Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Wahyu Hestya
BAB 28 : AL-MAF’UL BIH (المفعول به)
28.1. PENGERTIAN AL-MAF’UL BIH (تعريف المفعول به)
Maf’ul bih adalah isim manshub yang menunjukkan kepada orang orang yang ditimpakan pekerjaan pelaku kepadanya dan bentuk pekerjaan tidak berubah karena adanya maf’ul.
28.2. PEMBAGIAN AL-MAF’UL BIH BERDASARKAN BENTUK KATANYA (أقسام المفعول به)
A. Isim Mu’rab (الاسم المعرب). Maf’ul bih berupa isim mu’rab apabila isim yang menjadi maf’ul berubah irab-nya ketika dimasuki amil yang berbeda. Contoh: (ضَرَبَ عَلِيٌّ كَلْبًا) (يَقْرَأُ مُحَمَّدُ الْقُرْآنًا)
B. Isim Mabni (الاسم المبني).Maf’ul bih juga bisa berupa isim mabni seperti isim dhamir, isim isyarah dan isim maushul.
1. Maf’ul bih yang terdiri dari isim dhamir (kata ganti)terbagi menjadi dua, yaitu:
i. Dhamir Muttashil. Maf’ul Bih Dhamir Muttashil ada dua belas, yaitu: (ضَرَبَنِيْ – ضَرَبَنَا – ضَرَبَكَ – ضَرَبَكِ – ضَرَبَكُمَا – ضَرَبَكُمْ – ضَرَبَكُنَّ – ضَرَبَهُ - ضَرَبَهَا – ضَرَبَهُمَا – ضَرَبَهُمْ - ضَرَبَهُنَّ)
ii. Dhamir Munfashil. Maf’ul Bih Dhamir Munfashil ada dua belas, yaitu: (إِيَّايَ – إِيَّانَا – إِيَّاكَ – إِيَّاكِ – إِيَّاكُمَا – إِيَّاكُمْ – إِيَّاكُنَّ – إِيَّاهُ – إِيَّاها – إِيَّاهما – إِيَّاهُمْ - إِيَّاهُنَّ)
2. Berupa isim isyarah. Contoh: (اِشْتَرَيْتُ هَذَا الْكِتَابَ)
3. Berupa isim maushul. Contoh: (شَاهَدْتُ اَّلذِيْنَ يَنْجَحُوْنَ فِي اْلِامْتِحَانِ)
C. Mashdar Muawwal (المصدر المؤول). Maf’ul bih yang berupa mashdar muawaal bisa terdiri dari (أَنْ) dan fi’il atau (أَنَّ) dengan isim serta khabar-nya. Contoh: (أَمَرَ اللهُ عَلَيْكَ أَنْ تَشْهَدَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ). Mashdar Muawwal (أَنْ) dan (تَشْهَدَ) merupakan maf’ul bih dari fi’il (أَمَرَ). Sedangkan kata (أَنَّ) dengan isim serta khabar-nya merupakan maf’ul dari fi’il (تَشْهَدَ).
28.3. KAIDAH PENEMPATAN AL-MAF’UL BIH (قواعد مواضع المفعول به)
A. Posisi standar dalam bahasa Arab adalah fi’il, Fa’il dan Maf’ul. Contoh: (يَفْتَحُ أَحْمَدُ الْأَبْوَابَ) (سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّهِ)
B. Boleh mendahulukan maf’ul:
1. Sebelum Fa’il apabila maf’ul dan Fa’il-nya berupa isim zhahir.Contoh: (يَجْنِي القُطْنَالفَلَّاحُ)
2. Sebelum fi’il dan Fa’il apabila maf’ul-nya berupa isim zhahir.Contoh: (فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ)
C. Wajib mengakhirkan maf’ul bih dan mendahulukan Fa’il dalam keadaan:
1. Ketika maf’ul-nya berupa isim dhamir muttashil.Contoh: (أَمَرْتُكَ)
2. Ketika Fa’il dan maf’ul bih keduanya di-idhafah-kan kepada Ya Mutakallim.Contoh: (ضَرَبَ أَخِي صَدِيْقِي)
3. Ketika Fa’il dan maf’ul bih terdiri dari isim isyarah.Contoh: (ضَرَبَ هَذَا هَذَا)
4. Ketika Fa’il dan maf’ul bih terdiri dari isim maushul.Contoh: (ضَرَبَ الَّذِي جَاءَ)
5. Ketika ditakutkan ada kesalahan paham apabila di dahulukan.Contoh: (أَكْرَمَتْ عَائِشَة فَاطِمَة). Kalau maf’ul-nya didahulukan maka akan ada yang menyangka bahwa maf’ul-nya adalah yang terakhir.
D. Wajib mendahulukan maf’ul bih dan mengakhirkan Fa’il
1. Wajib mendahulukan maf’ul bih sebelum fi’il dan Fa’il apabila maf’ul-nya berupa isim dhamir munfashil. Contoh: (إِيَّاكَنَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ)
2. Ketika Fa’il dibatasi dengan perangkat hasyr (إِنَّمَا) atau (إِلَّا).Contoh: (إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءُ) (مَا فَهِمَ الدَرْسَ الأَوَّلُ إِلَّا الطَالِبُ)
3. Ketika Fa’il disertai dhamir yang kembali kepada maf’ul bih.Contoh: (ذَاكَرَ الدَرْسَ قَارِئُهُ)
4. Ketika maf’il bih berupa isim dhamir dan Fa’il berupa isim dzahir.Contoh: (ضَرَبَنِي خَالِدٌ)
E. Wajib mendahulukan fi’il dan mengakhirkan maf’ul bih:
1. Ketika maf’ul bih dibatasi dengan perangkat hasyr (إِنَّمَا) atau (إِلَّا). Contoh: (إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءُ) (مَا فَهِمَ الدَرْسَ الأَوَّلُ إِلَّا الطَالِبُ)
2. Ketika maf’ul bih berbentuk mashdar Muawwal. Contoh: (عَرَفْتُ أَنَّكَ تُسَاعِدُنِي)
3. Ketika fi’il berbentuk jamid (tidak memiliki tashrif madhi, mudhari dan amar). Contoh: (مَا أَجْمَلَ المَسَاءَ)
4. Ketika fi’il didahului lam ibtida’ (لام الابتداء). Contoh: (لَأَضْرِبَ خَالِدًا)
5. Ketika fi’il berada diposisi jawab qasam. Contoh: (وَاللهِ لَأَفْهَمَنَّ الدَرْسَ)
F. Wajib mendahulukan maf’ul bih dan mengakhirkan fi’il-nya:
1. Ketika maf’ul bih berupa dhamir munfashil. Contoh: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ)
2. Ketika maf’ul bih berupa isim yang dia memiliki hak untuk disimpan di awal kalimat, seperti isim istifham, isim syarat, isim (كم الخبرية). Contoh: (مَنْ رَأَيْتَ؟) (كَمْ رُوْبِيَّة أَنْفَقْتَ؟)
3. Ketika maf’ul bih berada di antara huruf syarat (أَمَّا) dan (الفَاء رابطة).Contoh: (فَأَمَّا اليَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْ)
G. Amil maf’ul bih boleh dibuang apabila:
1. Ketika menjawab sebuah pertanyaan. Contoh: (خَالِدٌ: مَنْ ضَرَبْتَ يَا عُمَرُ؟ - عُمَرُ: زَيْدًا) taqdir-nya adalah (ضَرَبْتُ زَيْدًا)
2. Ketika amil tersebut sudah disebutkan diawal dan tidak ingin diulangi karena sudah cukup dipahami. Contoh: (مَا ذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوْا خَيْرًا) taqdir-nya adalah (أنزل خيرا)
3. Ketika posisi maf’ul bih didahulukan. Contoh: (الكِتَابَ قَرَأْتُهُ) taqdir-nya adalah (قرأت الكتاب قرأته)
4. Ketika ikhtishas (الاختصاص). Contoh: (نَحْنُ المُسْلِمِيْنَ نُؤْمِنُ بِاللهِ وَحْدَهُ) taqdir-nya adalah (أخص)
5. Sima’i dari orang Arab. Contoh: (أَهْلًا وَسَهْلًا وَمَرْحَبًا) taqdir-nya adalah (جئت أهلا) (وطبت سهلا) (لقيت مرحبا) meskipun ada yang mengatakan bahwa lafaz itu adalah maf’ul muthlaq.
H. Maf’ul Bih boleh dibuang dalam keadaan:
1. Dari segi lafaz
i. Menyesuaikan struktur kalimat supaya seiring dan seirama dengan kalimat sebelumnya.Contoh: (مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى) taqdir-nya adalah (مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَاكَ)
ii. Meringkas.Contoh: (أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تَزْعُمُوْنَ) taqdir-nya adalah (تَزْعُمُوْنَهُمْ شُرَكَاء)
2. Dari segi makna
i. Untuk merendahkan/menghinakan (للاحتقار).Contoh: (كَتَبَ اللهُ لَأَغْلَبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ) taqdir-nya adalah (لَأَغْلَبَنَّ الكُفَّار)
ii. Untuk menutupi yang tidak layak disebutkan (للاستهجان).Contoh: (قول عائشة رضي الله عنها: ما رأى مني ولا رأيت منه)
I. Maf’ul Bih tidak boleh dibuang dalam keadaan:
1. Ketika Maf’ul Bih menjadi objek yang ditanyakan.Contoh: (السؤال: كم روبية أنفقت؟ - الجواب: روبية وحدة)
2. Ketika maf’ul bih dibatasi dengan perangkat hasyr (إنما) dan (إلا) karena merupakan target dari pada kedua perangkat tersebut. Contoh: إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءُ) (مَا فَهِمَ الدَرْسَ الأَوَّلُ إِلَّا الطَالِبُ)
3. Ketika maf’ul bih dijadikan muta’ajib minhu (المفعول المتعجب منه). Contoh: (مَا أَجْمَلَ المَسَاءَ)
4. Ketika maf’ul bih menjadi objek bagi fi’il yang muta’addi kepada dua maf’ul bih. Kedua maf’ul bih ini tidak boleh dibuang karena untuk menyempurnakan fungsi daripada amil-nya dalam susunan kalimat. Contoh: (مَنَحْتُ الصَدِيْقَ الوَفَاءَ)
5. Ketika maf’ul bih dikhususkan.
28.4. TANDA I’RAB MAF’UL BIH (علامات إعراب المفعول به)
A. Maf’ul adalah isim manshub. Artinya irab dari maf’ul adalah nashab. Tanda nashab pada maf’ul adalah fathah, alif, kasrah dan ya’. Tanda irab ini hanya berlaku pada isim mu’rab saja.
1. FATHAH
i. Isim Mufrad.Contoh: (ضَرَبَ خَلِيْلٌ كَلْبًا)
ii. Jamak Taksir.Contoh: (كَتَبَ الْمُدَرِّسُ النُّصُوْصَ)
iii. Fathah Muqaddarah. Contoh: (رَأَيْتُ الفَتَى بَاكِيًا)
2. ALIF. Menjadi tanda nashab pada maf’ul apabila maf’ul-nya berbentuk al-asma’ al-Khamsah (isim lima). Contoh: (رَأَيْتُ أَبَاكَ)
3. KASRAH. Mnjadi tanda nashab pada maf’ul apabila berbentuknya jamak muanats salim. Contoh: (رَاَيْتُ الطَّالِبَاتِ)
4. YA’
i. Isim Tatsniyah. Contoh: (ضَرَبَتْ سَلْمَى قِطَّيْنِ)
ii. Jamak Mudzakkar Salim. Contoh: (رَأَيْتُ الْمُسْلِمِيْنَ)
B. Apabila maf’ul berupa isim mabni, tanda i’rab-nya tidak berubah. Akan tetapi i’rab-nya sesuai dengan posisinya pada kalimat.Contoh: (اِشْتَرَيْتُ هَذَاالْكِتَابَ) (أشَاهَدْتُ اَّلذِيْنَيَنْجَحُوْنَ فِي اْلِامْتِحَانِ)
28.5. KETENTUAN-KETENTUAN LAINNYA (الضوابط الأخرى)
A. Manshub-nya maf’ul bih di-nashab-kan oleh amil-nya. Di antara pendapat-pendapatnya:
1. Pendapat Hisyam Adh-Dharir, amil yang membuat nashab maf’ul bih adalah Fa’il.
2. Pendapat Al-Farra’,amil yang membuat nashab maf’ul bih adalah Fi’il dan Fa’il-nya.
3. Pendapat Sibawaeh dan Jumhur, amil yang membuat nashab maf’ul bih adalah Fi’il.
B. Boleh satu amil memiliki dua atau tiga maf’ul bih, tergantung fi’il muta’addi-nya.
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
BIMBINGAN MASUK UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Lebanon / Lebanon - Maroko / Maroko - Mesir / Mesir- Pakistan / Pakistan - Sudan / Sudan - Qatar / Qatar - Saudia Arabia / Arab Saudi Tunisia / Tunisia - Suriah - Yaman / Yaman - Turki - Yordania / Yordania BIMBINGAN BELAJAR MASUK GONTOR : Putra - Putri CONTOH SOAL TES SELEKSI UNIVERSITAS TIMUR TENGAH : Tahun 2010 - Tahun 2011 - Tahun 2012 - Tahun 2014 - Tahun 2015 - Tahun 2016 - Tahun 2017 BELAJAR ILMU KEISLAMAN : Rumah Tahfidz - Ilmu Keislaman - Kursus Bahasa Arab PINTAR TOAFL : Panduan (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Sima'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Qira'ah (1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8) Tarakib (1 / 2 / 3 / 4 / 5) Kitabah (1 / 2 / 3) Kunci Jawaban (1 / 2 / 3 / 4) KAMUS BAHASA ARAB : Idiom (1) BAB KEILMUAN ISLAM : Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq
##########

