Pusat Belajar Bahasa Arab - Ilmu Alat : Nahwu (Bab 'Adad & Ma'dud)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya


Materi & Soal - Nahwu, Sharaf, I'rab & TOAFL Tes Seleksi Timur Tengah


BAB 31 : ‘ADAD & MA’DUD (العدد والمعدود)

31.1. PENGERTIAN (تعريف العدد والمعدود)
                ‘Adadadalah sesuatu yang menunjukkan bilangan, satu, dua, tiga dan seterusnya. Sedangkan Ma'dud adalah yang menunjukkan “sesuatu” yang terhitung. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Syauqi Dhaoyf , bahwa 'Adad adalah setiap kata benda atau kata sifat yang menunjukkan jumlah sesuatu, atau yang menunjukkan sebuah urutan.

31.2. MACAM-MACAM PEMBAGIAN ‘ADAD (أنواع العدد)
A.     ‘Adad Mufrad (العدد المفرد) adalah isim ‘adad yang kosong dari Tarkib dan ‘Athaf. Yaitu satu (واحد) dan dua (اثنان). Kaidah dasarnya adalah ‘adad dan ma’dud-nya harus sesuai dari segi mudzakkar dan mu’annats-nya. Contoh: (جَاءَ رَجُلٌ وَاحِدٌ) (جَاءَ رَجُلاَنِ اثْنَانِ) (جَاءَتْ امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ) (جَاءَتْ امْرَأَتاَنِ اثْنَتَانِ)
B.    'Adad Idhafah (العدد الإضافي) adalah bilangan yang dimulai dari angka 3 (tiga) - 10 (sepuluh). Jika 'adad –'adad tersebut disambungkan atau di-mudhaf-kan dengan suatu isim, maka akan memiliki kaidah-kaidah tertentu. Contoh: (ثلاثة رجال) (ثلاث نساء). Dari contoh pertama dan kedua tersebut bisa kita lihat, bahwa kedua 'Adad tersebut, yakni kata (ثلاثة) dan (ثلاث) dibentuk dengan jenis yang berbeda, contoh yang pertama menggunakan Ta’ marbuthah (mu’annast) dan ma’dud-nya berasal dari isim mudzakkar (رجال), sedangkan contoh yang kedua tidak menggunakan Ta’ marbuthah (mudzakkar), dan ma’dud-nya berasal dari isim mu’annats (نساء), selain itu ma'dud kedua contoh tersebut dalam bentuk jamak, dan dibaca jar. Ada beberapa kaidah dalam ‘Adad Idhafah:
1.     Antara 'adad dan ma'dud dalam 'adad idahafah selalu berlawanan dalam hal mudzakkar dan mu’annats.
2.     Ma'dud dalam 'adad idhafah harus selalu dibentuk menjadi isim jamak dan selalu dibaca jar.
3.     Ketika melihat ma'dud apakah mudzakkar atau mu'annast, hendaklah dilihat ketika mufradnya, contoh kata (جنيهات) bukanlah mu'annast, tapi kita anggap mudzakkar, sebab mufrad-nya adalah (جنيه), jadi bukan (ثلاث جنيهات) tapi yang benar adalah (ثلاثة جنيهات).
4.    Dalam bilangan  8 (delapan)terdapat 3 bentuk terkait huruf (ي) dalam ‘adad-nya, yaitu:
                                        i.        Jika di-idhafah-kan, huruf (ي) tetap ada tertulis. Contoh: (ثماني طالبات) (ثماني نساء)
                                       ii.        Jika tidak di-idharah-kan dan ma’dud-nya mudzakkar, maka huruf (ي) tetap ada tertulis. Contoh: (لَعِبَ مِنَ الأَصْحَابِ ثَمَانِيَةٌ)
                                      iii.        Jika tidak di-idhafah-kan dan ma’dud-nya mu’annats, maka huruf (ي) tetap ada ditulis untuk keadaan nashab dan untuk keadaan rafa dan jar harus dibuang. Contoh: (رَأَيْتُ مِنَ الطَالِبَاتِ ثَمَانِيًا) (ذَهَبَتْ مِنَ الطَالِبَاتِ ثَمَانٍ) (مَرَرْتُ بِثَمَانٍ مِنَ الطَالِبَاتِ)
C.     ‘Adad Murakkab (العدد المركب) bersama puluhan adalah isim ‘adad susunan dua bilangan menjadi satu dengan susunan Tarkib Mazji. Yaitu bilangan dari 11 (أحد عشر) sampai 19 (تسعة عشر). Contoh: (مكثنا فى الإسكندرية أربعة عشر يوما وخمس عشرة ليلة). Kata (أربعة عشر) dan kata (خمس عشرة) tersusun dengan pola yang berbeda dalam hal mudzakkar dan mu’annast-nya, padahal keduanya sama-sama masuk kategori ‘adad murakkab , hal ini karena masing-masing memilki ma’dud yang berbeda, yakni pola pertama (يوما) mudzakkar, sedangkan pola kedua ma’dudnya (ليلة) mu’annats. Demikian juga terjadi pada puluhannya, yaitu (عشر) dan (عشرة). Kaidah-kaidah penggunaannya yaitu:
1.     Satuan selalu berlawanan dengan ma’dud, yakni jika ma’dudnya mudzakkar maka satuannya menggunakan Ta’ marbuthah, sebaliknya jika, jika ma’dudnya mu’annasts, maka satuannya tanpa Ta’ marbuthah.
2.     Berdeda dengan satuannya, puluhan selalu sesuai dengan ma’dudnya dalam hal mudzakkar dan mu’annats.
3.     Ma’dud selalu mufrod dan dibaca nasab, karena tamyiz
D.    ‘Adad Ma’thuf dan Ma’thuf Alaih (العدد المعطوف)adalah isim ‘adad susunan Athaf yaitu 21 sampai 99 selain bilangan puluhan atau ‘adad yang ada di antara dua ‘adad. Contoh: (جاء تسع وتسعون تلميذة) (عالج الطبيب خمسة وعشرين مريضا). Tidak berbeda dengan ‘adad yang sebelumnya, bahwa satuannya selalu bertentangan dengan ma’dud. Yang membedakan dengan ‘adad murokkab adalah terdapatnya (واو العطف) yang berada diantara satuan dan puluhan. Untuk puluhannya kita lihat contoh yang pertama dibaca rafa’, sedang contoh yang kedua dibaca nasab, ini karena puluhan tersebut i’rab-nya mengikuti i’rab satuan. Artinya jika satuannya dibaca rafa’ , maka puluhan juga dibaca rafa’ , demikian juga jika satuannya di baca nasab/jar, maka puluhan juga dibaca nasab/jar. Kaidah-kaidah penggunaannya yaitu:
1.     Sama seperti ‘adad sebelumnya, bahwa satuan selalu berlawanan dengan ma’dudnya dalam hal mudzakkar dan mu'annats.
2.     ‘I’rabnya “puluhan” senantiasa mengikuti “satuan” (hukum athaf dan ma’thuf), sedangkan ‘i’rab-nya satuan tergantung kedudukannya dalam kalimat, artinya jika satuan tersebut menjadi Fa’il Contoh: () maka harus dibaca rafa’, jika menjadi maf’ul bih, maka harus dibaca nasab.
3.     Ma’dud senantiasa dibaca mufrad nasab.
E.     ‘Adad Uqud (ألفاظ العقود) adalah isim ‘adad puluhan/kelipatan sepuluh. Yaitu bilangan dari 20 (عشرون) sampai 90 (تسعون). Contoh: (وواعدنا موسى ثلاثين ليلة) (فى القاعة عشرون طالب وثلاثون طالبة). Puluhan-puluhan yang ada dalam kedua contoh tersebut, dibaca berbeda, contoh yang pertama puluhan dibaca nasab, sedang contoh yang kedua puluhan dibaca rafa’, hal ini karena masing-masing puluhan tersebut menempati kedudukan yang berbeda dalam kalimat. Pada ma’dud kita lihat dalam bentuk mufrad dan dibaca nasab.Kaidah-kaidah penggunaannya:
1.     Pada puluhan berlaku hukum jamak mudzakkar salim dalam hal i’rab-nya, yakni jika harus dibaca rafa’, maka menggunakan tanda (ثلاثون - ون), tapi jika harus dibaca nasab/jar, maka tandanya adalah (ثلاثين - ين). Sedangkan cara menentukan i’rab-nya, tergantung kedudukannya dalam kalimat.
2.     Ma’dud selamanya berupa isim mufrad dan dibaca nasab.
F.     Bilangan ratusan (مئة - مائة). Kaidahnya:
1.     Ma’dud-nya harus mufrad dan majrur sebagai mudhaf ilaih. Contoh: (عندي مائة) (مئة كتاب).
2.      Angka 200 bentuknya musanna, jadi i’rab-nya mengikuti i’rab mutsanna yaitu rafa dengan alif, nashab dan jar dengan ya’. Kemudian huruf (ن) dibuang karena idhafah. Contoh: (حَضَرَ مِئَتَا طَالِبٍ) (شَاهَدْتُ مِئَتَي طَالِبٍ) (مَرَرْتُ عَلَى مِئَتَي طَالِبٍ)
3.     Angka 100 jika menjadi mudhaf ilaih bentuknya tetap mufrad.Contoh: (لِي خَمْسُمِائَةِ كِتَابٍ)
G.    Bilangan ribuan (ألف). Kaidahnya:
1.     Ma’dud-nya harus mufrad dan majrur sebagai mudhaf ilaih. Contoh: (لِي أَلْفُ كِتَابٍ)
2.     Angka 2000 sama seperti 200 bentuknya musanna, jadi i’rab-nya mengikuti i’rab mutsanna yaitu rafa dengan alif, nashab dan jar dengan ya’. Kemudian huruf (ن) dibuang karena idhafah.
3.     Angka 1000 jika menjadi mudhaf ilaih bentuknya harus jamak,berbeda dengan angka 100. Contoh: (اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ آلَافِ كِتَابٍ)
H.    Bilangan jutaan (مِلْيُوْنَ - مِلْيُوْنَانِ - مَلَايِيْنَ)
I.      Bilangan milyaran (مِلْيَارُ - مِلْيَارَانِ - مِلْيَارَاتٌ)
J.     Bilangan triyunan (تَرْيِلْيُوْنَ - تَرْيِلْيُوْنَانِ - تَرْيِلْيُوْنَاتٌ)

31.3. ‘ADAD DARI SEGI I’RAB & BINA’ (العدد باعتبار الإعراب والبناء)
Semua ‘adad mu’rab, yaitu marfu’, manshub atau majrur sesuai kedudukannya dalam kalimat, kecuali ‘adad dari 11 sampai 19, semuanya selalu mabni dengan fathah pada kedua sisinya, kecuali ‘adad 12 ( اثْنَا عَشَرَ dan اثْنَتَا عَشْرَةَ)[4) keduanya di-i’rab sisi pertamanya sebagaimana i’rab-nya mutsanna dan di-mabni-kan sisi ke dua atas fathah. Contoh: (قَرَأْتُ أَرْبَعَةَ كُتُبٍ) (اِدْفَعُوا مَبْلَغَ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينِ قِرْشًا) (اِدْفَعُوا مَبْلَغًا وَقَدْرُهُ سَبْعَةٌ وأَرْبَعُونَ جُنَيهًا) (نَجَحَ ثَلَاثَةَ عَشَرَ طَالِبًا) (حَضَرَ اثْنَا عَشَرَ طَالِبًا وَكَتَبُوا اثْنَيْ عَشْرَةَ رِسَالَةً)

31.4. ‘ADAD DARI SEGI MUDZAKKAR & MU’ANNATS (العدد باعتبار المذكر والمؤنث)
A.     Dua bilangan 1 dan 2 selalu mencocoki ma’dud dari segi mudzakkar dan mu’annats,sama saja apakah mufrad, murakkab atau ma’thuf kepada keduanya.
B.    Bilangan 1 mempunyai dua lafaz, yaitu: (وَاحِدٌ) mu’annats-nya (وَاحِدَةٌ) dan (أَحَدٌ) mu’annats-nya (إِحْدَى).Contoh: (بِالقَرْيَةِ مَدْرَسَةٌ وَاحِدَةٌ) (بَعْضُ الشُّهُورِ وَاحِدٌ وثَلَاثُونَ يَومًا) (رَأَى يُوسُفُ أَحَدَ عَشَرَ كَوكَبًا) (تَعَلَّمْتُ بِإِحْدَى مَدَارِسِ طَنْطَا)
C.     Bilangan 2 lafaz-lafaznya (اثْنَانِ) dan (اثْنَتَانِ) pada posisi marfu’. (اثْنَينِ) dan (اِثْنَتَينِ) pada posisi nashab dan jar. Contoh: (لِي أَخَوَانِ اثْنَانِوَأُخْتَانِ اثْنَتَانِ) (عُمْرُ أُخْتِي اثْنَتَا عَشْرَةَ سَنَةً وَعُمْرِي اِثْنَتَانِوَعِشْرُونَ سَنَةً) (رَأَيتُ اثْنَينِ وَثَلَاثِينَ طَالِبًا)
D.    ‘Adad dari 3 sampai 9 kebalikan dari ma’dud secara mudzakkar dan mu’annats, sama saja apakah mufrad atau murakkab atau di-athaf-kan. Ketika menentukan jenis dari ma’dud maka selalu diperhatikan kepada mufrad-nya (Misalnya 3 junaih, ditulis: ثَلَاثَةُ جُنَيهَاتٍ di mana mufrad dari ma’dud mudzakkar yaitu: جُنَيه ). Contoh: (قَرَأْتُ أَرْبَعَةَ كُتُبٍ) (بِالمَنْزِلِ خَمْسُ حُجُرَاتٍ) (نَجَحَ ثَلَاثَةَ عَشَرَ طَالِبًا) (اِعْتَمَدَ القَرَارَ سَبْعٌ وَثَلَاثُونَ دَولَةً)
E.     ‘Adad 10 kebalikan dari ma’dud apabila mufrad, dari jenis ma’dud dan murakkab.Pada asalnya huruf (شِيْن) pada ‘adad 10 di-fathah (عَشَرَ), boleh juga disukun apabila bersambung dengan Ta’ ( عَشْرَةَ ). Sebagaimana dijelaskan, bahwa ‘adad 10 mu’rab apabila mufrad dan selalu mabni atas fathah apabila murakkab. Contoh: (حَضَرَ عَشْرَةُ رِجَالٍ) (قَابَلْتُ عَشَرَ سَيِّدَاتٍ) (مَكَثْنَا فِي الإِسْكَنْدَرِيَّةِ أَرْبَعَةَ عَشَرَ يَومًا وَخَمْسَ عَشْرَةَ لَيلَةً)
F.     Lafaz-lafaz ‘uqud /puluhan (dari 20-90), 100, 1.000 dan kelipatannya tidak berbeda bentuknya ketika bersama ma’dud dari segi mudzakkar dan mu’annats, sama saja apakah mufrad atau murakkab atau di-’athaf-kan. Contoh: (وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيلَةً) (المُسَافِرُ مِنَ القَاهِرَةِ إِلَى الإِسْكَنْدَرِيَّةِ يَقْطَعُ حَوَالَي مِائَتَينِ وَعِشْرِينَكِيلُومِتْرًا)

31.5. TA’RIF ‘ADAD DENGAN ALIF LAM (ال)
A.     Apabila mufrad,maka (ال) dimasukkan kepada isim setelah ‘adad (yaitu mudhaf ilaih). Contoh: (جَاءَ سِتَّةُ الطَّلَبَةِ) (اُسْتُدِلَّتْ خَمْسَةُ الدِّينَارَاتِ)
B.    Apabila murakkab,maka (ال) dimasukkan kepada awalnya (yaitu bagian pertama). Contoh: (قَضَينَا الخَمْسَةَ عَشَرَ يَومًا بِالمَصِيْفِ)
C.     Apabila berupa ma’thuf dan ma’thuf alaih, maka (ال) dimasukkan kepada dua bagiannya. Contoh: (قَرَأْتُ الخَمْسَةَ وَالعِشْرِينَ كِتَابًا)

31.6. ‘ADAD TARTIBI ATAU BENTUK ‘ADAD DENGAN WAZAN (فَاعِل ) MENUNJUKKAN URUTAN (العدد الترتيبي)
Disebut juga ‘Adad Tartibi. Apabila ‘adad dibentuk dengan wazan (فَاعِل) yang menunjukkan kepada urutan, maka ‘adad mencocoki ma’dud dari segi tadzkir dan Ta’nits pada semua keadaan  dan i’rab, kecuali ‘adad dari 11-19, yaitu mabni pada kedua bagiannya. Contoh: (تُذَاعُ نَشْرَةُ الأَخْبَارِ فِي السَّاعَةِ الثَّامِنَةِ وَالنِّصْفِ) (تَرْتِيبُ هذِه الطَّالِبَةِ الثَّالِثَةُ وَالعِشْرُونَ) (يَظْهَرُ القَمَرُ بَدْرًا فِي اللَيلَةِ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ مِنَ الشَّهْرِ العَرَبِيِّ). Kaidah-kaidahnya:
A.     Mengikuti wazan Fa’il lalu ma’dud dan ‘adad harus sama dari segi mudzakkar dan mu’annats-nya.Contoh: (الرجل الأول) (المرآة الأولي) (اليوم الحادي عشر) (الليلة الحادية عشرة), seterusnya sampai angka 19.
B.    Untuk hitungan puluhan dalam kaidah tartibi harus memakai Alif Lam Ma’rifah. Contoh: (اليوم الحادي والعشرون), seterusnya sampai angka 99.

31.7. ‘ADAD KIASAN (العدد القياسي)
‘Adad Kiasan,yaitu ada beberapa kiasan yang bukan ‘adad akan tetapi menunjukkan kepada makna ‘adad. Oleh sebab itu dinamakan ‘adad kiasan. Lafaz-lafaz kiasan yang terpenting adalah: (نَيِّف – كَذَا – كَمْ (الخَبَرِيَّة) – كَمْ الأِسْتِفْهَامِيَّة – بِضْع).
A.     Lafaz (بِضْع)yaitu digunakan untuk menunjukkan kepada bilangan 3-9 dan kata ini mengambil hukum bilangan tersebut dari segi tadzkir, Ta’nits dan tamyiz. Contoh: (قَرَأْتُ بِضْعَ قَصَصٍ) = Aku membaca beberapa (3-9) kisah. Perlu diperhatikan bahwa (بِضْع) datang pada contoh  yang lewat berkebalikan dengan ma’dud karena mengikuti ‘adad dari 3-9.
B.    Lafaz (كَمْ الأِسْتِفْهَامِيَّة) yaitu untuk bertanya tentang ‘adad, membutuhkan jawaban dan tamyiz-nya mufrad manshub.. Contoh: (كَمْ مَدِينَةً شَاهَدْتَ؟) (كَمْ كِتَابًا فِي المَكْتَبَةِ؟). Boleh pula me-majrur-kan tamyiz-nya (كَمْ) apabila masuk kepadanya huruf jar. Contoh: (بِكَمْ قُرْشٍاشْتَرَيتَ هذَا الكِتَابَ)
C.     Lafaz (كَمْ الخَبَرِيَّة) yaitu memberi makna pemberitaan tentang banyaknya bilangan tanpa membutuhkan kepada jawaban dan tamyiz-nya mufrad majrur atau jamak majrur dengan meng-idhafah-kan (كَمْ) kepada isim tersebut atau dengan huruf jar (مِنْ). Contoh: (!كَمْ نُقُودٍ أَنْفَقْتَ) (!كَمْ مِنْ نُقُودٍ أَنْفَقْتَ) (!كَمْ كِتَابٍ عِنْدَكَ) (كَمْ مِنْ كِتَابٍ عِنْدَكَ)
D.    Lafaz (كَذَا) yaitu digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang banyak dan datang dalam bentuk sendirian, diulang atau di-’athaf-kan. Tamyiz-nya manshub mufrad atau jamak. Contoh: (حَضَرَ المُبَارَاةَ كَذَا مُتَفَرِّجًا - كَذَا مُتَفَرِّجِينَ -  كَذَا وَكَذَا مُتَفَرِّجِين ) = Pertandingan itu dihadiri oleh sekian penonton.
E.     Lafaz (نَيِّف) yaitu digunakan untuk menunjukkan kepada bilangan di antara dua puluhan, misalnya antara 20 dan 30, atau antara 30 dan 40, dan seterusnya. Contoh: (قَرَأْتُ نَيِّفًا وَثَلَاثِينَ قِصَّةً) = Aku membaca 30-an kisah.




PEMBAHASAN ILMU NAHWU TERLENGKAP : klik disini


Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab


The Indonesiana Center - Markaz BSI (Bait Syariah Indonesia)


##########
 
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi  Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########