Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya
BAB 29 : HAAL (الحال)
29.1. PENGERTIAN (تعريف الحال)
Haaladalah washf (sifat) yang fadhlah (lebihan) lagi muntasabih (di-nasab-kan) dan memberi keterangan keadaan. Atau isim yang dibaca nasab, yang menerangkan perihal atau perilaku Fa’il atau Maf’ul bih ketika perbuatan itu terjadi, dan masing-masing Fa’il dan maf’ul bih tersebut dinamakan Shahibul Haal. Haal adalah fadhah atau sifat yang menjelaskan kondisi seseorang atau sesuatu ketika perbuatan itu terjadi. Maksud fadhah di sini bahwasanya haal dalam suatu kalimat bukan menjadi pokok kalimat, haal hanyalah sebagai pelengkap. Suatu kalimat akan tetap sempurna meskipun tanpa keberadaan haal. Namun pada banyak kalimat, haal sering menjadi pokok kalimat (‘umdah kalimah), karena ketika haal ditiadakan atau tidak dipergunakan, dampaknya bisa menjadikan makna kalimat tidak sempurna bahkan merusak kalimat secara keseluruhan. Contoh: (إِنَّ المُنَافِقِيْنَ يُخَادِعُوْنَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوْا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوْا كُسَالَى). Jika lafaz (كسالى) sebagai haal lalu dibuang, maka maksud ayat tidak sempurna dalam menjelaskan kondisi orang munafik ketika mereka melakukan ibadah salat. Kedudukan i’rab seseorang atau sesuatu yang dijadikan shahibul haal terkadang memiliki kedudukan sebagai Fa’il, Maf’ul Bih, Mubtada’, Mudhaf Ilaih, Maf’ul Fih dan lainnya. Dari definisi ini, Haal dibatasi dengan empat perkara:
A. Isim Sifah. Contoh:
1. Isim Fa’il.Contoh: (جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا).
2. Isim Maf’ul.Contoh: (رَأَيْتُ الخَيْلَ مَرْكُوْبًا).
3. Isim Sifah Musabbihat. Contoh: (رَأَيْتُ زَيْدًا طَوِيْلًا).
4. Amtsilah Al-Mubalaghah. Contoh: (رَأَيْتُ زَيْدًا ضَرَّابًا)
5. Af’al At-Tafdhil.Contoh: (رَأَيْتُ زَيْدًا أَحْسَنُ مِنْ عَمْرٍ).
B. Fudhlah (ما يستغنى عنه), yaitu perkara yang tidak selalu dibutuhkan, maka mengecualikan isim sifah yang menjadi umdah/pokok dalam kalam yang selalu dibutuhkan, seperti menjadi mubtada’ atau khabar. Contoh: (أَقَائِمُ الزَيْدَانِ) (زَيْدٌ قَائِمٌ).
C. Yang dibaca nashab. Maka dikecualikan Na’at, karena tidak selalu dibaca nashab, tetapi mengikuti i’rab-nya Man’ut.
D. Memberi pemahaman keadaan shahibul Haal. Maka mengecualikan pada tamyiz, karena menjelaskan kesamarannya dzat/nisbat.
29.2. CONTOH PENGGUNAAN HAAL & SHAHIBUL HAAL (نماذج الحال وصاحب الحال)
A. Haal untuk menjelaskan Fa’il. Contoh: (جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا). Lafaz (رَاكِبًا) berkedudukaan sebagai Haal dari lafaz (زَيْدٌ) yang menjelaskan keadaan Zaid waktu kedatanganya.
B. Haal untuk menjelaskan Maf’ul bih. Contoh: (رَكِبْتُ اَلْفَرَسَ مُسَرَّجًا). Lafaz (مُسَرَّجًا) berkedudukan sebagai haal dari maf’ul yang menjelaskan keadaan kuda waktu digunakan angkutan di atasnya.
C. Haal untuk menjelaskan kedua-duanya (Fa’il dan Maf’ul bih).Contoh: (لَقِيتُ عَبْدَ اَللَّهِ رَاكِبًا). Yang dimaksud dengan berkendaraan itu bisa Aku atau Abdullah atau keduanya.
D. Contoh Zharaf (Maf’ul Fih) menjadi shahibul haal.Contoh: (سَارَ خَالِدٌ اللَيْلَ مُظْلِمًا)
E. Contoh Na’ibul Fa’il menjadi shahibul haal.Contoh: (يُشْرَبُ المَاءُ سَاخِنًا)
F. Contoh Mudhaf Ilaihi menjadi shahibul haal.Contoh: (تَمَتَّعْتُ بِجِمَالِ الحَدِيْقَةِ وَاسِعَةٌ)
29.3. PEMBAGIAN HAAL (أقسام الحال)
A. Dari segi apakah dia merupakan suatu kondisi menetap atau berubah
1. Menetap (الثابتة), yaitu haal yang menjelaskan kondisi tertentu, di mana kondisi tersebut merupakan sesuatu yang lazim atau mesti melekat pada diri shahibul haal. Contoh: (رَأَيْتُ أَبَاكَ رَحِيْمًا بِكَ)
2. Berubah/berpindah (المنتقلة), yaitu haal yang menjelaskan kondisi sesuatu, di mana kondisi tersebut tidak selamanya melekat pada diri shahibul hal, kapan saja dan di mana saja bisa muncul, namun dia terbatas keberadaannya. Contoh: (جَاءَ زَيْدٌ الرَاكِبَ)
B. Dari segi bentuknya:
1. Haal berupa Isim Mufrad, yaitu isim mansub yang disebutkan untuk menjelaskan keadaan fi’il atau maf’ul bih. Contoh: (جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا)
2. Haal berupa Jumlah Ismiyyah. Contoh: (حَضَرَ الضُيُوْفُ وَالمُضِيْفُ غَائِبٌ)
3. Haal berupa Jumlah Fi’liyyah. Contoh: (ذَهَبَ الجَانِي تَحْرُسُهُ الجُنُوْدُ)
4. Haal berupa zharaf. Contoh: (رَأَيْتُ الهِلَالَ بَيْنَ السَّحَابِ)
5. Haal berupa Jar & Majrur. Contoh: (بِعْتُ الثَّمَرَ عَلَي شَجَرِهِ)
29.4. KEADAAN HAAL (أحوال الحال)
A. HAAL JAMID
1. Menunjukkan makna harga. Contoh: (بِعْهُ مُدًّا بِدِرْهَمٍ) takwilannya (بِعْهُ مُسْعَرًا كُلَّ مُدًّا بِدِرْهَمٍ).
2. Menunjukkan makna musyarakah. Contoh: (بِعْتُهُ يَدًا بِيَدٍ) takwilannya (بِعْتُهُ مُتَقَابِضَيْنِ).
3. Menunjukkan makna tasybih/menyerupakan. Contoh: (كَرَّ زَيْدٌ أَسَدًا) takwilannya (كَرَّ زَيْدٌ مُشَبِّهًا لِأَسَدٍ).
4. Menunjukkan makna tertib. Contoh: (اُدْخُلُوا الدَارَ رَجُلًا رَجُلًا) takwilannya (مُتَرَتِبَيْنِ).
5. Haal disifati.Contoh: (قُرْآنًا عَرَبِيًّا).
6. Haal yang menunjukkan hitungan. Contoh: (فَتَمَّ مِيْقَاتُ رَبِّهِ مِنْهُ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً).
7. Haal yang menunjukkan urutan perkara yang diurutkan.Contoh: (هذَا يُسْرًا أَطْيَبُ مِنْهُ رَطْبًا).
8. Haal yang merupakan macam dari shahibul haal.Contoh: (هذَا مَالُكَ ذَهَبًا).
9. Haal yang merupakan cabang dari shahibul haal.Contoh: (هذَا حَدِيْدُكَ خَاتِمًا)
10. Haal yang merupakan asal dari shahibul haal.Contoh: (هذَا خَاتِمُكَ حَدِيْدًا)
B. HAAL BERUPA LAFAZ MA’RIFAH. Contoh: (رَأَيْتُ زَيْدًا رَاكِبًا) (اِجْتَهِدْ وَحْدَكَ - اِجْتَهِدْ مُنْفَرِدًا) (أُرْسِلُهَا العِرَاكَ - أُرْسِلُهَا مُعْتَرِكَةً) (جَاؤُا الجَمَّاءَ الغَفِيْرَ - جاؤا جميعا).[1]
C. HAAL BERUPA LAFAZ NAKIRAH. Contoh: (قَتَلَهُ صَبْرًا).
29.5. FUNGSI HAAL (عوامل الحال)
A. KEPADA SHAHIBUL HAAL
1. Memperjelas (المبين), yaitu memperjelas kondisi shahibul haal. Ketika fungsinya sebagai penjelas, keberadaannya akan berpengaruh dalam melahirkan makna kalimat baru. Artinya, jika terdapat dua kalimat, satu kalimat memiliki haal dan yang satunya tidak, tentu kedua makna kalimat akan berbeda.
2. Memperkuat (مؤكد),yaitu sebagai penguat, keberadaannya tidak terlalu berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan.
B. SELAIN SHAHIBUL HAAL
1. Haal Haqiqi (الحال الحقيقي),yaitu berfungsi menjelaskan kondisi shahibul haal secara langsung. Contoh: (قَامَ خَالِدٌ بِالصَلَاةِ خَاشِعًا). Haal Haqiqi & shahibul haal harus sesuati dari segi mufrad, mutsanna, jamak, mudzakkar & mu’annats, kecuali dalam beberapa keadaan berikut:
i. Ketika shahibul haal berupa jamak ghairu aqil.Contoh: (قَرَأْتُ الكُتُبَ نَافِعَةً) (قَرَأْتُ الكُتُبَ نَافِعَاتٍ) (قَرَأْتُ الكُتُبَ نَوَافِعَ)
ii. Ketika lafaz haal berupa lafaz-lafaz yang penggunaan sama, baik untuk mudzakkar atau mu’annats.Contoh: (عَرَفْتُ المُؤْمِنَ صَبُوْرًا) (عَرَفْتُ المُؤْمِنَةَ صَبُوْرًا)
iii. Ketika lafaz haal berupa fi’il tafdhil yang tidak di-idhafah-kan atau tidak ber-alif lam.Contoh: (رَأَيْتُ خَالِدًا أَتْقَى)
iv. Ketika lafaz haal berupa mashdar. Contoh: (جَرَى الطَالِبُ سُرْعَةً) (جَرَى الطَالِبَةُ سُرْعَةً) (جَرَى الطَالِبَانِ سُرْعَةً) (جَرَى الطَالِبُوْنَ سُرْعَةً) (جَرَى الطَالِبَاتُ سُرْعَةً)
2. Haal Sababi (الحال السببي), yaitu berfungsi menjelaskan kondisi sesuatu, di mana sesuatu itu masih berhubungan dengan shahibul haal. Contoh: (قَامَ خَالِدٌ بِالصَلَاةِ خَاشِعًا قَلْبُهُ). Untuk lafaz haal sababi hukumnya wajib sesuai dengan isim marfu’ yang terletak setelahnya dari segi mudzakkar, mu’annats & mufrad saja. Adapun untuk bentuk tatsniyah & jamak, tidak disesuaikan. Contoh: (قَامَ خَالِدٌ بِالصَلَاةِ خَاشِعًا قَلْبُهُ) (قَامَ المُسْلِمُوْنَ بِالصَلَاةِ خَاشِعَةً قُلُوْبُهُمْ)
29.4. SYARAT & KETENTUAN HAAL, SHAHIBUL HAAL & AMIL-NYA (شروط وضوابط الحال وصاحب الحال وعوامله)
A. Isim Nakirah. Tidaklah terbentuk haal itu kecuali Nakirah. Apabila ada haal dengan lafaz ma’rifah, maka harus di-takwil-kan dengan lafaz nakirah seperti contoh sebelumnya. Namun beberapa ulama Bahasa dari Baghdad dan Syeikh Yunus menyatakan boleh membuat Hall dari Isim Ma’rifah secara mutlak, tanpa takwil, contohnya: (جَاءَ زَيْدٌ الرَاكِبَ)
B. Sesudah kalimat yang sempurna. Tidaklah terbentuk haal itu kecuali harus sesudah sempurna kalamnya, yakni sesudah jumlah (kalimat) yang sempurna, dengan makna bahwa lafaz haal itu tidak termasuk salah satu dari kedua bagian lafaz jumlah, tetapi tidak juga yang dimaksud bahwa keadaan kalam itu cukup dari haal (tidak membutuhkan haal). Contoh: (وَلَا تَمْشِ فِيْ الأَرْضِ مَرَحًا)
C. Shahibul haal (pelaku haal) harus berupa ma’rifah. Shahibul haal (pelaku haal) harus dalam bentuk ma’rifah, dan pada mayoritasnya sekali-kali tidak di-nakirah-kan. Adapun shahibul haal itu harus ma’rifah dan kadang nakirah kalau shahibul tidak diakhirkan dan tidak di-tahksikh atau tidak jatuh sesudahnya naïf dan serupanya nafi, maka kalau shahibul haal diakhirkan atau di tahshikh dengan sifat atau zharaf atau jatuh sesudah nafi dan serupanya nafi maka shahibul haal boleh berupa nakirah. Contoh: (فيها قائما رجل). Shahibul Haal berupa isim ma’rifah, sama saja berupa isim zahir atau isim dhamir, maka dari itu jika Shahibul Haal berupa nakirah maka harus ada musawwigh-nya (sesuatu yang memperbolehkan Shahibul Haal berupa nakirah) diantara musawwigh Shahibul Haal adalah:
1. Hendaknya haal mendahului nakirah. Contoh: (فِيْهَا قَائِمًا رَجُلٌ). Lafaz (قَائِمًا) berkedudukan sebagai haal dari lafaz (رَجُلٌ).
2. Hendaknya nakirah di-takhshish oleh idhafah. Contoh: (فِيْ اَرْبَعَةِ اَيَامٍ سَوَاءً). Lafaz (سَوَاءً) berkedudkan sebagai haal dari lafaz (اَرْبَعَةِ).
3. Hendaknya shahibul haal nakirah sesudah nafi.Contoh: (وَمَا اَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ اِلَّاَ لَهَا مُنْذِرُوْنَ). Lafaz (لَهَا مُنْذِرُوْنَ) adalah jumlah ismiyyah yang berkedudkan sebagai haal dari lafaz (قَرْيَةٍ). Keberadaannya sebagai haal dari shahibul haal yang nakirah dianggap sah karena ada huruf nafi yang mendahuluinya.
D. Demikian juga Haal disyaratkan harus berupa mutanaqqil yang muystaq atau bukan jamid.Yang dimaksud mutanaqqil lagi musytaq adalah bahwa hal ini bersifat mayoritas, bukan bersifat lazim (tetap). Contoh: (جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا). Lafaz (رَاكِبًا) adalah sifat yang mutanaqqil karena sifat ini dapat lepas dari Zaid. Namun, kadang haal itu dibentuk dari isim jamid yang di-takwil dengan sifat muystaq dalam keadaan:
1. Menunjukkan makna taysbih (penyerupaan). Contoh: (كَرَّ عَلِيٌ أَسَدًا). Takwilanya (شُجَاعَا كَا الأَسَدِ).
2. Menunjukkan makna muFa’alah (interaksi). Contoh: (بِعْتُكَ اْلفَرَسَ يَدًا بِيَدٍ). Takwilannya (مُتَقَابِضَيْنِ).
3. Menunjukkan makna tartib. Contoh: (دَخَلَ القَوْمُ رَجُلًا رَجُلًا). Takwilannya (مُتَرَتِّبَيْنِ)
4. Menunjukkan makna harga. Contoh: (بِعْهُ مُدّاً بِدِرْهَمٍ)
5. Disifati. Contoh: (إنَّا اَنْزَلْنَاهُ قُرْانًا عَرَبِيًّا)
E. Kondisi Amil yang me-nashab-kan Haal:
1. Amil Haqiqi
i. Adakalanya berupa Fi’il Mutasharrif. Contoh: (جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا)
ii. Adakalanya berupa Isim Sifah. Contoh: (زَيْدٌ جَا لِسٌ بَاكِياً)
iii. Adakalanya berupa Isim Maf’ul. Contoh: (زَيْدٌ مَضْرُوبٌ مُجَرَّدًا)
iv. Adakalanya berupa Af’al Tafdhil. Contoh: (زَيْدٌ اِنْفَعُ القَوْمِ مَعْلُماً)
2. Amil Maknawi
i. Isim Isyarah.Contoh: (هَذَا كِتَابُكَ نَافِعًا)
ii. Isim Istifham.Contoh: (كَيْفَ أَنْتَ رَاكِبًا السَيَّارَةَ مِنْ سُوْرَبَايَا إِلَى جَاكَرْتَا؟)
iii. Perangkat Tamanni.Contoh: (لَيْتَكَ مُسْتَقِيْمًا)
iv. Isim Fi’il Amr.Contoh: (صَهْ جَالِسًا)
F. Dan terkadang Haal itu berupa jumlah. Oleh karenanya harus mengandung pengikat (rabith: kata-kata yang menunjukkan adanya hubungan antara haal dan shahibul haal). Dan rabith itu ada yang berupa: (1) Huruf wawu saja.Contoh: (قَالُوْالَئِنْ اَكَلَهَالذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا اِذًالَخَاسِرُوْنَ); (2) Dhamir. Contoh: (اِهْبِطُوابَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوُّ); (3) Huruf wawu & dhamir.Contoh: (خَرَجُوْامِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ اُلُوفٌ)
G. Lafaz haal wajib nampak atau boleh dibuang:
1. Wajib nampak dalam keadaan berikut:
i. Ketika haal berada di posisi setelah (إلا).Contoh: (مَا أَحَبَّ العَالِمُ إِلَّا نَافِعًا بِعِلْمِهِ لِغَيْرِهِ)
ii. Ketika tidak mungkin dibuang karena akan merusak makna kalimat keseluruhan.
iii. Ketika haal berada di posisi jawaban untuk sebuah pertanyaan. Contoh: (قَالَ أَحْمَدُ: كَيْفَ جَاءَ خَالِدٌ؟ - قَالَ زَيْدٌ: غَاضِبًا)
2. Boleh dibuang ketika terdapat indikasi bahwa haal telah dibuang.Contoh: (يَدْخُلُ خَالِدٌ بَيْتًا : السَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ)
H. Posisi haal diawalkan atau diakhirkan dari shahibul haal
1. Haal wajib diakhirkan
i. Apabila dia dibatasi dengan huruf (إلا) pengecualian.Contoh: (وَمَا نُرْسِلُ المُرْسَلِيْنَ إِلَّا مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ)
ii. Apabila shahibul hal dalam keadaan majrur dengan idhafah (menjadi mudhaf ilaih).Contoh: (أَعْجَبَنِي شَكْلُ القَمَرِ وَاضِحًا)
iii. Apabil amil-nya berupa Mashdar Sharih. Contoh: (مِنَ الخَيْرِ إِنْجَازُكَ العَمَلَ سَرِيْعًا)
iv. Apabila amil-nya berupa amil maknawi, seperti isim isyarah, isim istifham, tamanni, tasybih.Contoh: (هَذَا كِتَابُكَ نَافِعًا)
2. Haal boleh didahulukan apabila shahibul hal dibatasi dengan (إلا) pengecualian.Contoh: (مَا فَازَ نَاجِحًا إِلَّا المُجْتَهِدُ)
3. Haal boleh didahulukan atau diakhirkan selain yang masuk kategori di atas.Contoh: (جَاءَ خَالِدٌ مُتَبَسِّمًا - جَاءَ مُتَبَسِّمًا خَالِدٌ)
I. Shahibul haal boleh memiliki beberapa haal dengan syarat maknanya tidak kontradiksi dan tidak memakai wawu athaf. Contoh: (رَأَيْتُ خَالِدًا غَاضِبًا بَاكِيًا حَزِيْنًا)
J. Satu haal boleh untuk beberapa shahibul haal apabila terdapat petunjuk secara lafaz.Contoh: (قَابَلَ خَالِدٌ زَيْدًا جَالِسِيْنَ). Jika tidak ada petunjuk sama sekali, hukumnya tidak boleh.
[1] Bersungguh-sungguh! Sendirian/Saya berbicara dengannya dengan menampakkan mulutnya pada mulut saya (Berbicara langsung)/ Saya melepaskan hewan dengan berdesakan/Kaum datang keseluruhan.
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########

