Pusat Belajar Bahasa Arab - Ilmu Alat : Nahwu (Bab Al-Hikayah)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya


Materi & Soal - Nahwu, Sharaf, I'rab & TOAFL Tes Seleksi Timur Tengah


BAB 43 : AL-HIKAYAH (الحكاية)

43.1. PENGERTIAN (تعريف)
                Al-Hikayah adalah menyebutkan lafaz yang didengar dari orang lain sesuai dengan keadaan aslinya tanpa mengubah harakat dan hurufnya atau menyebutkan sifatnya.

43.2. PEMBAGIAN HIKAYAH (أقسام الحكاية)
A.     Hikayah Jumlah (حكاية الجملة) adalah lafaz yang disebutkan sesuai dengan keadaan aslinya berupa kalimat. Hikayah Jumlah ada dua, yaitu:
1.     Hikayah Malfuz (ملفوظ) adalah hikayah jumlah yang terletak setelah lafaz musytaq dari mashdar (قول) (سمع) atau sejenisnya. Contoh: (وقالو الحمد لله) dan mereka mengucapkan (الحمد لله).
2.     Hikayah Maktub (مكتوب) adalah hikayah jumlah yang terletak setelah lafaz yang musytaq dari mashdar (قراءة). Contoh: (قَرَأْتُ عَلَى قَصِّهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ). Dan boleh meng-hikayah-kan jumlah dengan maknanya, maka diucapkan di dalam hikayah-nya lafaz (زَيْدٌ قَائِمٌ) menjadi (زَيْدٌ قَالَ قَائِلٌ قَائِمٌ)
B.    Hikayah Mufrad (حكاية المفرد) adalah lafaz yang disebutkan sesuai dengan keadaan aslinya berupa mufrad, bukan jumlah. hikayah mufrad ada dua, yaitu:
1.     Hikayah mufrad dengan menggunakan adat istifham,seperti (أي) dan (من).
2.     Hikayah mufrad yang tidak menggunakan adat istifham.Ada dua hukum:
                                          i.    Syadz (keluar dari kaidah bahasa), yaitu jika yang dimaksud dari hikayah mufrad ini adalah makna lafaz yang dijadikan kinayah. Contoh: (دَعْنَا مِنْ تَمْرَتَانِ).[1]Kepada orang yang berkata padanya (هَاتَانِ تَمْرَتَانِ).
                                         ii.    Tidak Syadz,yaitu jika yang dimaksud hikayah mufrad itu adalah lafaznya sendiri. Contoh ada orang yang berkata: (زيد قائم), lalu kita mengatakan (قَائِمٌ خَبَرُ زَيْدٌ). Lafaz (قائم) adalah khabar-nya lafaz (زيد).
C.     Hikayah dengan lafaz (أَيُّ). Lafaz ini bisa dipergunakan sebagai hikayah dari mas’ul anhu (lafaz yang ditanyakan) yang berupa isim nakirah yang disebutkan oleh orang lain pada kalimat sebelumnya dengan menirukan sifat-sifat yang disandang isim nakirah yang ditanyakan tersebut, berupa i’rab (nashab, rafa’ dan jar) mudzakkar, mu’annats, mufrad, tatsniyah dan jamak. Hikayah dengan lafaz ini berlaku dalam waqaf atau washal.
D.    Hikayah dengan lafaz (من). Lafaz ini bisa digunakan hikayah dari mas’ul ‘anhu yang berupa isim nakirah, dan hanya dalam tingkat waqaf saja, sedang cara meng-hikayah-kan dengan memberi sifat atau hal-hal yang dimiliki isim nakirah tersebut. Cara meng-hikayah-kannya adalah:
1.     Jika untuk meng-hikayah-kan dan menanyakan isim nakirah yang mufrad mudzakkar, maka huruf nun-nya diharakati sesuai dengan harakat isim nakirah dengan dibaca isyba’ (yakni dengan menambahkan wawu setelah harakat dhammah, alif setelah harakat fathah, ya’ setelah harakat kasrah). Contoh: (جَاءَ رَجُلٌ) hikayah-nya menggunakan (مَنُوْ), (رَأَيْتُ رَجُلًا) hikayah-nya menggunkaan (مَنَا), (مَرَرْتُ بِرَجُلٍ) hikayah-nya menggunakan (مَنِى).
2.     Jika untuk meng-hikayah-kan isim nakirah yang tatsniyah mudzakkar,maka lafaz (من) diberi alamat tatsniyah (alif dan nun ketika rafa’, ya’ dan nun ketika nashab dan jar) dan huruf nun dibaca sukun. Contoh: (جَاءَ رَجُلاَنِ) hikayah-nya menggunakan (مَنَانْ), (رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ) hikayah-nya menggunakan (مَنَيْنْ), (مَرَرْتُ بِرَجُلَيْنِ) hikayah-nya menggunakan (مَنَيْنْ).

43.3. MENG-HIKAYAH-KAN ISIM NAKIRAH MUFRAD MU’ANNATS (حكاية الاسم النكرة للمؤنث المفردة)
                Jika untuk meng-hikayah-kan isim nakirah yang mufrad mu’annats, maka lafaz (من) diberi tambahan ha’ Ta’nits dan nun berharakat fathah. Contoh: (أَتَتْ بِنْتٌ) hikayah-nya menggunakan (مَنَهْ), (رَأَيْتُ بِنْتًا) hikayah-nya menggunakan (مَنَهْ), (مَرَرْتُ بِبِنْتٍ) hikayah-nya menggunakan (مَنَهْ). Catatan: Dalam rafa’, nashab dan jar semua diucapkan (مَنَهْ) dan tidak mungkin menetapkan huruf mad pada lafaz (مَنَهْ) supaya bisa menunjukkan i’rab, karena ha’ Ta’nits dalam keadaan waqaf selalu sukun.

43.4. MENG-HIKAYAH-KAN ISIM NAKIRAH TATSNIYAH MU’ANNATS (حكاية الاسم النكرة للمؤنث المثنية)
                Jika untuk meng-hikayah-kan isim nakirah yang tatsniyah mu’annats, maka lafaz (من) diberi tambahan alamat tatsniyah dan membaca sukun huruf nun yang terletak sebelum Ta’ Ta’nits atau dibaca fathah, namun hukumnya sedikit. Contoh: (حَضَرَتْ اِمْرَأَتَانِ) hikayah-nya menggunakan (مَنْتَانْ، مَنَتَانْ), (عَلَّمْتُ تِلْمِيْذَتَيْنِ) hikayah-nya menggunakan (مَنْتَيْنِ، مَنَتَيْنِ), (مَرَرْتُ بِإِمْرَأَتَيْنِ) hikayah-nya menggunakan (مَنْتَيْنْ، مَنَتَيْنْ). Nun sebelum Ta’ Ta’nits dibaca sukun, tujuannya untuk mengingatkan bahwa Ta’ bukan untuk me-mu’annats-kan lafaz (من), tetapi untuk meng-hikayah-kan mu’annats-nya lafaz lain, sedang nun dalam bentuk mufrad tidak disukun karena menolak terjadinya dua huruf mati (iltiqa’ as-sakinain).

43.5. MENG-HIKAYAH-KAN ISIM NAKIRAH JAMAK MU’ANNATS SALIM (حكاية الاسم النكرة لجمع المؤنث السالم)
                Jika untuk meng-hikayah-kan isim nakirah yang berupa jamak mu’annats salim, maka lafaz (من) ditemukan alif dan Ta’ yang dibaca sukun. Contoh: (جَاءَتْ مُسْلِمَاتٌ) hikayah-nya menggunakan (مَنَاتْ), (رَأَيْتُ مُسْلِمَاتٍ) hikayah-nya menggunakan (مَنَاتْ), (مَرَرْتُ بِمُسْلِمَاتٍ) hikayah-nya menggunakan (مَنَاتْ).

43.6. MENG-HIKAYAH-KAN JAMAK MUDZAKKAR SALIM (حكاية اسم جمع المذكر السالم)
                Jika untuk meng-hikayah-kan jamak mudzakkar salim,maka lafaz (من) diucapkan (مَنُوْنْ) ketika rafa’, dan diucapkan (مَنِيْنْ) ketika nashab dan jar. Dan nun diakhir dibaca sukun. Contoh: (جَاءَ قَوْمٌ لِقَوْمٍ فُطَنَا).[2]Hikayah-nya menggunakan (مَنُوْنْ) dan (مَنِيْنْ). Lafaz (من) dalam semua contoh di atas adalah mabni sukun yang muqaddar (dikira-kirakan) karena untuk munasanah (keserasian) dengan huruf yang dibutuhkan dalam hikayah, sedang huruf-huruf yang bertemu dengan (من) adalah untuk menunjukkan keadaan mas’ul ‘anhu (sesuatu yang ditanyakan), apakah berupa tatsniyah atau jamak.

43.7. LAFAZ (من) MENG-HIKAYAH-KAN MAS’UL ‘ANHU ISIM NAKIRAH (لفظ من لحكاية المسؤول عنه من الاسم النكرة)
                Apabila lafaz (من) yang dipergunakan meng-hikayah-i mas’ul ‘anhu yang berupa isim nakirah tersebut di-washal-kan, maka lafaz (من) menetapi suatu lafaz yang tidak berubah-ubah, sekalipun mas’ul ‘anhu-nya berbeda keadaannya (mufrad, tatsniyah, jamak, mudzakkar, mu’annats, rafa’, nashab, atau jar). Dan apabila dalam keadaan darurat karena syair, maka lafaz (من) disesuaikan dengan mas’ul ‘anhu-nya. Contoh:
A.     Yang menetapi satu lafaz:
1.     (جَاءَنِي رَجُلٌ) hikayah-nya menggunakan (مَنْ يَاهَذَا).
2.     (رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ) hikayah-nya menggunakan (مَنْ يَاهَذَا).
3.     (مَرَرْتُ بِرِجَالٍ) hikayah-nya menggunakan (مَنْ يَاهَذَا).
4.    (جَاءَتْ اِمْرَأَةٌ) hikayah-nya menggunakan (مَنْ يَاهَذَا).
5.     (جَاءَتْ اِمْرَأَتَانِ) hikayah-nya menggunakan (مَنْ يَاهَذَا).
6.     (رَأَيْتُ المُسْلِمَاتِ) hikayah-nya menggunakan (مَنْ يَاهَذَا).
B.    Yang disesuaikan dengan mas’ul ‘anhu. Contoh: (أَتَوْا نَارِى فَقُلْتُ مَنُوْنَ أَنْتُمْ # فَقَالُوْا الجِنَّ قُلْتُ عِمُوْا ظَلَامَا).[3]Pada syair ini diucapkan (مَنُوْنَ أَنْتُمْ) padahal menurut analoginya harus diucapkan (مَنْ أَنْتُمْ).

43.8. MENG-HIKAYAH-KAN MAS’UL ‘ANHU YANG BERUPA ISIM ALAM (حكاية المسؤول عنه من اسم العلم)
                Lafaz (من) itu juga bisa dipergunakan untuk meng-hikayah-i mas’ul ‘anhu yang berupa isim alam, dengan syarat tidak terletak setelah huruf athaf. Contoh:
                (جَاءَنِي زَيْدٌ) hikayah-nya (مَنْ زَيْد)
                (رَأَيْتُ زَيْدًا) hikayah-nya (مَنْ زَيْدًا)
                (مَرَرْتُ بِزَيْدٍ) hikayah-nya (مَنْ زَيْدٍ)
                Lafaz (من) dalam contoh diatas tarkib-nya sebagai mubtada’ dan isim alam setelahnya tarkib-nya sebagai khabar atau (من) menjadi khabar muqaddam, dan isim alam-nya sebagai khabar mu’akkhar dengan menggunakan i’rab yang muqaddar (dikira-kirakan) dan isim alam disebutkan sesuai dengan isim alam pada mas’ul ‘anhu dalam kalam sebelumnya. Apabila lafaz (من) terletak setelah huruf athaf, maka isim alam tidak boleh dii’rab hikayah, akan tetapi ia harus dibaca rafa’ menjadi khabar atau mubtada’ mu’akkhar seperti lafaz (رَأَيْتُ زَيْدًا) dan (مَرَرْتُ بِزَيْدٍ). Tidak boleh diucapkan (وَمَنْ زَيْدٍ) tetapi diucapkan (وَمَنْ زَيْدٌ).

43.9. PERBEDAAN (مَنْ) DAN (أَيُّ)
A.     Lafaz (أَيُّ) sifatnya umum, yakni bisa dipergunakan untuk menanyakan sesuatu yang berakal atau yang tidak berakal, sedang lafaz (مَنْ) khusus hanya untuk menanyakan sesuatu yang berakal.
B.    Hikayahdengan lafaz (أَيُّ) bisa dalam bentuk waqaf dan washal. Sedangkan hikayah dengan lafaz (مَنْ)hanya dalam bentuk waqaf saja.
C.     Lafaz (أَيُّ) harakat i’rab-nya di-hikayah-kan tanpa dibaca isyba’ dengan diucapkan (أَيُّ), (أَيًّا) dan (أَيٍّ). Sedangkan lafaz (مَنْ) dibaca isyba’ dengan diucapkan (مَنُوْ), (مَنَا) dan (مَنِى).
D.    Lafaz (أَيُّ)huruf yang terletak sebelum Ta’ Ta’nits harus dibaca fathah dengan diucapkan (أَيَّةْ), (أَيَّتَانْ) dan (أَيَّاتْ). Sedangkan lafaz (مَنْ)boleh dibaca fathah dan sukun dengan diucapkan (مَنَتَانْ), (مَنَهْ) dan (مَنْتَانْ). Yang mufrad yang baik dibaca fathah yang tatsniyah yang baik dibaca sukun.
E.     Lafaz (أَيُّ)khusus untuk meng-hikayah-kan isim nakirah, sedang lafaz (مَنْ)bisa untuk meng-hikayah-kan isim nakirah dan isim alam.


[1] Tinggalkanlah untukku dua kurma.
[2] Telah datang satu kaum pada kaum yang lain yang cerdas.
[3] Mereka mendatangi apiku, aku berkata: “Siapakah kalian?” Mereka menjawab: “Kami adalah jin.” Lalu aku berkata: “Selamat malam buat kalian.” (Abu Zaid).


PEMBAHASAN ILMU NAHWU TERLENGKAP : klik disini


Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab


The Indonesiana Center - Markaz BSI (Bait Syariah Indonesia)


##########
 
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi  Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########