Pusat Belajar Bahasa Arab - Ilmu Alat : Nahwu (Bab Ushlub Ta'ajjub)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Al-Azhariy


Materi & Soal - Nahwu, Sharaf, I'rab & TOAFL Tes Seleksi Timur Tengah


BAB 56 : USLUB TA’AJJUB (أسلوب التعجب)

56.1. PENGERTIAN (تعريف الأسلوب التعجبي)
            Uslub Ta’ajjubadalah uslub yang digunakan untuk memberi berita tentang suatu kedahsyatan atau pengagungan sifat sesuatu. Contoh: (مَا أَعْذَبَ مَاءَ النِّيلِ).[1]Sesuatu yang sudah jelas sebabnya tidak bisa dikatakan ta’ajjub/kagum, seperti tidak ada ta’ajjub bagi Allah atas sesuatu, karena segala sesuatu sudah diketahui oleh Allah, termasuk sebabnya.

56.2. SHIGHAH TA’AJJUBIYAH (الصيغ التعجبية)
A.     Shighah Ta’ajjub yang tidak ditetapkan pembagiannya dalam kitab bahasa Arab (غير المبوب له):Contohnya ada banyak sekali, seperti:
1.     Kalimat (كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ).[2]Lafaz (كَيْفَ) yang asalnya untuk istifham/bertanya, digunakan untuk ta’ajjub secara majaz.
2.     Kalimat (سُبْحَانَ اللهِ المُؤْمِنُ لَا يَنْجُسُ).[3]Ungkapan kekaguman atas bersihnya akidah orang mukmin.
3.     Kalimat (لِلهِ دَرُّهُ فَارِسًا).[4] Ungkapan kekaguman atas kelihaian Zaid berkuda, padahal jika dibanding dengan yang lain sama-sama dari air mani.
4.    Kalimat (لله أَنْتَ). Artinya, “Kamu (dengan seluruh kesempurnaan) adalah milik Allah.”
5.     Kalimat (وَاهَا لِسَلْمَى). Lafaz (واها), isim fi’il bermakna (أَعْجَبَ). Artinya, “Aku kagum pada Salma.”
B.    Shighah Ta’ajjub yang ditetapkan bab-nya dalam kitab bahasa Arab (المبوب له):
1.     Shighah (مَا أَفْعَلَهُ). Lafaz (ما) disebut Maa Ta’ajjubiyyah/Maa Nakirah Tammah. Lafaz (أفعل) merupakan Fi’il Madhi yang mengandung dhamir mustatir yang kembali kepada Maa, yang kedudukannya sebagai Fa’il, lafaz yang terletak setelahnya dibaca nashab, sebagai maf’ul bih.
2.     Shighah (أَفْعِلْ بِهِ).

56.3. RUKUN USLUB TA’AJJUB (أركانه)
A.     (ما التعجب).
B.    (فعل التعجب).
C.     (مؤ التعجب  منه).

56.4. SYARAT-SYARAT USLUB TA’AJJUB (شروط الأسلوب التعجبي)
A.     Fi’il Tsulatsi (tiga huruf). Contoh: (جَمُلَ – عَظُمَ – عَذُبَ – صَدَقَ – كَبُرَ – كَثُرَ).
B.    Fi’il Tam (yaitu tidak naqish seperti Kana dan saudaranya).
C.     Bukan sifat yang ber-Wazan (أَفْعَلُ) yang mu’annats-nya (فَعْلَاء).
D.    Mutsbat (tidak di-nafi-kan).
E.     Mabni lil ma’lum.
F.     Mutasharrif (yaitu ada madhi, mudhari’ dan amr).
G.    Dapat memberi pengertian mufadhalah.

56.5. KETENTUAN LAINNYA (الضوابط الأخرى)
A.     Apabila fi’il bukan tsulatsi (Misalnya: تَفَوَّقَ, اِنْتَصَرَ dan seterusnya) atau naqish (misalnya: كان، ظل dan seterusnya) atau sifat yang ber-Wazan (أَفْعَلُ) yang mu’annats-nya (فَعْلَاء)  (misalnya: سَوِدَ, حَمِرَ dan seterusnya), maka kita perantarai Ta’ajjub dengan kata (أَشَدَّ) atau (أَشْدِدْ) atau yang semisalnya dan kita datangkan setelahnya mashdar-nya yang sharih atau mashdar Muawwal.
1.     Kalimat (مَا أَصْعَبَ كَوْنَ الدَّوَاءِ مُرًّا).[5]
2.     Fi’il Naqish. Contoh: (مَا أَرْوَعَ أَنْ يَنْتَصِرَ الجَيشُ).[6]
3.     Fi’il Bukan Tsulatsi. Contoh: (مَا أَشَدَّ سَوَادَ اللَيلِ).[7]
B.    Apabila fi’il di-nafi-kan (misalnya: لَا يَصْدُقُ, لَا يَقُولُ dan seterusnya) atau mabni majhul (Misalnya: يُقَالُ, يُعَاقَبُ dan seterusnya), maka kita perantarai Ta’ajjub dengan cara yang sama seperti di atas bersamaan dengan menggunakan mashdar Muawwal.
1.     Fi’il di-nafi-kan. Contoh: (مَا أَضَرَّ أَلَّا يَصْدُقَ العَامِلُ).[8]
2.     Fi’il Mabni Majhul. Contoh: (مَا أَجْمَلَ أَنْ يُقَالَ الحَقُّ).[9]
C.     Sama sekali tidak bisa membuat Ta’ajjub dari fi’il jamid (عَسَى – لَيسَ – نِعْمَ – بِئْسَ).
D.    Ta’ajjub juga mempunyai shighah yang bukan Qiyasi. Contoh: (سُبْحَانَ اللهِ) (لِلهِ دَرُّهُ) (يَا لَهُ مِنْ بَطَلٍ).[10]
E.     Bagaimana menTa’ajubkan fi’l/lafaz yang tidak memenuhi syarat? Menggunakan mashdar mansub setelah (أَشَدَّ atau أَكْثَرَ) dan majrur karena (بِ) tambahan setelah (أَشَدَّ atau أَكْثَرَ). Contoh: (ما أشدَّ إيمانه) dan (أبلغ بإجتهاده).[11]


[1] Betapa jernihnya air sungai Nil.
[2] Bagaimana mereka kufur pada Allah, padahal mereka asalnya sudah mati lalu dihidupkan kembali.
[3] Maha suci Allah, orang mukmin itu tidak kotor (akidahnya).
[4] Zaid, yang pandai berkuda, air maninya adalah ciptaan Allah.
[5] Betapa sulitnya keadaan obat yang pahit.
[6] Betapa megahnya kemenangan tentara itu.
[7] Betapa pekatnya malam.
[8] Betapa merugikannya apabila pekerja tidak jujur.
[9] Betapa indahnya apabila kebenaran itu diucapkan.
[10] Maha Suci Allah/ Betapa hebatnya dia/ Betapa hebatnya dia sebagai pahlawan.
[11] Betapa kuat imannya/ Alangkah hebatnya kerja keras/usahanya.


PEMBAHASAN ILMU NAHWU TERLENGKAP : klik disini


Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab


The Indonesiana Center - Markaz BSI (Bait Syariah Indonesia)

########## 
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi  Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########