Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya
BAB 30 : AT-TAMYIZ (التمييز)
30.1. PENGERTIAN (تعريف التمييز)
Tamyizadalah isim nakirah manshub yang disebutkan untuk menjelaskan maksud dari kata sebelumnya yang belum jelas (atau dengan makna lain, Tamyiz adalah setiap isim nakirah yang mengandung makna (مِنْ) untuk menjelaskan kata sebelumnya yang masih global). Contoh: (اِشْتَرَيتُ قِنْطَارًا قَمْحًا). Seandainya dikatakan (اِشْتَرَيتُ قِنْطَارًا) kemudian kita diam niscaya pendengar tidak akan memahami apakah kita membeli satu kwintal kacang, kapas, gandum atau yang selainnya, hal tersebut karena kata kwintal masih belum jelas dimana bisa untuk berbagai macam barang. Ketika kita katakan gandum, berarti kita telah membedakan maksud dari kwintal tersebut. Kata kwintal ini dinamakan mumayyaz dan gandum dinamakan tamyiz.
30.2. PEMBAGIAN MUMAYYAZ (أقسام المميز)
A. Mumayyaz Malfuzh (المميز الملفوظ),yaitu mumayyaz yang disebutkan dalam kalimat. Dapat berupa:
1. Isim Wazn (wazan). Contoh: (اِشْتَرَيتُ دِرْهَمًا ذَهَبًا)
2. Isim Kail (takaran). Contoh: (بَاعَ الفَلَّاحُ إِرْدَبًّا قَمْحًا)
3. Isim Masahah (jarak/luas). Contoh: (زَرَعْتُ فَدَّانًا شَعِيرًا)
4. Isim ‘Adad (bilangan). Contoh: (يَتَرَكَّبُ اليَومُ مِنْ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ سَاعَةً)
B. Mumayyaz Malhuzh (المميز الملحوظ),yaitu disebutkan mumayyaz-nya, dan tamyiz merupakan perubahan dari mubtada’, Fa’il atau maf’ul bih, dan hukum i’rab-nya wajib nashab.
1. Perubahan dari mubtada’. Contoh: (المُدَرِّسُ أَكْثَرُ مِنَ الطَّالِبِ خِبْرَةً) asal kalimatnya (خِبْرَةُ المُدَرِّسِ أَكْثَرُ مِنِ خِبْرَةِ الطَّالِبِ)
2. Perubahan dari Fa’il. Contoh: (طَابَ مُحَمَّدٌ نَفْسًا) asal kalimatnya (طَابَتْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ)
3. Perubahan dari maf’ul bih. Contoh: (غَرَسْتُ الأَرْضَ شَجَرًا) asal kalimatnya (غَرَسْتُ شَجَرَ الأَرْضِ)
30.3. TAMYIZ & HUKUM I’RAB-NYA (التمييز وحكم إعرابه)
A. Tamyiz malhuzh selalu manshub
B. Tamyiz malfuzh menjadi manshub apabila mumayyaz berupa isim wazan, kail atau masahah. Boleh juga me-majrur-kan tamyiz malfuzh dengan idhafah atau dengan (مِنْ). Contoh: (اِشْتَرَيتُ جِرَامًا ذَهَبًا) atau (اِشْتَرَيتُ جِرَامَ ذَهَبٍ) atau (اِشْتَرَيتُ جِرَامًا مِنْ ذَهَبٍ)
C. Adapun tamyiz ‘adad (yaitu isim nakirah yang terletak setelah ‘adad) bisa menjadi majrur atau manshub dengan rincian berikut ini:
a. Tamyiz ‘adad dari 3 sampai 10 jamak majrur. Contoh: (رَأَيتُ أَرْبَعَةَ رِجَالٍ)
b. Tamyiz ‘adad dari 11 sampai 99 mufrad manshub. Contoh: (فِي الفَصْلِ ثَلَاثَةٌ وَثَلَاثُونَ طَالِبًا)
c. Tamyiz 100 dan 1.000 dan kelipatannya semuanya mufrad majrur. Contoh: (حَضَرَ الحَفْلَ أَرْبَعُمِائَةِ شَابٍّ)
30.4. KETENTUAN-KETENTUAN TAMYIZ & MA’DUD (ضوابط التمييز و المعدود)
A. Tamyiz Jumlah atau Tamyiz Nisbah atau Tamyiz Malhuz adalah tamyiz yang berfungsi menjelaskan kesamaran kalimat secara keseluruhan. Atau menjelaskan sesuatu yang masih berhubungan dengan Isim Mubham yang berada dalam suatu kalimat. Artinya, sesuatu yang akan diperjelas dengan tamyiz masih dianggap samar dan bukan merupakan bentuk isim yang nampak seperti pada tamyiz mufrad, melainkan kesamaran makna suatu kalimat secara keseluruhan. Maka dari itu, tamyiz ini disebut dengan istilah tamyiz jumlah (bukan tamyiz-nya sendiri yang berbentuk jumlah, melainkan mumayyaznya. Contohnya: (حَسُنَ خَالِدٌ خُلُقًا). Hukum i’rab tamyiz juga wajib nashab jika terletak setelah fi’il tafdhil dengan catatan secara makna adalah Fa’il atau ketika posisi tamyiz ini diubah menjadi berada di posisi Fa’il, dia tidak mengubah makna kalimat keseluruhan. Contoh: (حَسُنَ خَالِدٌ خُلُقًا). Boleh Tamyiz Jumlah lebih dari satu,tapi syaratnya wajib menambahkan huruf athaf. Contoh: (جَمُلَ خَالِدٌ جِسْمًا وَوَجْهًا). Boleh mengakhirkan amil-amil dari tamyiz-nya,namun lebih baik tetap diawalkan dan tamyiz diakhirkan. Meskipun terkadang pada tamyiz jumlah sering ditemukan amil-amil yang diakhirkan, tapi langka, hanya terjadi dalam syair-syair Arab.
B. Hukum tamyiz/ma’dud-nya:
1. ‘Adad dari 1 dan 2, hukum tamyiz/ma’dud-nyaharus disebutkan setelah ma’dud-nya. Contoh: (فِي القَرْيَةِ مَسْجِدٌ وَاحِدٌ) tidak boleh mengatakan (فِي القَرْيَةِ وَاحِدُ مَسْجِدٍ). Contoh lain: (اِشْتَرَيْتُ كِتَابَيْنِ اثْنَيْنِ) tidak boleh mengatakan (اشْتَرَيْتُ اِثْنَي كِتَابَيْنِ). Karena cukup penyebutan ma’dud secara langsung sudah mencukupi jumlah yang dimaksud (mufrad/mutsanna = satu/dua). Maka tidak perlu untuk menyebut ‘adad pada sebelum ma’dud-nya.
2. ‘Adad dari 3 sampai 10 hukum tamyiz/ma’dud-nya:
i. Dijadikan mudhaf ilaih dengan susunan idhafah, yakni me-mudhaf-kan adad kepada ma’dud yang dibutuhkan sebagai tamyiz-nya. Dan terkadang tidak di-mudhaf-kan kepada tamyiz-nya tapi cukup di-mudhaf-kan langsung kepada tamyiz/ma’dud. Karena dalam hal ini si pembicara sudah memaklumi akan jenis/bentuk ma’dud. Sehingga tidak perlu di-tamyiz. Contoh: (هذِهِ خَمْسَةُ مُحَمَّدٍ) (خُذْ سَبْعَتَكَ)
ii. Ma’dud-nya berbentuk jamak, yang sering digunakan adalah dalam bentuk Jamak Taksir Qillah. Dan diketahui juga bahwa maksud jamak dalam ma’dud di sini tidak harus berupa bentuk jamak dalam istilah, tapi juga bisa masuk kepada semua jenis isim yang menunjukkan jamak, seperti Isim Jamak dan Isim Jinsi Jam’i, yang dalam penggunaannya banyak menyertakan huruf jar (مِنْ). Contoh: (فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ). Terkadang juga langsung disusun secara idhafah. Contoh: (وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُرَهْطٍ)
iii. Menggunakan bentuk isim mufrad, apabila adad-adad tersebut diatas ber-tamyiz pada lafaz (مِائَةٌ).Contoh: (فِي المَعْهَدِ ثَلَثُمِائَةِطَالِبٍ وَأَرْبَعُمِائَةِ مَقْعَدٍ)
iv. Menggunakan bentuk jamak shahih, apabila tidak terdapat dalam bentuk jamak taksir-nya.Contoh: (اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ)
v. Tetap menggunakan bentuk Jamak Taksir Katsrah sekalipun ada dalam bentuk Jamak Taksir Qillah-nya. Contoh: (وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ)
3. ‘Adad 100 sampai dengan 1000 hukum tamyiz/ma’dud-nya pada umumnya harus berupa isim mufrad yang di-jar-kan menjadi mudhaf ilaih.Contoh: (الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ) (يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ). Terkadang menggunakan ma’dud/tamyiz bentuk jamak majrur dari ‘adad (مائة). Contoh: (وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا)
C. Persamaan & perbedaan antara Tamyiz & Haal:
1. Persamaannya, keduanya berbentuk isim, nakirah, manshub, fadhah (bukan pokok kalimat/pelengkap) dan menjadi penjelas
2. Perbedaannya:
i. Tamyizsemua bentuk mufrad, adapun Haal terdapat bentuk mufrad, jumlah dan syibhul jumlah
ii. Tamyizhanya merupakan fadhah (pelengkap) sedangkan Haal terkadang beralih menjadi umdah kalimah (pokok kalimat)
iii. Pada Tamyiz jumlah, tidak boleh memiliki banyak tamyiz kecuali disekat huruf athaf, sedangkan dalam Haal boleh keduanya
iv. Pada Tamyiz mufrad tidak boleh mengakhirkan amil, sedangkan dalam Haalboleh keduanya. Contoh tamyiz: (حَسُنَ خَالِدٌ وَجْهًا وَجِسْمًا) Haal (جَاءَ خَالِدٌ غَاضِبًا وَبَاكِيًا - جَاءَ خَالِدٌ غَاضِبًا بَاكِيًا)
v. Bentuk tamyiz umumnya jamid, sedangkan Haal musytaq
vi. Tamyizhanya berfungsi memperjelas, sedangkan Haal terkadang berfungsi memperkuat
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########

