “Demi Tuhan aku melihatnya dia sudah disunat.”

Rumiyah adalah kota terkenal di Romawi.

Lafaz kalimat (حتى أتاه كتاب من صاحبه) (Sampai datang kepadanya kitab dari temannya). Menurut cerita Dihyah, ketika mereka keluar dia disuruh masuk oleh Heraklius dan meminta pemimpin agama Nasrani (pendeta) untuk datang sambil memberi kabar apa yang didengarnya, pendeta itu berkata, “Inilah yang kami tunggu-tunggu, sebagaimana Nabi Isa telah mengabarkan dan aku mempercayai serta mengikuti ajarannya.” Hescules berkata, “Kalau aku mengikutinya maka kekuasaanku akan hilang,” maka pendeta menyerahkan surat itu kepadaku dan berkata, “Pergilah ke temanmu (Muhammad) sampaikan salamku kepadanya dan katakan aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, sesungguhnya aku telah mempercayai serta membenarkannya, walaupun orang-orang Romawi akan menentangku setelah ini,” dan ketika pendeta itu keluar, orang-orang Romawi membunuhnya. Raja Heraklius juga memerintahkanku untuk mendatangi sesepuh bangsa Romawi. Setelah surat itu disampaikan kepada sesepuh Romawi, dia memproklamirkan keislamannya dengan menanggalkan pakaian yang dikenakan dan menggantinya dengan pakaian berwarna putih, kemudian keluar dan menyeru rakyat Romawi untuk memeluk agama Islam dan mengucapkan kalimat syahadar, lalu orang-orang Romawi langusng membunuhnya. Setelah Dihyah kembali ke Heraklius, dia berkata kepada Dihyah, “Sudah aku katakan kepadamu bahwa aku takut akan keselamatan diriku, karena sesepuh Romawi yang lebih terpandang di mata mereka, tetap dibunuh.”

Ibnu Hajar berkata, “Dimungkinkan surat yang dibawa oleh Dihyah bukan surat yang ditulis setelah perjanjian Hudaibiyah, tetapi surat yang ditulis ketika perang Tabuk yang tidak ada kata “masuklah ke dalam agama Islam maka kamu akan selamat.” Sedangkan cerita tentang sesepuh bangsa Romawi ada dua versi. Pertama dikatakan bahwa dia tidak masuk Islam dan tidak dibunuh, pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Nathur, sedangkan yang kedua dikatakan bahwa dia masuk Islam dan dibunuh, pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Ishaq.

Lafaz kalimat (وسار هرقل إلى حمص) (Kemudian Heraklius kembali ke Hamas) karena di sanalah tempat kerajaannya. Pada saat itu Hamas keadaannya lebih baik dari Damaskus. Umat Islam menaklukkan kota itu pada tahun ke-16 H di bawah pimpinan Islam Abu Ubaidah bin Jarrah.

Lafaz kalimat (وأنه نبي) (Bahwa dia seorang Nabi). Perkataan ini menunjukkan bahwa Heraklius dan temannya telah mengakui keislamannya, akan tetapi Heraklius tidak masuk agama Islam.

Lafaz kata (دسكرة) (Istana yang sekelilingnya ada rumah), kemudian Heraklius meminta pembesar-pembesar Romawi untuk masuk ke istana tersebut, untuk mengabarkan kepada mereka apa yang dia dengar, setelah itu seluruh pintunya ditutup. Heraklius melakukan hal itu karena takut dirinya akan mengalami seperti apa yang dialami oleh sesepuh Romawi.

Lafaz kalimat (وأن تثبت ملككم) (Agar kekuasaanmu tetap) karena jika mereka keluar dari agama Nasrani maka hilanglah kekuasaan Heraklius, seperti yang terjadi sebelumnya.

Lafaz kalimat (فحلصوا) (Mereka kabur). Mereka diumpamakan dengan kedelai liar, karena mereka lari lebih kencang dari larinya binatang. Mereka disamakan dengan keledai karena kebohohan dan kesesatan.

Lafaz kalimat (من الإيمان) (Dari keimanan) yaitu dari keimanan mereka yang dilihat oleh Heraklius, karena takut kehilangan kekuasaan. Heraklius menginginkan agar mereka mendukungnya dengan sama-sama masuk Islam dan tetap taat kepadanya, dengan begitu kekuasaannya tetap langgeng. Tetapi pilihan itu tidak didapatinya, dia hanya dapat memilih meninggalkan rakyat Romawi serta kekuasaannya dan masuk ke agama Islam untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala.

Lafaz kalimat (فكان ذلك آخر شأن هرقل) (Ini adalah keadaan terakhir Heraklius), maksudnya, yang berhubungan dengan seruan agama Islam, bukan berarti setelah itu Heraklius meninggal dunia atau Heraklius mengalami seperti apa yang dialami pendahulunya. Ada beberapa versi tentang keadaan Heraklius setelah itu, ada yang mengatakan, bahwa dia mengutus pasukannya untuk menghadapi kaum Muslimin pada perang Mu’tah dan Tabuk, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepadanya dua kali, kemudian Heraklius mengirimkan emas kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dibagikan kepada para sahabatnya, cerita ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban.

Dalam Kitab Musnad dari jalur Sa’id bin Abi Rasyid disebutkan, bahwa utusan Heraklius berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Tabuk, kemudian mengutus Dihyah untuk menghadap Heraklius. Ketika Dihyah sampai, Heraklius memanggil pembesar-pembesar dan para pendeta bangsa Romawi, kemudian dia menceritakan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka kebingungan sehingga sebagian mereka ada yang keluar dari perkumpulan itu. Heraklius berkata, “Kalian diam dulu, aku hanya ingin mengetahui akan keimanan kalian kepada agama kita.” Ibnu Ishaq dan Khalid bin Bisyr meriwayatkan bahwa ketika Heraklius ingin keluar dari Syam untuk pindah ke Konstantinopel, bangsa Romawi diberi pilihan. Pertama masuk agama Islam, kedua membayar jizyah (pajak) dan ketiga melakukan perdamaian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa ada peperangan lagi, akan tetapi mereka menentangnya. Kemudian Heraklius pergi meninggalkan negeri Syam, ketika sampai di perbatasan dia mengucapkan salam kepada negeri Syam, yaitu salam perpisahan dan setelah itu dia hidup di Konstantinopel.

Ada perbedaan pendapat, apakah dia yang diperangi oleh kaum Muslimin pada masa Abu Bakar, Umar dan Ibnu Umar? Pendapat yang kuat mengatakan bahwa dialah orangnya yang diperangi kaum Muslimin.

CATATAN

Keimanan Heraklius menjadi samar dalam pandangan kaum Muslimin karena dua kemungkinan, pertama Heraklius tidak ingin memproklamirkan keislamannya karena dirinya takut dirinya dibunuh, dan kedua Heraklius masih ragu akan kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga dia meninggal dalam keadaan kafir. Imam Al-Bukhari hanya meriwayatkan cerita ini dengan perkataan “inilah keadaan terakhir Heraklius”. Beliau menutup bab ini dengan perkataan tersebut setelah dibuka dengan hadis “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya,” seakan-akan Al-Bukhari ingin mengatakan apabila nita Heraklius benar maka akan memberikan kepadanya sesuatu yang baik, tapi sebaliknya apabila niatnya tidak benar, maka dia akan merugi.

Dari sini terlihat kesesuaian hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Nathur tentang permulaan turunnya wahyu dengan hadis yang membicarakan niat sebagai dasar suatu perbuatan.

Apabila ada yang bertanya dari sisi mana korelasi antara hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sufyan tentang Heraklius dengan permulaan turunnya wahyu? Jawabnya adalah bahwa dalam hadis itu digambarkan keadaan orang-orang terhadap Nabi pada awal dakwahnya, karena ayat Al-Quran yang dituliskan kepada Heraklius berisikan seruan kepada agama Islam yang mengandung makna yang sama dengan ayat yang ada di permulaan bab ini, “Sesungguhnya kami berikan wahyu kepadamu sebagaimana kami memberikan wahyu kepada Nabi Nuh,” atau Allah Ta’ala telah mensyariatkan ajaran-ajaran agama kepada kalian seperti Allah Ta’ala wasiatkan kepada Nuh,” sehingga inti ayat ini adalah seruan untuk menegakkan agama Islam.

Suhaili mengatakan bahwa Heraklius meletakkan surat itu di kotak yang terbuat dari emas sebagai penghormatan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kotak ini diwariskan turun temurun sampai kepada Raja Francs (Francs adalah nama salah satu kabilah Jerman yang bertempat di Prancis pada abad ke-5 dan mendirikan kerajaan pertama, sedangkan di Timur nama tersebut dikenal sebagai sebutan orang-orang salib atau orang Eropa secara umum). Beberapa sahabatku menceritakan kepadaku bahwa Abdul Malik bin Sa’ad salah satu panglima kaum Muslimin, bertemu dengan Raja Francs, dan dia perlihatkan surat itu oleh Raja Francs. Ketika Abdul Malik melihat surat ini, dia meminta izin untuk dapat mencium surat itu, tapi tidak diperbolehkan.

Ibnu Hajar katakan, bahwa beberapa orang meriwayatkan kepadaku dari Qadhi Nuruddin bin Shaiq Dimasqi, dia berkata, telah menceritakan kepadaku Saifuddin Falih Al-Masyhuri, dia berkata, “Aku diutus oleh Raja Manshur Qalawun untuk membawa hadis ke Raja Maghribi, setelah sampai di sana aku dipertemukan dengan Raja Francs. Aku ingin tinggal di sana sementara waktu, tapi dia melarangnya, dia berkata, “Aku akan memberikan hadiah yang sangat berharga,” dia mengeluarkan kotak yang terbuat dari emas, dan dikeluarkan dari kotak itu surat yang terlihat sudah lama sekali. Dia berkata, “Ini adalah surat dari Nabimu yang dikirimkan kepada kakekku (Raja Heraklius), kami mewarisinya turun temurun dan menyembunyikan dari rakyat kami. Bapakku mengatakan kepada kami, selama surat ini ada pada kami, maka kekuasaan tetap berada pada kami.”

Ini sesuai dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada utusan Heraklius, “Wahai saudara Tanukh, aku telah menulis kepada rajamu dan dia menjaganya, surat itu akan tetap ada pada mereka tapi tidak ada keberanian dari mereka walaupun telah mencapai kehidupan bahagia,” atau dalam riwayat Abu Ubaid dalam Kitab Al-Amwal, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis ke Raja Kisra dan Kaisar Romawi, kemudian Raja Kisra merobek-robek surat itu sedangkan Kaisar Romawi menjaganya,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Adapun mereka (Kisra) akan merobek-robek, sedangkan mereka (Romawi) surat itu akan selalu ada pada mereka.” Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima jawaban dari Raja Kisra, beliau berkata, “Allah Ta’ala akan menghancurkan kerajaannya,” sedangkan ketika datang jawaban dari Raja Romawi, beliau berkata, “Allah akan menjaga kerajaannya.” 

PEMBAHASAN LENGKAP SYARAH KUTUB HADIS


Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab


The Indonesiana Center - Markaz BSI (Bait Syariah Indonesia)


##########
 
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi  Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########