Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya
BAB 32 : AL-ISTITSNA’ & AL-MUSTATSNA (الاستثناء والمستثنى)
32.1. PENGERTIAN (تعريف الاستثناء)
Istisna’menurut bahasa adalah pengecualian, sedangkan menurut istilah adalah mengecualikan suatu perkara setelah adanya lafaz (إلا) atau saudara-saudaranya. Atau bisa juga diartikan dengan mengkhususkan sifat yang umum dengan di tengah-tengahi oleh salah satu adat dari beberapa adat istisna’.
Adapun uslub istisna’ itu tersusun atas 3 pokok, yaitu adat istisna’ (أداة الاستثناء), mustatsna (مستثنى) dan mustatsna minhu (مستثنى منه). Maksud dati adat istisna’ (أداة الاستثناء) adalah alat atau perantara yang digunakan untuk mengecualikan. Maksud dari mustatsna (مستثنى) adalah lafaz yang dikecualikan atau lafaz yang jatuh setelah adat istitsna’, sedangkan mustatsna minhu (مستثنى منه) adalah lafaz yang mengeluarkan atau lebih mudahnya yaitu lafaz yang jatuh sebelum adat istitsna’. Misalkan (جاء القوم إلا زيدا) lafaz (جاء) kedudukannya sebagai mahkum bih (yang menghukum atau hukum), sedangkan mahkum alaih-nya (yang dihukumi) atau yang dihukumi datang adalah lafaz (القوم). Sehingga dapat disimpulkan bahwa (مستثنى) adalah lafaz (زيدا), sedangkan (مستثنى منه) adalah lafaz (القوم).
Namun, selain Imam Kuffah dan Imam Baghdad ada yang membolehkan bahwa mustatsna minu boleh di akhir atau setelah adat istisna’, sedangkan amil-nya tetap di awal. Contoh: () (ماجاءإلاخالداأحدٌ). Lafaz (خالدا) kedudukannya sebagai istisna’ dengan (إلا) dan lafaz (أحدٌ) nya berkedudukan sebagai Fa’il. Atau kalimat (ماجاء إلاخالدٌ أحدٌ). Lafaz (خالدٌ) kedudukannya menjadi Fa’il dari lafaz (جاء), dan lafaz (أحدٌ) kedudukannya menjadi badal dari lafaz (خالدٌ). Jumlah di atas masuk pada jenis istisna’ yang kalam tam manfi, yang mana keterangannya akan dijelaskan pada bagian macam-macam istisna’.
32.2. HURUF-HURUF ISTITSNA’ (حروف الاستثناء)
Jika yang dimaksud huruf istisna’ berupa kalimat isim, maka lafaz yang jatuh setelahnya dibaca majrur karena menjadi mudhaf ilaih-nya. Sedangkan jika yang dimaksud adalah fi’il, maka lafaz yang jatuh setelahnya berkedudukan menjadi maf’ul bih-nya. Dan jika yang dimaksud adalah kalimat fi’il naqish yang sesuai di atas, maka lafaz yang jatuh setelahnya adalah menyesuaikan kedudukan/amil yang sesuai dengannya. Huruf-huruf istitsna’ ada 8, namun dapat disimpulkan di sini menjadi 4 sesuai dengan fungsi dan faidahnya, yaitu: (1) Kalimah Harfyaitu (إِلا); (2) Kalimah Isim yaitu (غَيْرُ) (سِوَى) (سُوَى) (سَوَاء); (3) Kalimah fi’ilyaitu (لا يكون) dan (ليس); (4) Kalimah taraddud antara fi’il idan harf, yaitu (حَاشَ) (خَلَا) (عَدَا). Untuk kalimat (حاش) sering biasanya digunakan sebagai kalimah harf.
32.3. KAIDAH-KAIDAH ISTITSNA’ (قواعد الاستثناء)
A. Pengecualian itu harus menggunakan isim ma’rifat/isim nakirah yang berfaidah. Ciri-ciri nakirah mufidah diantaranya:
1. Jika di-idhafah-kan. Contoh: (جاء القوم إلا رجلَ سوءٍ)
2. Jika di-sifah-kan. Contoh: (جاء القوم إلا رجلا مريضا)
3. Jika bergabung dengan kalimat lain dapat diketahui maknanya.Contoh: (فَلَبِثَ فيْهم أَلْفَ سَنَةٍ إلا خمسين عاما)
4. Jika ada keterkaitan/didahului oleh nafi, nahi, ataupun istifham inkari. Contoh: (ما جاء القوم إلا حمار)
B. Adanya keterkaitan antara mustasna dan mustasna minhu, diantaranya:
1. Adakalanya yang dikecualikan itu sedikit dari yang banyak.
2. Adakalanya yang dikecualikan itu banyak dari yang lebih banyak.
3. Adakalanya yang dikecualikan itu setengah dari asalnya.Contoh: (له عليٌ عشرةٌ إلا خمسةً)
32.4. JENIS-JENIS ISTITSNA’ (أقسام الاستثناء)
A. Muttashil adalah lafaz yang mustasna dan mustasna minhu-nya sejenis, atau biasa disebut dengan istisna’ haqiqi, dan berfaidah mengkhususkan sesuatu yang umum. Contoh: (جاء القوم إلا رجلا مريضا) lafaz (رجلا مريضا) sejenis dengan lafaz (القوم) yaitu sama-sama makhluk berakalnya.
B. Munqoti’ adalah istisna’ yang mustasna dan mustasna minhu-nya tidak sejenis dan berfaidah pembentukan bukan pengkhususan, dan munqoti’ itu seperti bermakna (لكن) (tetapi).Contoh: (ماأنزل عليك القرآنَ لِتشقي * إلا تذكرةً لمن يخشى)
32.5. MACAM-MACAM ISTITSNA’ (أنواع الاستثناء)
A. Kalam tam mujab adalah kalimat yang di dalamnya disebutkan mustasna dan mustasna minhu-nya namun tidak didahului oleh maa nafi atau shibhun nafi, syibhun nafi terdiri dari laa nafi atau istifham inkari. Contoh: (ينجح التلاميذُ إلا الكسولَ) (ينجح إلاالكسول التلاميذُ)
B. Kalam tam manfi adalah kalimat yang di dalamnya disebutkan mustasna dan mustasna minhu-nya serta didahului oleh maa nafi atau shibhun nafi. Antara lain: (1) Contoh yang maa nafi: (ماجاء القوم إلاعليٌ/عليًّا); (2) Contoh yang laa nafi: (لا يقمْ أحدٌ إلا سعيدٌ/سعيدًا); (3) Contoh yang istifham inkari: (هل فعل هذا الرجلُ إلا أنتَ/إيَّاك)
32.6. HUKUM-HUKUM ISTITSNA’ (أحكام الاستثناء)
A. Istisna’ dengan (إلا)
1. Kalam tam mujab.Pada kalam tam mujab hukum mustasna minhu-nya wajib dibaca nashab. Contoh: (ينجح التلاميذُ إلا الكسولَ). Lafaz (الكسولَ) wajib dibaca nashab karena menjadi istisna’, baik yang muttashil maupun yang munqati’.
2. Kalam tam manfi.Pada kalam tam manfi hukum mustasna minhu-nya ada 2, yaitu boleh dibaca rafa’ dan juga boleh dibaca nashab:
i. Jika dibaca nashab maka mustasna minhu-nya sebagai istisna’.Contoh: (ماجاء القوم إلا زيدا). Tetapi mustasna minhu-nya juga bisa berkedudukan sebagai badal. Contoh: (ما رأيتُ القومَ إلا زيدا) lafaz (زيدا) bisa berkedudukan sebagai istisna’ juga bisa berkedudukan sebagai badal dari lafaz (القومَ).
ii. Jika dibaca rafa’ maka kedudukannya sebagai badal.Contoh: (عليٌّ ماجاء القوم إلا) lafaz (عليٌّ) berkedudukan sebagai badal dari lafaz (القوم)
3. Kalam naqish.Pada kalam naqish hukum mustasna-nya adalah sesuai dengan amil-nya. Contoh: (ولا تقولوا على الله إلا الحقَّ) lafaz (الحقَّ) kedudukannya sebagai maf’ul bih, atau contoh yang mustasna-nya berkedudukan sebagai Fa’il adalah (هل يهلك القومُ الفاسقون), ada juga yang nafi-nya ma’nawy, contohnya: (ويأْبى الله إلا أن يُتِمَّ نورَهُ)
B. Istisna’ dengan (غَيْرُ) (سِوَى) (سُوَى) (سَوَاء). Hukum mustasna/lafaz yang jatuh setelahnya adalah majrur atau menjadi mudhaf ilaih dari adat tersebut. Sedangkan, adat istisna’-nya ber-i’rab/berhukum sesuai dengan mustasna dengan (إلا). Yaitu:
1. Kalam tam mujab. Contoh: (جاءالقومُ غيرَ خالدٍ) dibaca (غير) dengan fathah huruf ra’ karena menjadi istisna’.
2. Kalam tam manfi.Contoh: (ما جاء القوم غيرَ خالدٍ) dibaca (غيرَ) dengan fathah huruf ra’ karena menjadi istisna’, atau dibaca (ماجاء القومُ غيرُ خالدٍ) dibaca (غيرُ) dengan dhammah huruf ra’ karena menjadi badal dari lafaz (القومُ).
3. Kalam naqish. Contoh: (ما جاءغيرُ خالدٍ) lafaz (غيرُ) dengan dhammah huruf ra’ karena menjadi Fa’il.kalimat (ما رأيتُ غيرَ خالدٍ) lafaz (غيرَ) dengan fathah huruf ra’-nya karena menjadi maf’ul bih. Tidak dikatakan istisna’ karena kalimat ini termasuk kalam naqish yang tidak disebutkan mustasna minhu-nya. Kalimat (مررتُ بغيرِ خالدٍ) lafaz (غير) dengan kasrah huruf ra’ karena majrur oleh huruf jar.
C. Istisna’ dengan (ليس) dan (لايكون). Hukum mustsna/lafaz yang jatuh setelah (ليس) dan (لايكون) adalah wajib manshub karena menjadi khabar dari kedua lafaz tersebut. Contoh: (جاء القوم ليس خالدا / جاء القوم لا يكون خلدا). Lafaz (خالدا) di-nashab-kan karena menjadi khabar, baik khabar dari lafaz (ليس) maupun lafaz (لا يكون) yang mana isimnya itu tesimpan yang kembali ke mustasna minhu-nya.
D. Istisna’ dengan (حَاشَ) (خَلَا) (عَدَا). Hukum mustasna/lafaz yang jatuh setelah lafaz (حَاشَ) (خَلَا) (عَدَا) adalah boleh dibaca nashab atau dibaca majrur.
1. Jika dibaca fathah maka lafaz (حَاشَ) (خَلَا) (عَدَا) sebagai kalimat fi’il madhi dan lafaz yang jatuh setelahnya disebut maf’ul bih.Contoh: (قام القومُ عدا زيدا)
2. Jika dibaca majrur maka lafaz (حَاشَ) (خَلَا) (عَدَا) sebagai huruf jar tambahan dan lafaz yang jatuh setelahnya disebut majrur. Contoh: (قام القوم عدا زيدٍ)
3. Lafaz (خلا) dan (عدا) paling banyak me-nashab-kan mustasna dan sedikit me-majrur-kan mustasna-nya. Sedangkan lafaz (حاش) paling banyak me-majrur-kan mustasna-nya dan sedikit me-nashab-kan mustasna-nya.
4. Mustasna boleh dibaca majrur dengan ketentuan:
i. Huruf jar-nya itu harus asli bukan tambahan.Contoh: (ما أخذتُ الكتابَ من أحدٍ إلا خالدٍ). Sedangkan yang dimaksud dengan huruf tambahan adalah seperti contoh berikut: (ماجاءني من أحدٍ إلا خالدًا/خالدٌ) lafaz (خالد) tidak boleh dibaca majrur karena huruf jar-nya adalah huruf tambahan. Kemudian, lafaz (خالد) dibaca manshub karena menjadi istisna’ dengan (إلا), sedangkan ketika dibaca marfu’ lafaz (خالد) berkedudukan menjadi badal dari lafaz (أحدٍ), lafaz (أحدٍ) berkedudukan menjadi Fa’il yang ber-mahal rafa’.
ii. Huruf jar-nya tidak boleh diulang-ulang. Contoh: (مامررتُ بأحدٍ إلا بخالدٍ) contoh disamping adalah salah yang benar adalah (ما مررتُ بأحد إلا خالدٍ)
32.7. SYIBHUL ISTITSNA’/LAFAZ-LAFAZ YANG MENYERUPAI ISTITSNA’ (شبه الاستثناء)
A. Lafaz (لا سيّما) adalah kalimat yang tersusun dari lafaz; (لا) laa nafiyah lil jinsi, (سيّ) isim dan (ما) mempumpunyai 3 keadaan:
1. Huruf (ما) berupa huruf tambahan,pada keadaan seperti ini isim yang jatuh setelah lafaz (لا سيّما) dibaca majrur, kedudukannya menjadi mudhaf pada lafaz (سيّ). Contoh: (لا سيّما تلميذٍ مثلِك).
2. Huruf (ما) berupa isim sifat yang disandarkan, dalam keadaan seperti ini isim yang jatuh setelah (لا سيّما) dibaca marfu’, kedudukannnya menjadi khabar yang mubtada’-nya dibuang dengan mengira-ngirakan lafaz (هو). Contoh: (لا سيّما تلميذٌ مثلُك)
3. Huruf (ما) berupa isim yang bersandar pada lafaz (سيّ),dalam keadaan seperti ini isim yang jatuh setelah (لا سيّما) dibaca manshub, kedudukannya menjadi tamyiz dengan syarat isim-nya nakirah. Contoh: (لا سيّما تلميذًا مثلَك)
B. Lafaz (بيدَ) adalah isim yang mabni manshub karena menjadi istisna’. Dan dapat ditemukan pada jenis istisna’ yang munqati’. Lafaz (بيد) itu harus bersandar pada masdar Muawwal yaitu yang dapat me-nashab-kan isim dan me-rafa’-kan khabar. Contoh: (إنه لكثير المالِ بيدَ أنه بخيلٍ)
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########

