Pusat Belajar Bahasa Arab - Ilmu Alat : Nahwu (Bab Kaana & Saudara-Saudaranya)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya


Materi & Soal - Nahwu, Sharaf, I'rab & TOAFL Tes Seleksi Timur Tengah



BAB 14 : KAANA & SAUDARA-SAUDARANYA (كَانَ وَأَخَوَاتُهَا)

14.1. PENGERTIAN (التعريف)
                Kaana dan saudara-saudaranya adalah suatu fi’il, di mana ketika ia masuk pada jumlah ismiyyah akan menyebabkan marfu-nya mubtada’ yang disebut sebagai isim kaana, serta manshub-nya khabar yang dinamakan khabar kaana. Dan termasuk awamil nasikhah (factor yang mempengaruhi i’rab mubtada’ & khabar).

14.2. ARTI FI’IL KAANA (معاني كان)
A.     Dapat berarti terus-menerus/istimrar. Contoh: (وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيْمًا)
B.    Dapat berarti menjadi. Contoh: (كَانَوَجْهُهُ مُسْوَدَّةً)
C.     Dapat berarti dulu. Contoh: (كَانَ عَلِيٌّ مُجْتَهِدًا)

14.3. SAUDARA-SAUDARA KAANA (كان وأخواتها)
A.     Sebagai fungsi waktu:
1.     Waktu subuh = (أَصْبَحَ). Contoh: (أَصْبَحَتِالشَّجَرَةُ مُثْمِرَةً)
2.     Waktu dhuha = (أَضْحَى). Contoh: (أَضْحَىالمُهَنْدِسُونَ مُهْتَمِّينَ بِعَمَلِهِمْ)
3.     Waktu siang = (ضَلَّ). Contoh: (ظَلَّ العَامِلُ مُكِبّاً عَلَى عَمَلهِ)
4.    Waktu sore = (أَمْسَى). Contoh: (أَمسَتِالسَّمَاءُ مُمْتِرَةً)
5.     Waktu malam = (بَاتَ). Contoh: (بَاتَالْوَلَدُ نَائِمًا)
B.    Sebagai fungi untuk meniadakan. Bukan/tidak = (لَيْسَ). Contoh: (لَيْسَ النَّجَاحُ سَهْلاً)
C.     Sebagai fungsi perubahan. Menjadi = (صَارَ). Contoh: (صَارَ مُحَمَّدٌ شَابًّا)
D.    Sebagai fungsi terus-menerus/senantiasa:
1.     (مَابَرِحَ).Contoh: (مَا بَرِحَ الصَّاروخَانُ مُنطَلِقِينَ إِلَى القَمَرِ)
2.     (مَانْفَكَّ).Contoh: (مَا انْفَكَّ الطِّفْلُ يَبْكِي)
3.     (مَافَتِئَ). Contoh: (مَافَتِئَ الطِّفْلُ نَائِماً)
4.    (مَازَالَ). Contoh: (مَازَالَ الْسَارِقُ مُكَدِّرًا)
E.     Sebagai fungsi jeda waktu. Selama = (مَادَامَ).Contoh: (لاَ تَخْرُجْ مَادَامَالْيَوْمُ مُمْطِرًا)

14.4. PENGELOMPOKAN KAANA & SAUDARA-SAUDARANYA (تقسيم كان وأخواتها)
A.     Dilihat dari sisi pen-tashrif-nya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.     Yang bisa di-tashrif secara sempurna, yaitu (كَانَ - ظَلَّ - بَاتَ - أَضْحَى - أَصْبَحَ - أَمْسَى - صَارَ)
2.     Yang tidak bisa di-tashrif secara tidak sempurna, hanya bisa di-tashrif menjadi madhi dan mudhari’ saja, tidak terdapat amr-nya, yaitu (زَالَ - بَرِحَ - فَتِئَ - اِنْفَكَّ)
3.     Yang tidak menerima tashrif, yaitu (لَيْسَ - دَامَ)
B.    Dilihat dari sisi beramalnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1.     Bisa beramal dengan tanpa adanya syarat khusus, yaitu (كَانَ - ظَلَّ - بَاتَ - أَضْحَى - أَصْبَحَ - أَمْسَى - صَارَ - لَيْسَ)
2.     Bisa beramal dengan syarat khusus, yaitu (زَالَ - بَرِحَ - فَتِئَ - اِنْفَكَّ) bisa beramal hendaknya fi’il tersebut harus didahului dengan nafi, nahi atau doa, baik secara lafaz atau perkiraan.

14.5. KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN KAANA (مييزات كان من أخواتها)
A.     Kaana dapat diberlakukan sebagai zaidah, dengan dua syarat:
1.     Berbentuk fi’il madhi
2.     Berada di antara dua hal yang saling bergantung satu sama lain, seperti: fi’il dan Fa’il, shilah dan maushul, sifah dan maushuf-nya, huruf (ما) dan fi’il Ta’ajub, mubtada’ & khabar.Dan banyak berlaku, beserta dapat di-Qiyas-kan (dapat diberlakukan sebagai patokan) adalah ketika terletak di antara huruf (ما) dan fi’il Ta’ajjub. Dan selain itu diperbolehkan hanya atas dasar Sima’i. Contoh: (مَا كَانَ أَصَحُّ عِلْمٍ مَنْ تَقَدَّمَ) artinya “Alangkah benarnya ilmu orang-orang yang terdahulu”.
B.    Terkadang kaana dan isim-nya dibuang, dan yang banyak terjadi jika jatuh setelah huruf (إِنْ الشَّرْطِيَّة) dan (لَوْ الشَّرْطِيَّة).Contoh: (النَّاسُ مَجْزِيُّوْنَ بِأَعْمَالِهِمْ، وَإِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ) bentuk asalnya (إِنْ كَانَ عَمَلُهُمْ خَيْرًا فَجَزَاؤُهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ كَانَ عَمَلُهُمْ شَرًّا فَجَزَاؤُهُمْ شَرٌّ). Contohnya lagi: (اِلْتَمَسَ وَلَوْ خَاتِمًا مِنْ حَدِيْدٍ) bentuk asalnya (وَلَوْ كَانَ مَاتَلْتَمِسُهُ خَاتِمًا مِنْ حَدِيْدٍ).
C.     Terkadang kaana dibuang tidak besertaan dengan isim dan khabar-nya, dan setelah itu diganti dengan (مَا الزَّائِدَة), yaitu ketika jatuh setelah (أَنْ المَصْدَرِيَّة). Contoh: (أَمَّا أَنْتَ بَرًّا فَاقْتَرِبْ) artinya “Kamu adalah orang baik, maka mendekatlah”. Bentuk asalnya adalah (إِنْ كُنْتَ بَرًّا فَاقْتَرِبْ).
D.    Diperbolehkan membuang huruf nun pada bentuk mudhari’-nya kaana yang dibaca jazm.Contoh: (لَمْ أَكُ بَغِيَّا) artinya “Dan aku bukan (pula) seorang pezina”. Dalam hal ini Imam Sibawaih memperbolehkan pembuangan nun jika memang setelahnya tidak berupa huruf mati atau dhamir muttashil. Maka tidak boleh mengucapkan (لَمْ يَكُ الرَّجُل) dan (لَمْ يَكُهُ)

14.6. KETENTUAN-KETENTUAN KAANA & SAUDARA-SAUDARANYA (ضوابط كان وأخواتها)
A.     Khusus fi’il (لَيْسَ) hanya fi’il madhi-nya saja yang diberlakukan.Tashrif-nya tidak digunakan.
B.    Khusus fi’il (دَامَ - زَالَ - فَتِئَ - بَرِحَ - اِنْفَكَّ) wajib didahului oleh huruf-huruf nafyi seperti (لَا - مَا - لَمْ).Jadi, jika tidak didahului huruf nafyi, kelima fi’il tersebut tidak berfungsi me-nashab-kan khabar.
C.     Fi’il (دَامَ) bisa beramal hendaklah didahului oleh (مَا المَصْدَرِيَّة الظَرْفِيَّة). (مَا) di sini dinamakan mashdariyyah karena dia menjadikan lafaz setelahnya menjadi mashdar, dan dinamakan dzarfiyyah karena olehnya dia menggantikan dari dzaraf.
D.    Perlu diketahui bahwa hukum taqdim (mendahulukan) dan Ta’khir (mengakhirkan)isim dan khabar di sini diberlakukan seperti halnya hukum taqdim dan Ta’khir pada mubtada’ dan khabar karena asalnya adalah berupa mubtada’ dan khabar. Hukum-hukum pada isim dan khabar Kaana antara lain:
1.     Wajib mendahulukan khabar jika pada isim-nya terdapat dhamir yang kembali pada khabar.Contoh: (كَانَ فِي الدَّارِ صَاحِبُهَا)
2.     Diperbolehkan mendahulukan khabar atas (دَامَ) semata, tidak (مَا) yang bersambung dengannya.Contoh: (لا أصاحبك ما قائما دام زيد)
3.     Khabar diperbolehkan mendahului (زَالَ) dan saudara-saudaranya semata, tidak (مَا النَّفْيُ) yang bersambung dengannya, hal ini dikarenakan khabar tidak diperbolehkan mendahului (مَا النَّفْيُ).Contoh: (مَا قَائِمًا زَالَ زَيْدٌ). Apabila nafi yang dipakai selain (مَا), maka diperbolehkan mendahului atasnya, contoh: (قَائِمًا لَمْ يَكُنْ عُمَرُ)
4.    Diperbolehkan mendahulukan khabar atas isim dan fi’il (kaana dan saudara-saudaranya), kecuali khabar-nya.Contoh: (عَالمِاً كَانَ مُحَمَّدٌ)



PEMBAHASAN ILMU NAHWU TERLENGKAP : klik disini


Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab


The Indonesiana Center - Markaz BSI (Bait Syariah Indonesia)


##########
 
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi  Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########