BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya
B. Dalil Pelaksanaan Shalat Jamaah, Keutamaan, dan Hikmah Pelaksanaannya
Dalil pelaksanaan shalat berjamaah telah disebutkan dalam Al-Qur'an, hadits, ataupun ijma ulama. Adapun dalil dari Al-Qur'an adalah, “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka.” (An-Nisaa’: 102) Dalam ayat ini, Allah telah memerintahkan umat Islam untuk melakukan shalat berjamaah, bila dikhawatirkan adanya serangan musuh pada saat melakukan peperangan. Dengan begitu, pelaksanaan shalat berjamaah akan menjadi lebih utama pada saat aman dari serangan musuh. Seandainya pun tidak diwajibkan, niscaya akan diberikan keringanan pada saat-saat adanya kekhawatiran akan serangan musuh. Namun pada kenyataannya, kewajiban shalat berjamaah tetap tidak boleh ditinggalkan meski adanya rasa kekhawatiran tersebut.
Adapun dalil dari hadits, yaitu sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, “Shalat berjamaah itu lebih utama dua puluh derajat (kedudukan di sisi Allah) daripada shalat sendiri. Sedangkan dalam riwayat lain, “Dua puluh lima derajat.” Pertama, diriwayatkan oleh semua imam hadits kecuali An-Nasa'i dan Abu Dawud dari Ibnu Umar (Jaami'ul Ushuuljilid 10 halaman 250). Kedua, hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah. HR Bukhari dari Abu Sa'id Al-Khudri, Ahmad dari lbnu Mas'ud (Nailul Authaarjilid 3 halaman 126). Disebutkan dalam Al-Majmuu', "Tidak menafikan sama sekali, karena jumlah kecil tidak bisa menafikan jumlah yang besar. Atau bisa jadi, diberitahukan pertama kali oleh Allah dengan jumlah yang kecil, lalu dikuatkan dengan menambah keutamaannya. Maka, disebutkan dengan jumlah yang banyak. Atau juga, jumlah derajatnya akan berbeda sesuai dengan bilangan jamaahnya." Asy-Syaukani berkata, “Adapun yang lebih kuat menurutku, maksud pertamanya adalah memasukkan angka lima ke dalam angka tujuh."
Sedangkan dalil dari ijma ulama, para sahabat telah sepakat untuk mewajibkan shalat berjamaah setelah hijrah. Disebutkan dalam buku Ihyaa' karya Al-Ghazali, dari Abu Sulaiman Ad-Darani. Ia berkata, tidak ada orang yang meninggalkan shalat jamaah, kecuali karena sedang melakukan suatu dosa. Disebutkan juga, orang-orang saleh terdahulu, mereka akan menyesalkan diri mereka sendiri selama tiga hari, jika ketinggalan takbir pertama dalam shalat berjamaah, dan tujuh hari jika tertinggal satu shalat jamaah seluruhnya.
Keutamaan shalat berjamaah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lalu, bahwa shalat jamaah itu lebih utama 27 derajat daripada shalat sendiri. Setiap langkah untuk menunaikannya juga dihitung sebagai satu kebaikan dan diangkat satu derajat. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadits Ibnu Mas'ud, “Siapa yang ingin bertemu dengan Allah, besok, dalam keadaan Muslim, maka hendaknya ia menjaga shalat-shalat. Karena, ia akan dipanggil dengan shalat-shalatnya itu. Allah telah mewajibkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kalian sunnah-sunnah pada nabi. Di antara sunnah-sunnah itu adalah shalat berjamaah. Jika kalian melakukan shalat di rumah kalian saja, seperti yang dilakukan oleh orang bodoh di rumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kalion. Jika kalian, meninggalkan sunnah Nabi kalian niscaya kalian akan sesat. Setiap orang yang bersuci dengan benar di rumahnya, lalu sengaja pergi ke masjid, maka Allah akan mencatat setiap langkahnya itu sebagai kebaikan, diangkat satu derajat untuknya, dan dihapus satu kejelekan darinya. Kami telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa orang yang meninggalkan shalat jamaah hanyalah orang munafik yang kenal kemunafikannya. Pernah ada seorang laki-laki yang didatangi dan diseret oleh dua orang sampai ia disuruh berdiri di barisan shalat.” HR. Muslim dan Abu Dawud (Nashbur Rayah jilid 2 halaman 21-22 dan Jami’ul Ushul jilid 6 halaman 270). Dalam riwayat lain, “Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian telah kafir.”
Shalat jamaah juga bisa menjadi cahaya bagi seorang Muslim pada hari Kiamat nanti. Sebagaimana yang tertera dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sering berjalan ke masjid pada saat gelap di hari kiamat nanti dengan cahaya yang terang benderang.”
Adapun shalat jamaah yang paling dianjurkan selain shalat Jumat adalah jamaah shalat Shubuh, Isya (Al-Majmuu’ jilid 4 halaman 91), dan Ashar menurut dua hadits berikut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika saja orang-orang mengetahui keutamaan dalam adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak berkesempatan untuknya kecuali harus berdesak-desakkan, niscaya mereka akan rela untuk berdesak-desakan. Jika saja mereka mengetahui keutamaan dalam bergegas untuk melakukan shalat, niscaya mereka akan lebih dutu menetap di dalam masjid. Jika saja mereka mengetahui keutamaan dalam shalat Isya dan Shubuh beriamaah, niscaya mereka akan mendatangi keduanya meski harus merangkak.” HR. Bukhari dan Muslim.
Diriwayatkan dari Utsman bin Affan, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang melaksanakan shalat Isya dengan berjamaah, maka ia sama saja telah mendirikan setengah malam. Sedang siapa yang melaksanakan shalat Shubuh dengan berjamaah juga, maka (dengan keduanya) sama saja ia telah mendirikan seluruh malam.” Diriwayatkan oleh semua imam hadis kecuali Bukhari dan At-Tirmidzi. Sedangkan dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan, “Siapa yang melaksanakan shalat Isya’ dan Shubuh berjamaah.”
Adapun shalat Ashar, karena ia shalat di tengah hari.
Berikutnya, hikmah dari pelaksanaan shalat berjamaah. Dengan adanya shalat jamaah, maka akan terwujud kedekatan, perkenalan, dan tolong-menolong sesama muslim. Di samping menyirami benih-benih kasih dan sayang di dalam hati mereka. Juga, shalat jamaah menyatakan bahwa mereka semua adalah saudara yang sama, merasakan susah dan senang bersama tanpa membedakan derajat, tingkatan, profesi, kekayaan, dan kedudukan, ataupun antara kaya dan miskin.
Dalam shalat jamaah, ada pembelajaran untuk selalu teratur, disiplin, senang untuk melakukan ketaatan dalam berbuat baik. Hikmah-hikmah shalat berjamaah itu akan terefleksikan dalam kehidupan umum ataupun khusus, sehingga shalat jamaah selalu akan memberikan buah yang terbaik, merealisasikan tujuan terjauh, mendidik manusia dengan program pendidikan terbaik, serta mengikat generasi masyarakat dengan ikatan yang kuat bahwa Tuhan mereka adalah satu, imam mereka satu, tujuan mereka satu, dan jalan mereka juga satu.
Disebutkan dalam kitab Ad-Durrul Mukhtar, “Di antara hikmah shalat berjamaah adalah program pendekatan dan pembelajaran untuk orang bodoh dari orang pintar. Adapun pendekatan itu sendiri muncul dari seringnya bertemu dalam waktu-waktu shalat antar tetangga.”
PEMBAHASAN LENGKAP
FIKIH 4 MADZHAB & FIKIH AHLI HADIS/ATSAR
FIKIH 4 MADZHAB & FIKIH AHLI HADIS/ATSAR
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########
