Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Al-Azhariy
BAB 55 : FI'IL MADH/NI’MA & DZAMM/BI’SA (نِعْمَ وَبِئْسَ)
55.1. PENGERTIAN (تعريفهما)
Ni’ma dan Bi’sa adalah kata kerja/kalimah Fi’il yang menunjukkan makna pujian dan celaan secara umum. Keduanya berupa Fi’il Madhi yang jamid menetapi zaman madhi dan tentunya memiliki Fail/Subjek. Akan tetapi kedua Fi’il ini tidak ada penunjukan waktu setelah keduanya berikut Fail-nya dijadikan kalimat berupa jumlah insya’ ghairu thalabiy.
55.2. FA’IL/SUBJEK NI’MA & BI’SA (فاعلهما)
A. Menyandang Alif Lam (ال) baik disebut Alif Lam Jinsiyyah atau Ahdiyyah.Contoh: (نِعْمَ الخُلُقُ الصِدْقُ) (وَبِئْسَ الخُلُقُ الكَذِبُ) (نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ).[1]
B. Mudhaf kepada isim yang menyandang Alif Lam (ال).Contoh: (نِعْمَ قَائِدُ المُسْلِمِيْنَ خَالِدٌ) (وَبِئْسَ رَجُلُ القَوْمِ أَبُوْ جَهْلٍ) (وَلَنِعْمَ دَارُ المُتَّقِيْنَ) (وَبِئْسَ مَثْوَى الظَالِمِيْنَ).[2]
C. Mudhaf kepada isim yang mudhaf kepada isim yang menyandang Alif Lam.Contoh: (نِعْمَ حَافِظُ كِتَابِ اللهِ) (وَبِئْسَ مُهْمِلِ أَوَامِرِ القُرْآنِ).[3]
D. Fa’il-nya berupa dhamir mustatir dan setelahnya ada isim nakirah sebagai penafsir dari kesamaran tentang dhamir mustatir tersebut.Contoh: (نِعْمَ صِدِيْقًا الكِتَابُ) (بِئْسَ خُلُقًا خَلْفُ الوَعْدِ) (بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلًا).[4]
55.3. HURUF MAA (ما) SETELAH NI’MA & BI’SA
Huruf Maa (ما) dapat terletak setelah (نعم) dan (بئس) untuk itu dapat diucapkan (نِعْمَ مَا أَوْ نِعِمَّا) dan (بِئْسَمَا). Contoh: (نِعْمَ مَا يَقُوْلُ الفَاضِلُ) (إِنْ تُبْدُوْا الصَدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ) (بِئْسَمَا اِشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ).[5]
55.4. LAFAZ-LAFAZ YANG DIBERLAKUKAN SEPERTI NI’MA & BI’SA (الألفاظ المشبهة بنعم وبئس)
A. Lafaz (سَاءَ) berlaku sebagai (بئس) Fa’il-nya haruslah isim bersama (ال). Contoh: (سَاءَ الرَجُلُ زَيْدٌ) atau setidaknya mudhaf pada isim yang mempunyai (ال). Contoh: (سَاءَ غُلَامُ الرَجُلِ زَيْدٌ) mempunyai Fa’il dhamir misterius yang menjadi jelas oleh tamyiz setelahnya. Contoh: (سَاءَ مَثَلًا بِالقَوْمِ الَّذِي كَذَّبُوْا بِآيَاتِنَا).[6]
B. Lafaz (لَاحَبَّذَا) juga bisa berlaku sebagai (بئس) untuk menghina maka jadikan (لَاحَبَّدَا زَيْدٌ).[7]Lafaz (حَبَّذَا) berlaku sebagai (نِعْمَ), (حَبَّ) sebagai fi’il madhi dan (ذ) sebagai Fa’il. Contoh: (حَبَّذَا زَيْدٌ)[8]boleh menjadikan (حَبَّ) sebagai khabar yang didahulukan dan (زيد) sebagai mubtada’ muakhkhar atau sebagai khabar dari mubtada’ yang dibuang (حَبَّذَا هُوَ زَيْدٌ). Makhshus yang terletak setelah (ذا) dalam bentuk apapun baik mufrad, mudzakkar, mu’annats, tatsniyyah atau jamak. Contoh: (حَبَّذَا زَيْدٌ) (حَبَّذَا الزَيْدَانِ) (حَبَّذَا الزَيْدُوْنَ).
C. Semua fi’il tsulasti secara mutlak dengan mengikutkan wazan (مضموم العين) (فَعُلَ) untuk kepentingan makna sanjungan atau penghinaan fi’il bentukan ini mempunyai ketentuan hukum yang sama dengan (نعم) untuk menyanjung zaid betapa mulianya. Contoh: (شَرُفَ الرَجُلُ زَيْدٌ). Dan (بئس) untuk menghina. Contoh: (لَؤُمَ الرَجُلُ). Lafaz (ساء) asalnya (سَوَأَ) kemudian dipindah ke-Wazan (فَعُلَ) menjadi (سَوُأَ) maka maknanya menjadi lazim, lalu diberi makna (بئس), maka menjadi lazim dan jamid. Lafaz yang dibentuk ikut wazan (فَعُلَ) untuk tujuan memuji atau mencela diisyaratkan pantas dijadikan shighah Ta’ajjubiyah dan mengandung makna Ta’ajjub. Menurut sebagian ahli bahasa, terdapat tiga lafaz yang wazan-nya tidak (فَعُلَ), yaitu (سَمِعَ/جَهِلَ/عَلِمَ). Syarat-syaratnya adalah: (1) Menjadi fi’il ghairu mutasharrif; (2) Hanya dilakukan pada bentuk madhi-nya saja; (3) Memberi faidah makna memuji atau mencela; (4) Fa’il-nya harus dibentuk seperti Fa’il-nya (نعم وبئس).
55.5. KETENTUAN-KETENTUAN LAINNYA
A. Setelah menyebutkan (نعم) dan (بئس) serta kedua Fa’il-nya, maka harus menyebutkan isim yang dibaca rafa’ yang menjadi makhshus-nya (sesuatu yang ditentukan dengan pujian atau celaan), sedangkan tandanya makhshus yaitu dijadikan mubtada’, dan fi’il Fa’il-nya menjadi khabar mubtada’. Contoh: (نِعْمَ الرَجُلُ أَبُوْ بَكْرٍ) (بِئْسَ الرَجُلُ أَبُوْ جَهْلٍ).[9] Apabila sudah menyebutkan lafaz yang bisa menunjukkan makhshus, maka diakhir sudah dianggap cukup untuk tidak menyebutkan makhshus.
1. Contoh: (العِلْمُ نِعْمَ المُقْتَنَى وَالمُقْتَفَى) taqdir-nya (نِعْمَ المُقْتَنَى العِلْمُ).[10]
2. Contoh: (إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا، نِعْمَ العَبْدُ، إِنَّهُ أَوَّابٌ) taqdir-nya (نِعْمَ العَبْد أَيُّوْبُ).[11]
B. Pembuangan Makhsush. Apabila sudah menyebutkan lafaz yang bisa menunjukkan pada makhshush, maka diakhir sudah dianggap cukup dengan tidak menyebutkan makhshush. Contoh: (العِلْمُ نِعْمَ المُقْتَنَىى وَالمُقْتَفَى) taqdirnya (نِعْمَ المُقْتَنَى العِلْمُ).[12]
C. Lafaz (ساء) seperti (بئس) secara makna dan hukum adalah sama, yaitu untuk mencela. Oleh karena itu, Fa’il-nya harus sama.
1. Fa’il bersama Alif Lam. Contoh: (سَاءَ الرَجُلُ زَيْدٌ), artinya, “Sejelek-jelek lelaki adalah Zaid.”
2. Fa’il-nya berupa lafaz yang di-idhafah-kan pada lafaz yang bersamaan dengan Alif Lam. Contoh: (سَاءَ غُلَامُ القَوْمِ زَيْدٌ) artinya, “Sejelek-jeleknya pelayan kaum adalah Zaid.”
3. Fa’il-nya berupa dhamir mustatir, yang ditafsiri dengan isim nakirah yang dibaca nashab, sebagai tamyiz. Contoh: (سَاءَ رَجُلًا زَيْدٌ)
[1] Sebaik-baik akhlaq yaitu jujur/Dan seburuk-buruk akhlaq yaitu dusta/Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
[2] Sebaik-baik panglima muslimin yaitu Khalid/Dan seburuk-buruk lelaki suatu kaum yaitu Abu Jahal/Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa/Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.
[3] Sebaik-baik orang yang hafal Kitab Allah/Seburuk-buruk orang yang menelantarkan perintah-perintah Al-Qur’an.
[4] Sebaik-baik teman yaitu kitab/Seburuk-buruk perangai yaitu tidak menepati janji/Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.
[5] Sebaik-baik perkataan adalah yang dikatakan oleh orang yang mulia/Jika kalian menampakkan sedekah kalian, itu adalah baik sekali/Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri.
[10] Ilmu adalah sebaik-baiknya sesuatu yang dicari dan diikuti/Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar, dialah sebaik-baiknya hamba, sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).
[11] Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar, dialah sebaik-baiknya hamba, sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########

