Pusat Belajar Bahasa Arab - Ilmu Alat : Nahwu (Bab Al-Isytighal)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya


Materi & Soal - Nahwu, Sharaf, I'rab & TOAFL Tes Seleksi Timur Tengah


BAB 37 : AL-ISYTIGHAL (الاشتغال)

37.1. PENGERTIAN (تعريف الاشتغال)
                Isytighal adalah pola susunan kalimat di mana isim berada di posisi sebelum fi’il. Fungsi dari fi’il dalam me-nashab-kan maf’ul-nya diganti dengan dhamir pengikat yang kembali kepada isim yang posisinya didahulukan. Contoh: (خَالِدًا ضَرَبْتُهُ). Keterangannya: Fa’il dan fi’il pada contoh ini sudah pasti membutuhkan objek yang harus di-nashab-kan, karena posisi Khalid berada di awal, jadi tidak bisa di-nashab-kan. Pada akhirnya diletakanlah dhamir pengikat yang sesuai dengan Khalid untuk menyempurnakan tujuaannya. Apakah i’rab Khalid pada contoh di atas bisa nashab atau rafa’? Keduanya diperbolehkan. Ketika menjadi nashab maka terdapat lafaz yang disembunyikan, karena tidak bisa isim berubah nashab kecuali ada amil-amil yang me-nashab-kannya. Contoh di atas taqdir-nya adalah (ضَرَبْتُ خَالِدًا ضَرَبْتُهُ).

37.2. ADAT ISYTIGHAL (أداة الاشتغال)
A.     (المشغول عنه) yaitu isim zahir yang mendahului fi’il. Syarat-syaratnya adalah:
1.     Isim tersebut harus didahulukan dari pada amil-nya. Jika tidak, maka keluar dari kaidah isytighal. Contoh: (ضربته خالدا - ضربته خالد). Jika diakhirkan seperti ini maka lafaz (خالدا) manshub bukan karena isytighal, melainkan badal dari dhamir (ه) atau marfu’ sebagai mubtada’ muakhkhar.
2.     Isim tersebut harus dari kategori yang bisa menerikan dhamir pengikat, yaitu maf’ul bih. Tidak dari kategori isim manshub seperti tamyiz atau haal karena keduanya tidak menerima dhamir pengikat.
3.     Isim tersebut harus benar-benar membutuhkan ‘amil untuk me-nashab-kannya. Contoh: (في البيت كلب فاضربه). Lafaz (كلب) tidak lagi membutuhkan ‘amil karena tanpa adanya kalimat (فاضربه) dia sudah berada dalam jumlah mufidah sebagai mubtada’ muakhkhar dengan khabar muqaddam (syibh al-jumlah). Jadi tidak berhak menjadi Masyghul ‘anhu.
4.    Isim tersebut harus ma’rifah atau nakirah mukhtashash (disifati). Artinya ketika menjadi maf’ul bih, dia juga harus memungkinkan dijadikan mubtada’. Karena memang dalam isytighal ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi. Contoh: (خالد ضربته - خالدا ضربته). Keadaan i’rab rafa’ atau nashab untuk isim-isim yang diawalkan ini (Masyghul ‘anhu) keduanya diperbolehkan.
B.    (المشغول) yaitu fi’il yang jatuh setelah isim zahir. Atau amil yang me-nashab-kan dhamir pengikat. Syarat-syaratnya:
1.     Jika amil ini berbentuk fi’il, dia tidak boleh terpisah dengan Masyghul ‘anhu.Contoh: (خَالِدٌ أَنْتَ تَضْرِبُهُ) (الرَجُلُ أَنْتَ تَسْمَعُهُ). Karena lafaz (الرجل) dan (خالد) adalah Masyghul ‘anhu dan ‘amil-nya lafaz (تضرب) dan (تسمع) terpisah oleh dhamir (أنت), maka dia tidak berhak masuk kaidah isytighal dan di-nashab-kan. Jadi (خالد) dan (الرجل) tetap berada di lingkaran rafa’ sebagai mubtada’. Terkecuali jika ‘amil-nya berbentuk isim Fa’il atau Isim Maf’ul, maka boleh terpisah. Contoh: (خَالِدًا أَنْتَ ضَارِبُهُ الآنَ) dan (الكِتَابَ أَنْتَ مُعْطَاهُ).
2.     Amil-amil ini harus dari kategori fi’il mutasharrif atau isim Fa’il, Isim Maf’ul dan syibh mubalaghah. Bukan dari isim jamid, huruf ataupun isim fi’il yang pada dasarnya tidak beramal me-nashab­-kan isim yang diawalkan posisinya. Contoh: (خَالِدٌ إِنَّهُ فَاضِلٌ). Lafaz (خَالِدٌ) tidak boleh manshub karena (إِنَّ) adalah huruf yang tidak beramal me-nashab-kan isim sebelumnya. Contoh lainnya (خَالِدٌ مَا أَفْضَلُهُ). Lafaz (خَالِدٌ) tidak boleh manshub karena lafaz (مَا أَفْضَلُ) adalah fi’il jamid (shighah Ta’ajjub) yang tidak beramal me-nashab-kan isim sebelumnya.
3.     Khusus dalam penggunaan amil yang berbentuk isim Fa’il dan shighah mubalaghah harus menunjukkan waktu hadis dan mustaqbal.Contoh: (الدَرْسَ أَنَا مُذَاكِرُهُ الآنَ - الدَرْسَ أَنَا مُذَاكِرُهُ غَدًا). Jika amil isim Fa’il dan shighah mubalaghah ini menunjukkan waktu lampau, maka tidak boleh me-nashab-kan Masyghul ‘anhu sebagai maf’ul bih. Contoh: (الدَرْسَ أَنَا مُذَاكِرُهُ أَمْسِ).[1]
4.    Khusus dalam penggunaan amil yang berbentuk Isim Maf’ul, dia wajib nakirah tanpa alif lam Ta’rif. Contoh: (الكِتَابُ / الكِتَابَ أَنْتَ مُعْطَاهُ)
C.     (المشغول به) yaitu isim dhamir yang kembali kepada Masyghulun ‘anhu. Posisi dhamir pengikat boleh berada di tiga posisi:
1.     Terletak langsung setelah amil (berada di tempat manshub). Contoh: (خَالِدًا ضَرَبْتُهُ)
2.     Terhalang isim zhahir (menjadi mudhaf ilaih dan berada di tempat majrur yang di-idhafah-kan pada isim zhahir di tempat manshub). Contoh: (خَالِدًا ضَرَبْتُ أَخَاهُ)
3.     Terhalang huruf jar (menjadi objek dengan perantara huruf jar karena amil-nya fi’il lazim). Contoh: (خَالَدًا أَعْجَبْتُ بِهِ) dan (خَالِدًا مَرَرْتُ بِهِ).[2]

37.3. HUKUM MASYGHUL ‘ANHU (أحكام المشغول عنه)
A.     Wajib nashab sebagai maf’ul bih (وجوب النصب)
1.     Ketika Masyghul ‘anhu didahului perangkat syarat seperti (إن - حيثما). Contoh: (حَيْثُمَا خَالِدًا قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بِهِ). Dan (إِنْ خَالِدًا قَابَلْتَهُ فَأَنَا أُرَحِّبُ بِهِ).[3]
2.     Ketika Masyghul ‘anhu didahului perangkat istifham selain huruf hamzah. Kenapa hamzah tidak masuk? Karena dia tidak dikhususkan untuk fi’il seperti istifham lainnya. Contoh: (أَ زَيْدٌ فِي البَيْتِ). Dan ketika hamzah ini masuk pada isim, dia tidak mengharuskan isim tersebut wajib nashab, boleh juga rafa’. Akan tetapi ber-i’rab nashab lebih diutamakan. Contoh: (فَقَالُوْا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَلٍ وَسُعُرٍ).[4]
3.     Ketika Masyghul ‘anhu didahului perangkat aradh atau tahdid (أداة العرض أو التحضيض) seperti (ألا - هلا - لوما - ألا). Contoh: (أَلَا الدَرْسَ تُذَاكِرُهُ).[5] Perangkat (ألا - هلا) ini melahirkan makna berbeda-beda sesuai tujuan pemakaiannya.
B.    Wajib rafa’ sebagai mubtada’:
1.     Masyghul ‘anhu wajib marfu’ ketika didahului perangkat idza fazai’yyah (إذا الفجائية) dan (أما الشرطية). Keduanya khusus masuk pada isim mubtada’. Contoh: (وَصَلْتُ إِلَى البَيْتِ فَإِذَا الثُعْبَانُ يَضْرِبُهُ خَالِدٌ).[6] Lafaz (ثعبان) adalah Masyghul ‘anhu yang wajib rafa’ menjadi mubtada’ karena didahului perangkat (إذا الفجائية) yang khusus masuk pada isim mubtada’.
2.     Masyghul ‘anhu wajib marfu’ ketika ia dan Masyghul terpisah oleh isim/huruf yang tidak beramal me-nashab-kan isim sebelumnya. Isim-isim pemisah ini seperti isim syarth, istifham, lam ibtida’, ard’, tahdhidh, Kam Khabariyyah, isim maushul, wawu qasam, Ta’ajjub, huruf nasikh seperti (إن - كان), maa nafyi. Contoh: (المَسْجِدُ هَلْ صَلَّيْتَ فِيْهَا؟).[7]
3.     Masyghul ‘anhu wajib marfu’ ketika didahului huruf wawu haal. Contoh: (جِئْتُ وَالبَيْتُ يَمْلُؤُهُ الضُيُوْفُ).[8] Lafaz (البيت) adalah Masyghul ‘anhu yang wajib rafa’ sebagai mubtada’ karena didahului wawu haal.
C.     Boleh memilih antara rafa’ atau nashab. Masyghul ‘anhu boleh marfu’ atau manshub ketika berada di posisi setelah jumlah dan di-athaf-kan kepada jumlah tersebut. Contoh: (خَالِدٌ قَامَ أَبُوْهُ وَزَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ).[9] Kalimat (زيد أكرمته) di-athaf-kan kepada kalimat (خالد قام أبوه) yang melahirkan kaidah bahwa lafaz Zaid sebagai Masyghul ‘anhu boleh nashab dan atau rafa’.
D.    Diutamakan rafa’.Masyghul ‘anhu lebih diutamakan ber-i’rab rafa’ sebagai mubtada’ daripada nashab sebagai maf’ul bih ketika dia tidak didahului apapun. Contoh: (خَالِدٌ ضَرَبْتُهُ). Meskipun lafaz (خالد) boleh dalam keadaan nashab dengan memperkirakan amil yang dibuang, namun dengan keadaan rafa’ dan tanpa ada perkiraan akan lebih utama.
E.     Diutamakan nashab:
1.     Masyghul ‘anhu lebih diutamakan ber-i’rab nashab sebagai maf’ul bih daripada rafa’ sebagai mubtada, ketika amil-nya berupa perintah dan larangan atau didahului hamzah istifham. Contoh: (خَالِدًا لَا تَضْرِبْهُ) yang artinya: “Jangan pukul Khalid.”
2.     Ketika dengan di-nashab-kannya Masyghul ‘anhu, melahirkan makna yang nampak jelas. Contoh: (إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ).[10]Lafaz (كل) adalah Masyghul ‘anhu sebagai maf’ul bih lebih diutamakan nashab daripada rafa’). Untuk menampakan makna yang jelas bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah Ta’ala.


[1] Aku sedang menghafal materi ini sekarang/Aku akan menghafal materi ini besok/Materi ini telah aku hafalkan kemarin.
[2] Aku kagum dengan Khalid - Aku berpapasan dengan Khalid.
[3] Di manapun kamu bertemu Khalid, maka aku akan menyambutnya/Jika kau bertemu Khalid, maka aku kan menyambutnya.
[4] Apakah Zaid di rumah?/Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia di antara kita? Sungguh, kalau begitu kita benar-benar telah sesat dan gila.
[5] Apakah tidak, ketahuilah, mengapa tidak, ingatlah / Mengapa kau tidak menghafal pelajaran.
[6] Aku sampai rumah, tiba-tiba Khalid sedang memukul ular.
[7] Apakah aku shalat di masjid?
[8] Aku datang dalam keadaan rumah dipenuhi tamu.
[9] Ayah Khalid berdiri dan Zaid yang aku hormati.
[10] Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan taqdir.




PEMBAHASAN ILMU NAHWU TERLENGKAP : klik disini


Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab


The Indonesiana Center - Markaz BSI (Bait Syariah Indonesia)


##########
 
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi  Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########